Showing posts with label Surat. Show all posts
Showing posts with label Surat. Show all posts

Wednesday, May 27, 2015

Dear Huda, Maafkan Si Pelupa Ini. :(


really miss you now!

"Kumulai langkahku dengan 
dengan Bismillahirrahmaanirrahiim. 
Hidup dan Jihad yang senantiasa diperjuangkan."

_Nurul Huda HS

*

Berapa kali semenjak balik dari Makassar -menetap di rumah, saya selalu melihat buku Kumpulan Doa tergeletak di atas rak pink. Setiap sore, atau di beberapa kesempatan mama selalu membacanya. Saya hanya sekedar melihatnya, "Hoh, Mama beli buku kumpulan doa. Tawwa!" pikirku tanpa pernah ikut membacanya. Miris kan?

Tapi, bukan itu pointnya, ada yang lebih miris lagi -_- Tepatnya pada Senin yang lalu, saya melihat buku Kumpulan Doa ini ada di kosan. "Loh, kok ada di sini yah?" Saya heran, karena merasa tak pernah membawanya. Setelah dipikir-pikir, barulah saya sadar kalau bapak yang bawa ke sini saat mengantar saya. Jadi, ini ketinggalan.

Deh coretannya Azka -_-

Saya pun membukanya, di lembar pertama saya dikagetkan dengan adanya tulisan Huda (kalau coretannya mah kerjaan si Azka) "Loh loh kok ada tulisan tangannya Huda? Ini ada namanya Huda, jangan-jangan ini bukunya? Saya yang minjem trus lupa balikin atau bagaimana?" Begitulah yang terjadi, saya kebingungan sendiri. Mencoba mengingat-ngingat, nasib menjadi pelupa akhirnya membuat saya pusing pala barbie. -_-'


Aku ingatttt.... itu tulisanku!

Kebingungan saya terjawab, di lembar terakhir, di pojok kiri atas tertulis "From my best friend..." seperti menemukan kunci pagar yang hilang, saya bersorak bahagia. "Arghhhhhhhhh Gotcha! Hudaaaa..." Iya, benar... ini bukan buku yang saya curi (alamak) atau pinjam dan lupa dikembalikan. Buku Kumpulan Doa ini adalah pemberian Huda. :')

Iis Baka! Ckckck sekian tahun lamanya buku ini ada di rumah, dan saya tak menyadari kalau itu adalah pemberian seseorang yang sangat berjasa dalam hidup saya selama berpesantren. -_- Tetiba, rasa sesal menggerogoti. :( 

Tentang Huda...

Nurul Huda HS, atau biasa dipanggil Huda, adalah salah satu teman pertama yang saya kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di asrama pesantren. Saat saya masuk dengan titel 'santri dari Jakarta yang tidak tahu apa-apa', Huda seperti tour guide yang dengan sabarnya menuntun saya. Terutama tentang pelajaran "WHAT IS THAT?!" -_- Karena Huda baik, pinter, kalem, lembut, keibuan, gak suka marah-marah, eh pokoknya nyaman banget kalau dekat dia, kami jadi dekat. Ustadzah2 juga kayaknya menjodohkan alias merekomendasikan (halahh) saya untuk dekat dengan Huda, supaya ketuleran solehah kali yakk, kan aku masih nol besar agamanya. :(

Alhamdulillah, beberapa tahun kemudian... saya kena 'sedikit' baik-baiknya Huda. Ayee... Emang benar nasihat yang pernah saya dengar, kalau berteman dengan pandai besi akan kena panasnya, kalau berteman dengan penjual minyak wangi kena harumnya. (redaksi katanya y asli saya lupa hehe) Jadi, mari berteman dengan penjual es krim! :D

waalaikumusslam little Aisyah :))

Huda udah nikah. Saya belum (gak pentingnyami). Anaknya tiga, dan anak bungsunya dia beri nama seperti nama saya AISYAH. Yeahh... ahahaha Semoga solehah seperti umminya, jangan seperti amma Iis yang seperti ini. (apa bedeng) :3

Bismillah... moka hafal iniiii :)

Huda, terima kasih yah atas pemberianmu ini. Maaf, saya lupa, itu artinya saya gak pernah baca buku Kumpulan Doa pemberianmu toh. Jahatku. -_- Bahkan sampai hari ini saya lupa juga kapan tepatnya kamu menghadiahi saya buku yang sangat bermanfaat ini (untuk mama saya terutama).

Sejak malam itu, saya selalu membuka dan membaca buku ini. Saya bertekad menghafal beberapa doa, salah satunya adalah Doa Mohon Diperbaiki Urusan Dunia dan Akhirat. Masya Allah sekali doa ini, :') saat membacanya hati saya langsung bergetar. Agak merinding juga saat membaca artinya :') Huaahhhh Huda, terima kasihhh lagiiii.... :')

Rasulullah pernah berpesan, saling memberi hadiahlah kalian. Ada apa dengan hadiah? Sebenarnya, subtansinya bukan pada hadiahnya, tapi 'saling memberi' yang menciptakan ikatan ukhuwah (kebersamaan). Itulah yang saya rasakan. "Hoh, ada seseorang yang memberikan saya buku kumpulan doa, itu artinya dia ingin saya senantiasa membaca doa, menghafalnya, agar terjaga dari marabahaya dan terus mengingatNYA." :')

Terima kasih, Huda. Semoga ada kesempatan, untuk dipertemukan lagi yah. Dan pertemanan kita tak lekang oleh waktu dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Miss you. Wish you happy and May Allah blessing your family always and forever. Allahu yubarikum. :')

Ckrg, 27 Mei 2015

Tuesday, April 21, 2015

Aku Ingin Seperti Kamu


Dear, Kak Uchy...

Ini ada tulisan lamaku. Beberapa bulan yang lalu saya nulis ini di tumblrku. Kayaknya perluka untuk share, supaya sama-sama tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri tiap-tiap orang. Seperti halnya pernyataanta di wallku, sesungguhnya begitulah inginku. Menjadi bisa seperti orang yang kukagumi. (Tenang kak, begitu juga kok diriku) Dan itu melelahkan...pfftt. 

Disadari atau tidak, antara manusia satu dengan yang lain, terhubung keinginan-keinginan untuk memiliki (setidaknya) salah satu kehebatan yang ada pada mereka. Jadi kesimpulannya, setiap manusia itu memiliki KEHEBATAN masing-masing. Sayangnya, hal ini seringkali tak disadari atau buruknya, tak kita percayai. Barangkali luput dari pandangannya sendiri, karena terlalu sibuk membaca kehebatan orang lain. Makanya, kita perlu saling mengingatkan, agar potensi dalam diri tak teracuhkan kodong. :D (berasa jadi Iis Teguh brrrr) :D

So Kak Uchy, you are great just the way you are. But deeply, thanks for all. I miss you kk :*

Bacaki nah.... :D

*

AKU INGIN SEPERTI KAMU


Terkadang aku menyesali diriku yang tak bisa membaur dalam keramaian. Selalu kucari jalan untuk melarikan diri, bersembunyi di duniaku yang sepi. Walau sejatinya, pikiranku lebih ribut dari suara-suara di dunia nyata.

Terkadang aku merasa iri, orang-orang dengan mudah memulai percakapan. Dari hal kecil hingga tema pembicaraan yang berat sekalipun. Lalu yang kudapati pada diriku, selalu kelu dan memilih disapa lebih dulu.

Terkadang aku ingin menjadi orang lain saja, merasakan hal-hal yang tak pernah bisa kulakukan saat menjadi diri sendiri. Keinginan ini seperti tak ada hentinya, meski kutahu itu takkan pernah terjadi.

Di saat aku menghitung-hitung inginku, pada waktu yang bersamaan orang-orang menyampaikan keinginannya. “Aku ingin bisa seperti kamu.”

Aku yang tenang, pendiam namun menyimpan banyak kisah saat bercerita, aku yang rajin menulis, aku yang… (aku tak percaya mereka seperti me-list kelebihanku yang tak kusadari)

Di saat aku mencemburui kehidupan mereka, ternyata yang terjadi seperti cermin, mereka mencemburuiku!
Jadi, seperti ini kah hidup? Perlu sepasang mata lain untuk melihat kelebihan yang ada pada diri sendiri? Atau lebih baik, sebaiknya kita mengasah mata hati kita untuk melihat jauh ke dalam diri sendiri, segala kelebihan yang dimiliki. Lalu mensyukurinya.
Jakarta, 26 02 15.

Saturday, April 18, 2015

Surat Balasan Dari, An. :')



TEMPAT INI MASIH RAHASIA
Oleh: An

Dear Kak Autumn…
Maaf baru tahu bahwa Kakak menulis surat di hari ulang tahun adek. Meski sama seperti Kakak, adek juga diam diam suka sekali menjadi penggemar Kak Autumn. Membaca Twitter Kakak, status di fb tapi di blog. Adek sering lupa, karena sosial media ternyata lebih sering adek kunjungi daripada blog.
Ada bahagia yang tiba tiba hadir dan rasa haru. Adek selalu suka mendapat surat, lebih suka dari semua hadiah lain yang adek terima. Boleh jujur? Adek sambil menangis menulis ini. Kakak pasti pernah merasakan, saat kita jauh dari keluarga dan ada yang mengingat kita. Membuat kita merasa tidak sendiri, terima kasih banyak :)
Beberapa hari yang lalu, grup menulis tempat kita pertama bertemu dibuka kembali. Apa Kakak tahu, bahwa grup itu sempat begitu lama mati suri. Adek sendiri sudah cukup lama tidak ke sana. Baru ketika dibuka kembali, adek teringat bukankah kita dipertemukan di grup itu. Adek rindu Kakak.
Untuk tanggal kita bertemu, hahaha kita punya kesamaan. Adek pelupa tanggal, tapi pengingat kenangan. Adek sering lupa hari hari istimewa orang di sekitar adek. Tapi selalu ingat seperti apa dan bagaimana mereka menjadi sebagian hidup adek.
Dan Kakak, entah untuk alasan apa. Adek selalu merasa dekat. Ada ingin agar untuk waktu lebih lama, kita tetap memiliki kedekatan ini. Tetap berbagi, meski hanya dengan tulisan dan doa doa.
Meski adek bagikan, pada akhirnya tempat ini masih saja rahasia. Karena toh, adek bisa merasa begitu nyaman berbagi banyak hal di sini. Adek masih selalu merasa bahwa hanya Kakaklah yang tahu tempat ini, entah jika tanpa komentar. Beberapa orang membaca tulisan, eh celoteh adek diam diam :D
Autumn, musim gugur selalu manis. Ada daun daun yang jatuh, ada panas yang menjadi sejuk. Musim, seakan baik sekali. Karena tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Adek harap Kakak bisa menikmatinya kelak dan semoga dengan seseorang yang sangat istimewa. Agar musim yang baik, menjadi lebih baik.
Kakak selalu manis pada hidup, meski di satu titik adek merasa Kakak rapuh. Tapi Kakak selalu ingin kembali baik baik saja. Teruslah jadi yang selalu tabah, seperti langit. Mampu menjaga bintang bintang tetap di atas. Tapi juga dengan rela hati melepaskan hujan.
Ah iya, adek suka menulis surat dengan cara kuno. Sejak kecil, adek bermimpi dan berharap sekali adek punya sahabat pena. Meski akhirnya sampai sedewasa ini, sampai zaman berubah, sampai surat cukup diketik. Adek baru sempat mendapatkan sekali, itupun tidak lama. Di sini, masih ada tukang pos, adek selalu senang melihat mereka membahagikan surat ke kotak kotak yang tersedia.
Semoga Kakak juga selalu bahagia, mau tersenyum bersama adek untuk lebih lama. :)
*
Terima kasih, :') kita akan tetap tersenyum meski sesekali menangis. :')

Baca suratku untuknya di sini. :)

Monday, April 6, 2015

Kepada Seorang Perempuan Muda yang Kuat


Untuk UA,

Benarlah kita tak sedarah, berjumpa sesekali, bukan pula teman yang akrab mengisi harihari. Kalau aku datang begitu saja dan menggenggam tanganmu, pastilah kamu kaget dan tak mengerti. Kalau aku mengirim pesan atau meneleponmu saat ini, pastilah kamu terkejut dan tak percaya. Kenapa aku tetiba ada mengantri di pintu hatimu untuk masuk, sebagai seorang kakak mungkin.

Di suatu malam setelah membaca buku The Palace of Illusions, aku menemukan banyak pertanyaan berserakan tentang hidup, --terutama mengenai perempuan. Salah satunya adalah, mengapa perempuan selalu diidentikkan dengan kelemahan? Bahkan dalam buku itu disebutkan, perempuan tidak akan pernah bisa menghabiskan semua air mata dalam hidupnya. Apakah akan selalu ada peristiwa yang membuat mata perempuan menangis?

Sebagai seorang anak, maka ibu adalah teman perempuan pertama yang kutemukan. Selama beberapa tahun bersamanya, aku tak pernah melihat ia menangis di hadapanku. Mungkin saja pernah, tetapi tak sesering ia tersenyum hingga dengan mudah aku melupakannya. Mungkin pernah, saat tak ada orang di sekitarnya dan hanya di hadapan Tuhannya. Jadi kupikir, di mana letak kelemahannya? 

Kamu mungkin bertanyatanya apa maksud ceritaku yang sepenggal saja, entahlah... aku hanya ingin mengajakmu melihat bersama sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Tanpa menggurui, --tanpa tedensi apapun selain aku memang ingin bercerita.

Ada yang salah kumaknai, kupikir menangis adalah tanda kelemahan. Perempuan yang menangis adalah perempuan yang lemah. Aku mengaku salah. Namun, sudut pandang lain yang kucoba percayai adalah: perempuan ditakdirkan untuk kuat. Tak peduli seberapa banyak persedian kantung air mata yang dimiliki, perempuan harus kuat. Tak peduli berapa masalah datang dan pergi, perempuan harus kuat. Tapi kenapa? Mengurai jawabannya sama saja menceritakan kehidupan seluruhnya. Bukankah perempuan madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak manusia? Bukankah perempuan tempat bermukimnya syurga untuk anak manusia? Seperti kekuatan Khadijah untuk menjadi tempat bersandar Rasulullah, kekuatan Maryam untuk menjaga kehormatannya, kekuatan Asiyah menyelamatkan imannya, seperti kekuatan Aisyah atas fitnah yang menerpa dirinya, serta masih banyak lagi perempuanperempuan kuat yang dijamin syurga.

Hari ini, hati perempuanku mengetuk-ngetuk minta bertemu denganmu. Minimal seperti ini, menulis dan menjumpai dalam rangkaian kata. Sebab terbentangnya jarak, pula ketidaksanggupanku untuk menjadi kakak meski dalam dunia maya. Bahwa, aku kini bercermin dalam kisah hidupmu: tentang seorang perempuan muda yang kuat. Refleksi hidup yang tengah kamu jalani, pecah berurai menjadi potonganpotongan hikmah yang aku, --para perempuan lain mestilah memungut dan mempelajarinya.

Aku tahu ini tak berarti apaapa, sebab aku hanya melihat kulit luar dari ujian yang menimpamu, selebihnya hanya kamu, orang terdekat dan Tuhan yang tahu. Oleh itu, sudah kukatakan sebelumnya, kutulis ini sebagai jalan untuk menjumpa. Tak ada tedensi apapun. Kalau pun (boleh) ada, aku ingin kamu menerima rasa terima kasihku untuk ketegaran, kekuatan, dan senyum yang selalu kamu tampakkan. Semoga.

Salam untuk si kecil, dia akan baikbaik saja, Insya Allah. Bukankah dia dikelilingi perempuanperempuan kuat? Allahumma aamiin. :')


Jakarta, 060415

Sunday, April 5, 2015

Sebuah Janji yang Ditunaikan


Terima Kasih

Ada janji buku ku. Minta alamat yang bisa dikirimi kak. :D

Singkat saja pesan wa dari Dirga, tertanggal 1 Februari 2015. Setelah mengingat kembali janji buku apa, saya mengirimkan alamat kampus adik saya, Asiah. Takut saja kalau alamat rumah, bukunya tak sampai dengan selamat. Hahaha.

Kak sudah kukirim kemarin jumat. Mungkin sampai minggu depan.

Datang lagi pesannya pada 15 Maret 2015. Hoh, ternyata beneran toh. Begitulah pikirku, bukannya tak memercayai janjinya, tapi aneh saja bagiku. Seseorang masih mengingat janji lamanya sedang yang dijanjikan sudah lupa, dan saat itu tak menganggapnya serius.


*

Ceritanya sudah lama sekali, 10 Maret tahun lalu saya memosting sebuah puisi Toety Heraty yang berjudul Ke Pelabuhan. Ternyata madam Toety adalah salah satu penyair wanita favorit Dirga seperti pernyataannya di komen. Kemudian dia menjanjikan buku Nostalgi Trendensi ke saya, kalau ketemu. Kapan-kapan, katanya. Saya kunci janjinya. Walau akhirnya saya lupa juga, toh, seperti yang saya bilang saya tak terlalu serius menanggapinya.

Bila dihitung-hitung kedatangan buku itu di tangan saya, maka lepas setahun sudah akhirnya janji ditunaikan. Dirga tidak pernah menyebutkan tepatnya dia akan memberikan saya buku itu, jadi kapan-kapan bisa menjadi kapan saja. Toh kalau dia lupa, saya maklum karena saya juga lupa. Kalau dia tak menepatinya, saya tak marah karena saya juga menganggap canda. Tapi... buku itu ada di tangan saya sekarang.

*

Di wall FB, saya pernah membaca status seorang adik santri, 

"Berjanji itu mudah, menepatinya yang susah. Kebanyakan orang! (saya juga)."

Begitulah adanya, tak terlepas diri saya sendiri yang sadar atau tidak (mungkin) begitu mudah mengucapkan janji. Meski hanya sejumput kata biasa yang tak dinyana adalah termasuk sebuah janji yang semestinya ditunaikan. Janji adalah hutang. Hutang mestilah dibayar. Apa jadinya jika mengumbar banyak janji dan tak menepati? Berapa banyak tabungan 'tak dipercaya' yang akan menumpuk di dirinya?

Di suatu kesempatan, mama memarahi bapak karena terlalu sering dan mudah menjanjikan sesuatu ke anak-anaknya. Lalu mama bilang, "Jangan terlalu sering kasih janji anaknya. Jika memang ingin membelikan sesuatu ke anaknya, yah kalau ada uang belikan kalau tak ada diam saja. Jika memang ingin mengajak anaknya ke suatu tempat, yah langsung pergi saja kalau ada kesempatan, kalau tak ada tidak usah dijanjikan." Karena mama tahu betapa berharganya sebuah janji, maka beliau sangat hati-hati dalam berjanji.

Sebagai manusia pembelajar, sudah selayaknya kita temukan hikmah di setiap kejadian yang terjadi dalam hidup. Apa yang dilakukan Dirga mengajarkan saya tentang pentingnya menunaikan sebuah janji. Mengapa pada akhirnya kita menganggap biasa sebuah janji? Karena kebanyakan orang terlalu mudah berjanji semudah itu pula mengingkarinya. Hingga kesakralan sebuah janji tak ada nilainya lagi. Padahal dalam hadits Nabi, salah satu ciri orang munafik adalah orang yang berjanji namun tak menetapi. Astaghfirullah Aladzim.

Yah demikianlah, pelajaran yang saya dapatkan dan hari ini saya share kepada teman-teman. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terima kasih bukunya, Dir. Juga pelajaran yang sangat berharga ini. :)

Jkt, 050415

Saturday, February 14, 2015

Dear Maryam...


si ceplas-ceplos :P

Dear, Siti Maryam Puspasyah...

Where are you? Whatssapp mbak brohhh? Gila yah, cuman beberapa bulan kenal lo aja langsung bisa kangen kayak gini. :P Udah gila gara2 les masuk PTN blom? Ahahaha atau jangan2 udah merit gara2 bosan belajar? :D

Ayo jalan2 lagi, nonton, ke toko buku buat cuci mata, hunting foto yang anti mainstream ala lo. :( Sejak ikut PPKD yang nyambung otaknya sama gue yah cuman lo... sharing lagu, film, dan ngomongin banyak hal. Tentang blog, teman-teman yang 'ampun dah ah', si-mario maurernya BLK :D, si penolongmu, dan si penggangguku... macam2 deh. :(

Ohiya, Imlek nanti kita ketemu yah, gue pengen cari tempat yang banyak penjual lampion, trus foto-foto deh ahahaha. Semoga sukses yah sis... inget, klo belum pingsan berarti masih belum berakhir perjuangan. You are strong girl, for sure! :')

Jkrt, 150215

Monday, January 26, 2015

Dear Silent Readers . . .


ada jerawat besar kututupi :D

kau tak boleh lihat gigi kelinciku -_-

komedo kuumpetkan saja dulu :3


Dear silent readers,

Sudah lihat tiga foto selfie di atas? Hahaha yeah... I did again. Ada yang aneh? Yayaya, jilbab tengkorak itu cukup mencolok mata. *eh serammmm :3 Rasanya apa yang ingin saya tulis cukup campur aduk. But, I'll make it flow.


1. Fenomena Selfie

Kalau dulu GIFO itu menandakan "Gila Foto", mungkin sekarang lagi zamannya GISEL "Gila Selfie" wkwkwk (padahal sama-sama foto juga) Saya gak termasuk gila sih, -_- hanya kalau ada perintah otak untuk selfie, yaudah hayo aja. :D Sebenarnya gak ada yang salah sih, tapi tau gak apa yang menarik dari selfie-an sehingga sejuta umat mau melakukannya? Kalo pendapat saya, aplikasi foto selfie yang beredar di hape pemirsa itu keren-keren loh. Nah, contohnya 360, Cymera, Retrica, B612 (terbarumi ini), dll yang tak kuketahui wujudnya. Keunggulannya? Jangan ditanya, ada yang bikin jerawat hilang, wajah mulus kayak lilin, kulit lebih putih, bibir merah seketika, alis terlihat tebal, dan kawan-kawannya. -_______- Intinya, membuat sang model lebih berbeda: cantik, tambah cantik, semakin cantik. (khusus cewetttt) Untuk kemudian menambah kepercayaan diri mereka. That's fact!

Saya gak munafik kok, am one of them. But I know myself. :) Saya tahu apa yang memang tak saya miliki, kekurangan apa yang ada di wajah saya (buanyakkkkk), dan bagaimana memaknai foto-foto itu sendiri. Ahaha, jadi kalau ada yang melihat foto-foto saya dengan tanda aplikasi selfian, yoimamen... those aren't how really I am. :3 Jangan jatuh cinta karena foto, temui saja saya dan lihat baik-baik aslinya: ada jerawat dimana-mana, alis tak setebal itu (menunjuk foto di atas), gak putih-putih amat dan.... wajahku tak semulus adanya. Hahahaha :P

Untuk penggemar selfian, just do what you want to do and enjoy it! Ahahaha, paling penting tetap percaya diri dengan dirimu yang sesungguhnya. Kalau kata ceribel, "Kamu cantik-cantik dari hatimuhhhhhhhhhh" :D (masihhh mauuuu)


2. Mencoba Jahat

Ehmm... sometimes I wanna people look at me as a bad girl. :( Aneh yah? Hahaha entahlah ini hanya salah satu pemikiran aneh yang datang dan pergi sesuka hati. Karena susah merealisasikannya dengan tindakan (hohoho) jadilah saya bergaya seperti di atas. Saya pikir dengan jilbab tengkorak itu, serta tatapan yang sinis (uekkkk) saya jadi terlihat lebih jahat. Iya gak sih? :/ Atau malah kayak preman pasar? -_-

Oia, kalau ada yang heran kenapa ada jilbab bergambar tengkorak seperti itu, maka kita seotak. Saya juga gak habis pikir, bisanyaaaaa ituuuuu. Anu, kan gak lucu muslimah tapi sangar. :'D


3. Kangen

Saya menulis sampai selarut ini, karena sedang ada masalah dan kangen. Susah tidur. (out of context)


Yahh... itulah yang ingin saya sampaikan. Apakah berguna atau tidak, entah, hanya tak ingin menyimpannya saja. Karena di kepala berjejal rupa-rupa problema. Fiuhhh. Selamat malam. :))


Jkrt, 270115

Selamat Melanjutkan Perjalanan, Teman!


Mungkin engkau akan membaca ini,

"Ada banyak hal yang tak engkau ketahui tentangku, begitu sebaliknya. Ada banyak hal pula di kehidupan ini, yang tak kita ketahui, sangka, atau duga sebelumnya. Seperti perasaan yang datang tiba-tiba dan mengejutkan hatimu. Pun, apa yang akan terjadi setelah itu dan hari-hari berikutnya.

Terima kasih untuk kejujuran dan penghormatannya, jalanmu sudah tepat, usah dipikirkan. Teruslah melangkah di jalan itu, tapi carilah tujuan yang baru. Apabila kau percaya Tuhanmu, maka mintalah padaNya untuk ditunjukkan. Jangan berhenti menjadi baik, jika apa yang telah terjadi seperti rintangan di matamu, maka sesungguhnya itu hanya sebagian kecil saja. Di sana, di sepanjang perjalananmu nanti, tak terkira sukarnya. Selamat melanjutkan perjalananmu." 

Setelah membaca ini, aku tetap temanmu kok. :))


Jkrt, 270115

Thursday, November 20, 2014

K for Key for Kamal


Kenapa namamu bukan Kemal saja, lebih nyaman saat lidah mengucapkannya? Tapi, yah sudahlah... itu kan nama pemberian dari orang tuamu. Hehehe Nah, apa yang harus aku tulis tentangmu? Siapa kamu nyuruh-nuruh aku menulis tentangmu? Wekkk malas rasanya. :P

*

Kamal bukan siapa-siapa. Temen yang ngeselin. Jelek. Iseng. Cerewet. Tipe cowok yang perlu dicuci pake molto sekali bilas (ini parah yah, maap). Gak pernah marah, tapi selalu bikin marah. Katanya gak bisa gombalin cewek, bisanya gombalin cewek-cewek. -_- 

Kamal bilang aku gak cantik-cantik amat, gak baik-baik amat, gak pinter-pinter amat, gak manis-manis amat, gak hebat-hebat amat, dan lainnya yang gak amat-amat. Semuanya dia lisankan tepat di depanku. Hoh, lihatlah, dia emang butuh direndam molto sekali bilas!

Kamal sok tua. Padahal emang udah tua. Sama sih, aku juga. Tapi tuaan dia, dari segi umur dan wajah. Kamal sok anak-anak, kalo lagi ketawa dan ngambek. Aku sih cuek aja, bodo amat. Ahahaha

Yang bagus dari Kamal apa yah? Gak ada kayaknya. Hohoho Eh ada sih, dia orangnya disiplin. Bahkan untuk ngegombalin cewek-cewek pun perlu kedisiplinan yang tinggi, katanya sambil cengengesan. Ckckck 

Kamal gak pernah ngegombalin diriku, mau tau karena apa? Dia bilang, "Lu kan gak 'amat-amat' ngapain digombalin." Nyesek juga dibilang gitu, ahahaha dasar cowok koplak!

Oh, sebelum dia pergi -entah kemana- saat perpisahan, dia bilang begini, "Yah, lu sih, ngapain juga gue ketemu lu." Terus dia ketawa ngakak. Apa lucunya coba?!

Yah, itulah dia. K for Key for Kamal. Ini semacam persembahan kecil buat teman yang tidak bisa lagi mengganggu diriku. Semoga dia menemukan korban baru di sana. Oia, selamat ulang tahun. :D


Jkrt, 211114


Saturday, September 20, 2014

Happy Wedding: Datangmi Jodohna Kak Jan Tawwa :P


Nur Jannah Darwis-Muhammad Asdar (everlastingloveaamiin)

"Pernahkah terpikir,
saat menyematkan peniti di kerudung setiap pagi,
 bahwa hari ini akan menjadi seperti ini?"

*

Untuk Kak Jan, dan calon pengantin berikutnya yang entah siapa.*

"Kira-kira siapa yah?" Pertanyaan umum yang selalu berakhir praduga dan tanda tanya besar selalu mewarnai perbincangan. Mungkin di jeda tawa, masing-masing dari kita sudah sampai pada anganangan dari gambaran pendamping yang kita inginkan, -harapkan- Lalu, terbersitlah senyum malumalu di ujung bibir manis. Kemudian tertawa lagi, sambil terus mencipta terka yang tak berkesudahan.

Perihal jodoh memang bukan tema besar yang mendominasi setiap pembicaraan kita, namun berupa tema khusus yang kerap kali menyusup dalam jelma renungan. Pertanyaan keramat "Kapan nikah? Kapan nyusul?" tak habisnya terlontar, lalu otak kita menanggapinya sesuai pemikiran masingmasing. Banyak macam jawaban; "Kalau jodohnya udah datang." kak jan paling sering jawab ini, k ira juga, ika juga kayaknya atau "Nantipi, mauka berkarir dulu." klo ini jawabannya si anu atau "Saya belum siap." nda ada kayaknya yang bilang ini di' atau sekedar senyum kecil dan diam seribu bahasa. Ruparupa anak gadis mencipta cerita hidupnya.

Tentu, jodoh hanya bisa diterka beribu kali, tanpa ada yang bisa memastikan benar-salahnya. Tak peduli seberapa mirip wajah terlihat, seberapa banyak tandatanda jodoh tersemat, atau seberapa kuat orangorang menyatukan. Seperti halnya, kita dapat jatuh cinta sebanyak yang kita bisa, menginginkan seseorang sedalam yang hati mau, namun pada akhirnya kita hanya akan bersama seseorang yang telah Tuhan takdirkan. Well, itulah jodoh.

*

pengantin geollll :D
pasangannya pengantinn geoll :D

Hari ini adalah babak baru dalam kehidupanmu, Kak Jan. Pintu mahligai pernikahan telah terbuka, dengan iringan doa melangkahlah dirimu bersama seorang pria yang kelak menjadi pendampingmu di dunia dan akhirat. (aamiin)

Ingin rasanya berada di sana -di kamar yang selalu kutumpangi tidur siang- yang kini telah disulap menjadi kamar pengantin (ternyata di kamar macenya, salahka itu wkwkwk), kemudian membisikkan katakata ini, "Ciee.. nikah niyeeee. Manjur doaku toh?" dan ini, "Ahahaha itu pae jodohta." Seperti halnya yang sering kita parodikan di ruang tamuta, di kamarnya kak Ira, di jalan sepulang ngejus, bahwa rasa penasaran kita tentang jodoh masingmasing akan berujung celetukan, "ITU POENG!!!" Ahahahaha... atau yang parahnya lagi, kita pernah berkelakar saat calon kita masuk dan nampaklah wajahnya, kata spontan yang keluar dari mulut kita adalah... "KAU PALE!!!" Arghhhhhhahahaha...

crying and laughing :'(

Tapi sepertinya itu tak terjadi padamu Kak Jan. Di hari bahagiamu aku tak bisa hadir. Berfoto bersama, makan ayam, makan kue, ngomentarin dandanan para tamu, atau sekedar melirik tamu lakilaki yang kece badai; seperti teman lainnya (fitnah kecil). Uff, inilah penyesalan kedua di bulan September yang membuatku sedikit galau. :((

Bihhhh.... nda adaka :((
Tuh kan, nda adaka lagi.. -nassami iis- :((
tantippna pengantengg *_*

Namun, tanpa mengurangi rasa bahagia di hari penikahanta, tolong yakini saja... ada adik anehmu di sini yang jauh di lubuk hatinya terdalam, amat-sangat-teramat bahagia atas pernikahanmu. Sampai lemas jejarinya merangkai kata, mencoba menahan semua yang loncat-loncat di kepala. :")

Barakallahu lakuma wabaraka alaykuma wajama'a baynakuma fii khoir. Selamat menempuh hidup baru Kak Jan dan Kak Asdar (sok kenal), saling menjaga cinta dan impian yah. Oia, moka ponakan yang banyak nahhh... sebelasmo. Ahahahaha *kaburrrr* :P

Terakhir... Aku akan selalu mengingat nasihatmu di ulang tahunku kemarin, kak. :')

*

jkrt, 210914


*anu, semoga k Ira n Ikha menyusul duluan, Acc yah My Allah :))

Thursday, September 18, 2014

Surat Lelaki Pengecut


Dek, aku tidak tahu bahwa lelaki sepertiku bisa sepengecut ini. Aku tak bisa menjaga perasaanku, menyisihkannya di ruang pertemanan yang telah kita jalin. Bahkan menjadi begitu lemah untuk mengembalikan diriku ke tempat semula sebelum aku mengenalmu.
Dek, aku menyukaimu, kadang di keheningan malam, aku malah merasakan aku telah sampai pada cinta yang jatuh. Padamu. Meski yang kusampaikan hanya kekaguman, aku yakin kau melihat lebih dari itu. Aku begitu pemalu, sampai aku harus berpura-pura mencintai orang lain untuk menutupi cintaku padamu yang teramat sunyi.
Dek, aku tak bisa lagi, tak akan pernah bisa menahan perasaan yang sialnya tak bisa pula kusampaikan padamu secara tegas. Karena aku tahu, hatimu telah menuju seseorang yang ada sebelum kehadiranku. Aku tidak akan membandingkan cinta siapa yang lebih besar, selama matamu memancarkan kebahagiaan, itu cukup. Sudah aku putuskan, aku takkan berjuang, jika itu hanya akan merusak hatimu -bahagiamu-.
Dek, maaf untuk setiap sms datar yang kubalas untukmu -telah kubuang semua emo tersenyum yang selama ini menghiasi pesanku-, sengaja lambat membalas, yang terparah aku tak membalas semua smsmu lagi. Yah, aku adalah si pengecut itu, yang mencoba membalik keadaan. Mengorbankan pertemanan, ketulusanmu, dan hatiku.
Dek, jika kamu selesai membaca surat ini, aku siap menjadi lelaki egois di matamu. Maafkan aku. Aku tak mengenal diriku lagi, saat aku memtuskan untuk berhenti berteman denganmu. Maaf.
Lelaki Pengecut
Selembar kertas jatuh di pangkuan Perempuan. Tangannya bergetar, hatinya telah dulu poranda. Perempuan terdiam, lama, sangat lama. Dia tak percaya pada apa yang baru saja dibacanya, bullshit. Perempuan marah kepada semua yang meninggalkannya karena alasan yang tak masuk akal. Aku hanya ingin berteman, memiliki teman. Masih dengan tangan bergetar, Perempuan mengambil handphone-nya dan mencari satu kontak. Dia hanya tinggal menekan tombol hijau, untuk melakukan panggilan dan memarahi sang pemilik nomor. Namun, Perempuan urung. "Seperih itukah berteman denganku, kak?" Perempuan menatap surat yang kini telah tergeletak di lantai, tangannya menekan sebuah tombol, saat itu juga air matanya jatuh mengiringi nomor seseorang yang telah terhapus dari handphone-nya. "Kak..."

*

Perempuan adalah setiap perempuan, yang perlu banyak belajar. Menarik satu benang merah dari tiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Semisal, benarkah ada pertemanan antara pria dan wanita yang dapat lepas dari sebuah rasa?

*

jkrta, 190914

Thursday, July 24, 2014

Surat Untuk Anakku Kelak


Sumber gambar

Assalamualaikum Wr.Wb

Nak, sudah sebesar apakah dirimu saat membaca surat ini? Kamu akan menemukannya karena ibu yang akan menyuruhmu membacanya. Atau kamu sendiri yang menemukannya, kelak. Inshaa Allah. Kamu tahu nama ibumu kan? Yah, Aisyah Istqomah Marsyah. Ibu selalu merasa bangga memiliki nama yang seindah ini. Terlebih lagi ketika banyak orang yang memuji ibu karena nama ini. Di sini, ibu pernah menjabarkan arti nama ibu. Silahkan kamu membacanya.

Kamu tahu apa yang sedang ibu risaukan saat ini? Adalah perihal 'ISTIQOMAH' yang tertera di nama ibu. Kenapa? Seperti yang kamu ketahui, ISTIQOMAH berarti kuat pendirian, teguh, tegak lurus. Apabila kamu sudah menetapkan sesuatu, kamu akan menjaganya dan meyakininya dengan sungguh-sungguh. Seperti itulah kira-kira pemahaman ibu.

Namun, ber-ISTIQOMAH bukanlah perkara yang mudah, nak. Kamu tahu, dulu ibu seorang santri di sebuah pondok pesantren (Darul Istiqomah). Ibu pernah menghafal 3 Juz untuk syarat kenaikan kelas di jenjang SMA, ibu pernah mendapatkan predikat 'Santri Teladan' pilihan seluruh santri, ibu pernah sangat rajin ikut pengajian, mempelajari agama islam dengan antusias, pula dikenal sebagai santri yang 'alim' entah dari mana predikat itu muncul. Serta, berdakwah untuk menjalani kebaikan ini-itu. Sekali lagi nak, ber-ISTIQOMAH adalah suatu hal yang sulit. Jika untuk mendapatkan sesuatu adalah pekerjaan yang sulit dan butuh perjuangan, maka ISTIQOMAH lebih lebih dan lebih sulit lagi. Itulah mengapa kamu harus tahu nak, yang menjadi kebanggaan ibu di atas tak semua kamu lihat tersisa pada diri ibu yang sekarang (saat ini). Yang pernah ibu hafal, telah hilang terlupakan. Keteladan yang pernah ibu miliki, rasanya sangat jauh dari prilaku ibu yang sekarang. Ibu tak lagi pernah ikut pengajian. Ibadah pun, ibu hanya mengerjakan yang wajib itupun untuk shalat ibu tak lagi tepat waktu. Bahkan ada hari di mana ibu merasa malu 'pernah' merasa bangga pada apa yang ibu raih, pada akhirnya semua hanya semu. Karena apa? Karena ibu tak ISTIQOMAH menjaganya. 

Nak, manusia memang tempatnya salah dan lupa. Itulah mengapa Tuhan memberikan banyak kesempatan untuk bertaubat dan menyuruh kita untuk senatiasa meminta ketetapan hati, bukankah kau selalu merasa hatimu terbolak-balik? Ada saat kamu bertanya-tanya mengapa harus berjilbab, sedang kamu merasa cantik dengan memamerkan rambut indahmu? Semua ketetapan dan pilihan hati kita, akan selalu memunculkan tanya 'mengapa'. Mengapa saya mesti berjilbab? Mengapa Jilbab saya terlalu panjang? Mengapa saya harus memakai pakaian longgar ini? Mengapa saya tak memakai celana panjang? Mengapa saya tak pacaran seperti yang lain? Mengapa saya harus shalat 5x sehari? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang akan menggoyahkan hati dan iman kita. Ibu menulis ini, karena ibu pernah dan sedang merasakannya. Dan semua orang, khusus para muslimah yang telah memilih jalan kebaikan, akan diguncangkan keraguan demi keraguan. Di situlah ISTIQOMAH berperan.

Nak, kesedihan yang sedang ibu rasakan saat ini adalah, menemukan teman-teman seperjuangan yang berubah total, adik-adik santri yang pernah ibu bina juga banyak yang berubah, ajaran-ajaran yang diterima selama beberapa tahun di pesantren seperti tak membekas, dan yang lebih menyedihkan lagi, saat ibu menyelami jauh ke dalam lubuk hati ibu, ibumu ini juga termasuk bagian dari mereka; yang belum istiqomah.

Nak, menjadi baik itu proses panjang. Merasa paling baik itu adalah kesalahan besar. Karena, ibu yang dulu pernah merasa 'terbaik', kini disentakkan kenyataan bahwa mereka yang dulu bergelar 'buruk' kini menjadi begitu memesona dengan perubahan mereka. Ibu sedang membicarakan teman-teman ibu, ibu bangga pernah menjadi saksi perubahan baik mereka. Kalau kamu berkaca, tentulah kamu juga akan menemukan kejadian serupa. Orang-orang akan berubah kepada dua arah: dari baik-menjadi buruk atau justru sebaliknya, buruk menjadi baik. Dan selama nafas berhembus, kita takkan pernah bisa menghakimi seseorang, yang bisa kita lakukan adalah mendoakan yang terbaik untuk mereka. Siapa pun.

Nak, mari kita belajar untuk ber-ISTIQOMAH atas apa yang telah kita yakini dan tetapkan dalam hati. Apapun itu. Ibu takkan mengatakan ini mudah, bahkan ibu yang bernama Istiqomah dan pernah menimba ilmu di Darul Istiqomah-pun, masih harus terus mencoba dan belajar. Tak ada yang menjamin ke-ISTIQOMAH-an melekat dalam diri kita, kecuali atas Rahmat Allah. Meski terus mengulangi banyak kesalahan, kita akan kembali kepada Tuhan dalam sujud panjang. Kita harus berjanji dan saling mengingatkan untuk menjadi manusia yang baik, tak hanya saat ini saja, tapi sampai akhir kita menutup mata.

Bila kelak saat membaca surat ini kamu menemukan ibu dalam kekhilafan, tegurlah ibu, dan ingatkan kembali tentang perjuangan untuk ber-ISTIQOMAH dalam hidup ini. Dan jika ini terasa sulit dan berat bagimu, tak mengapa, perjalanan hidup akan membuka mata hatimu. Sebagaimana apa yang tengah ibu rasakan saat ini.

Semoga kamu mengerti, nak. Di mana pun kelak kamu berada, tetaplah Istiqomah. Semoga Allah merahmati hidupmu, hidup ibu, hidup keluarga kita dan seluruh ummat muslim di muka bumi. Aamiin.

Salam,

Ibu yang mencoba Istiqomah di jalan-Nya.

*
                                                                    
Di ambang kepergian Ramadhan.  Jkrt, 250714.   
                                                                     

Friday, October 25, 2013

Adik yang Selalu Hadir di DM

salamku adik...


Baiklah, kehilangan memang telah menjadikan saya seperti sekarang. Tapi tetap sakitnya sama. Dan bolehkah saya merasa lelah. Akhirnya saya memilih sendiri. Agar tak terlalu banyak kehilangan. 

Dan saya memilih kamu untuk tetap tinggal. Karena sejak pertama kenal. Kamu satu satunya yang bisa membuat saya tersenyum. Jadi, tolong. Jangan pergi. Saya terlalu sakit jika harus sendiri. Ah tapi (mengapa selalu ada tapi di hidup ini) jika kamu-pun tetap pergi. Saya tahu saya bisa. Dan harus. 

by: MS*

***

Mungkin, dia adalah hadiah dari Tuhan untuk saya. Untuk menambah 'pemoles senyum' yang telah ada beberapa sebelumnya. Dia ingin saya jaga. Sebaik mungkin. Sebagai adik yang lahir dari rahim kata. Saya ingin menyayanginya, seperti saya sayang pada blognya yang sungguh sepi pengunjung. Tapi, itulah yang membuat saya beruntung. Dia tidak menginginkan blognya diekspos, namun dia memberitahu saya. Membiarkan saya membaca tulisannya yang -baiklah saya harus jujur- sungguh mati saya suka!

Di dunia maya, beberapa orang datang dan terabaikan. Ada diterima, sekedar say hai. Ada yang melekat, terasa rekat. Ada yang spesial, hadir seperti hadiah dari Tuhan. 

MS, adalah teman dunmay yang berada di opsi akhir. Spesial. Yang tak perlu saya jelaskan secara rinci. Kelak, jika ada yang kamu dapatkan seperti ini, JAGA dia! Hadiah seperti ini, sungguh langka adanya. :)


*adik yang jauhhhh di sana, bukan di negeri ini.

Hati Sebelum Oktober



santriku... i miss you all :')

: untuk santri-santriku


Assalamualaikum Wr. Wb


Hei, semua! Masih ingat saya? Saya mantan pembinamu, yang selalu marah-marah di masjid, yang selalu banyak bicara di muhadarah, yang selalu pengumuman bilingual (tak jelas), yang selalu mengontrol asrama pagi-malam, yang kadang sekke izin, kadang pula terlalu lemah gombalan, yang selalu malas ke mat'am, yang bolong-bolong juga jamaahnya (tutup muka), yang selalu ditodong membuat puisi, yang membuat kalian jengkel, yang menjadi topik pembicaraan kalian -saat marah, juga senang- semoga! Yang selalu apa lagi yah? Hahaha

Masih belum ingat juga? Ehmm kalau yang selalu bawa minyak gosok, ingat gak? Hehe awas kalo masih lupa juga. Saya hukum hafal 100 mufradat loh atau sikat tangga masjid sampai kinclong! :P

Kalian apa kabar? Di penghujung September, saya diserang rindu. Rindu berat dan tebal. Rindu masa dimana saya menjadi pembina kalian, santri-santriku. Ah, sebenarnya saya mau bilang kalian 'mantan' santri, tapi gak tega. Biarlah saya saja yang jadi 'mantan' pembina karena sampai kapan pun kalian saya anggap santri-santriku. (terharu sendiri)

Selama 2 tahun membina, sangat banyak kenangan yang tercipta bersama kalian. Perlu berlembar-lembar kertas untuk menuliskannya, mulai dari yang biasa saja, yang galau, yang menjengkelkan, yang mengharukan, yang menyedihkan, juga segala kenangan yang beku di pikiran. Semuanya, kini, menjadi kerinduan segar yang menyegarkan.

Hei, santriku yang entah kini berpijak dimana. Saya takkan panjang-lebar berdakwah, hanya ingin meminta maaf saja kalau selama ini ada salah. Dari laku, kata, juga segala apa yang telah saya perbuat di kampus putri. Untuk yang masih di kampus putri, saya selalu melewati gerbangmu, dan pastikan saja saya selalu mendoakan kebaikan untuk kalian. Tidak ada ibu yang mengharapkan keburukan untuk anaknya, seperti itu pula seorang pembina, kelak kalian akan paham hal ini.

Hidup ini bukanlah perihal satu-satu, segalanya lahir dalam satu paket.

Kelahiran-kematian, duka-bahagia, baik-jahat, pahit-manis, tawa-tangis, pun pertemuan dia sepaket dengan perpisahan. Semoga paket yang kita pilih adalah paket yang diberkahi oleh Allah SWT, pertemuan yang dipisahkan dengan keikhlasan atas segala yang telah kita lalui bersama. Dan ditutup dengan kesyukuran bahwa kita pernah bertemu.

Dimanapun kalian, menjadi apa pun kelak, semoga Allah tetap menyambung tali silaturahim kita. Meski hanya dengan sebuah doa diam-diam.

Hei, kalian! Berbahagialah, sukses dunia-akhirat yah... :)


Wassalamualaikum. Wr. Wb.


Salam rindu, mantan pembinamu.


Pesantren Darul Istiqomah, 28 September 2013/19.42

Sunday, September 15, 2013

Kepada L e l a k i :



L e l a k i, baca suratku yah :)

L e l a k i,

Aku takkan berpuisi, tidak malam ini ketika ada hal penting yang ingin kusampaikan. Sangat penting, berdosa rasanya jika lelap dalam tidur sedang hal ini masih terpenjara di pikiranku.

Jika kamu sudah tahu, maka anggap tulisan ini alarm yang menggantung dekat lampu tidurmu. Menyala untuk menerangimu. Sesaat sesaat saja.

L e l a k i,

Kamu hebat. Sungguh. Tahukah? Padamu ada 4 tanggung jawab yang berdiam di tiap-tiap nafas dan jejakmu. Ada 4 kehidupan yang kamu bawa dalam kehidupanmu pula. Serupa jantung yang memiliki 4 ruang, dijaganya degupan.

Yah, 4 hal itu adalah: Ibumu, istrimu, adik perempuanmu, dan anak perempuanmu.

Perempuan-perempuan itu, yang katanya terletak 'syurga' di kakinya, sejatinya kamulah penjaganya! Lelaki!

L e l a k i,

Sungguh berat tanggunganmu. 4 perempuanmu, berkewajiban engkau jaga, untuk keselamatan kehidupan di dunia ini juga akhiratnya. Engkau yang akan menjadi pemimpin, penunjuk, pada pintu keabadian manakah yang kamu bawa untuk mereka. Syurgakah yang di sana 4 perempuanmu akan bercengkrama di atas dipan-dipan sambil memandangi sungai jernih yang mengalir? Ataukah neraka yang kan habis melumat 4 perempuanmu, api membakarnya, lagi dan lagi untuk selamanya?

L e l a k i,

Kamu hebat. Sungguh. Jika saja kamu menyadari tanggung jawab ini, sekiranya kamu takkan merusak 'jantung'mu bukan? Kamu, akan lebih menghargai hidupmu, menghormati perempuanmu, menepis egomu untuk bermain-main dengan air mata, mulai merencanakan sebaik-baik impian untuk perempuanmu dengan kekuatan yang kamu punya.

Tak ada lagi permainan, apa saja, yang nantinya kamu takkan bergelar 'Lelaki Buaya', 'Mata Keranjang' dan segala istilah lainnya yang perlu kamu sandang. Tak ada.

Kamu hanya boleh bersandangkan gelar 'Lelaki Hebat' atau 'Lelaki Penjaga 4 Syurga'. Apa saja, segala sapa yang hebat untuk balasan kebaikanmu. Itu sangat pantas untuk kamu, jika dengan ikhlas dipahami.

L e l a k i,

Inilah yang ingin aku, perempuan, sampaikan. Terima kasih sudah mau membacanya. Sangat terima kasih jika hal ini mau dimaknai. Dan dari 4 perempuanmu, 4 cinta yang akan kamu terima, berlipat-lipat, bercabang, bermutasi hingga kamu lupa bagaimana rasanya kesedihan tak dicintai. Aamiin.

Salam ukhuwah, P e r e m p u a n.


*sebuah refleksi dari tulisan Lelaki Baik, Hidup Laki-laki. :-) Maaf jika terkesan menggurui.


Malam, 07 09 13/22.08

Kepada Lelaki Baik


Selamat malam Lelaki Baik,

Ramadhan sudah di bibir pintu, akan ada salam perpisahan nanti. Tak akan ada yang lebih sedih, setahu saya, selain dirimu. Sebagaimana tiada yg lebih senang, setahu saya lagi, ketika bulan suci ini datang kamu menuliskannya dengan hati riang.

Yah, saya membacanya. Selalu. Kamu, Lelaki Baik, yang lepas sahur sejak hari pertama tak pernah alfa menulis. "Tulisan Ramadhan hari ke-" begitulah kamu memulai. Begitu pula saya mencoba memaknainya. Hari ke hari.

Hei, Lelaki Baik, blogmu adalah kitab kedua setelah Al-quran yang wajib saya baca. Berlebihan? Tak apalah, kamu lelaki yang baik pasti mengerti. Sebab tulisanmu sungguh penunjuk jalan yang baik pula, bagi saya yang selalu tersesat ini.

Lelaki Baik dengan tulisan yang baik, naifnya, saya ingin menjadi pembaca yang baik dengan segala kekurangan ini. Yang kadang ketika membaca tulisanmu, manggut-manggut, terpana, bersyukur dipahamkan dengan kalimat sederhanamu, namun saat dihadapkan pada dunia nyata: saya alfa. Bagaimana bisa saya menjadi pembaca yang baik kan? Hehe

Lelaki Baik, terima kasih.

Untuk semua tulisanmu yang sangat menginspirasi, untuk tulisanmu yang bagai Bintang Utara menunjukkan saya jalan pulang, untuk membuat saya mampu bertahan di Bumi, karena sebenarnya saya adalah Alien dari Planet lain yang mulai gerah tinggal di Bumi. Untung saja saya menemukanmu, Lelaki Baik. :-D

Lelaki Baik, maaf.

Karena saya hanya bisa membaca tulisanmu tanpa meninggalkan jejak. Karena menyerap ilmu-ilmumu tanpa membagi yang ada di kepala saya ini. Karena tak berterima kasih langsung padamu, malah membuat surat yang takkan pernah terkirim. Karena saya mengirim lewat telepati, sebuah paksaan "Hei, teruslah menulis! Teruslah menulis! Teruslah menulis!" semoga tak mengusik hidupmu. :-)

Lelaki Baik, kamu akan sangat merindukan Ramadhan bukan? Ketika itu, ada pula yang sangat merindukanmu, tulisanmu. Itu saya. ^_^

Lelaki Baik, hanya kepadamulah Wanita Baik. Begitulah hukumnya, bukan? Hahaha sungguh sayang... saya hanyalah Alien yang sedang mencoba menuju baik. #pissss

Lelaki Baik... sekali lagi, Terima kasih.


_sincerely, Alien.

Monday, August 26, 2013

Kepada Aisyah Usia 22



Bismillahirrahmaanirrahiim...

Kepada Aisyah usia 22, bacalah catatan ini. Sebuah tulisan panjang yang akan sulit ditamatkan, berlarut-larut, mungkin akan membuatmu terkantuk-kantuk. Tak apa. Aku minta, bacalah, bacalah, bacalah...dengan nama Tuhanmu. Itu cukup.

*

Aisyah usia 22, 

Kamu tak berfikir bahwa kamu bisa mencapai angka cantik itu dengan serta-merta saja kan? Kamu pernah menjadi Aisyah kecil, sayang... oh tidak, bahkan kamu berwal dari setetes mani. Kamu berproses. Kamu hidup, tumbuh dan berkembang. Kamu pernah mungil, menggemaskan, tentunya setelah kamu habiskan 9 bulan di rahim ibumu. Kamu dilahirkan, dengan kaki dan tangan sekecil tikus -begitulah cerita ibumu-, diiqomahkan ayahmu, digendong, dibuai, dinamakan dengan sebaik-baik nama: Aisyah Istiqomah Marsyah

Kamu hidup, tumbuh dan berkembang. Percaya itu!

Aisyah usia 22,

Kamu kecil, balita, kamu menjalani masa itu dengan kegembiraan yang tak lagi kamu ingat. Jadi, tak banyak yang bisa kamu ceritakan. Tetapi akan ada banyak yang bisa kamu dengarkan, dari mulut ibumu, bapakmu, kakek-nenekmu, om-tantemu, semua yang menyaksikanmu di masa itu. Sayangnya kamu selalu melewatkan pertanyaan itu, kamu lebih suka melihat kamu yang hari ini kan? Tunggu, aku ingat satu hal, kamu balita mirip bule. Putih-berambut pirang. Hahaha, karena hanya itu yang kerap kali kamu dengar saat melihat foto masa balitamu. 

Kamu hidup, tumbuh, dan berkembang. Percayalah!

Aisyah usia 22,

Pra-sekolah. Aku sedikit bangga padamu. Kamu lumayan cerdas, lumayan baik, lumayanlah untuk diingat. Hahaha, maaf. Kamu suka membaca, jadi jangan heran melihat dirimu yang sekarang yah. Kamu melahap buku-buku pelajaran kakakmu. Mengeja sendiri di kamar. Terbata-bata dalam hati. Kamu lakukan sendiri, dan...sepi. Yah, sejak dulu kamu suka menyendiri, mengkhayalkan banyak hal, bertanya-tanya, seperti "Allah itu kayak Casper yah, kan Maha Melihat?" Oww, tak usah kaget...saat itu kamu belum tahu apa-apa, kamu hanya seorang anak kecil yang bingung mengapa Tuhan bisa melihat semua perbuatan manusia. Bermilyar manusia! Dan bagimu, hanya ada 2 mata, 2 telinga. Jadilah.... 

Kamu hidup, tumbuh, dan berkembang. Terima itu!

Aisyah usia 22,

Masa SD. Kamu senang sekali masa ini, yah, sangat dan sangat. Kamu mengingat hampir banyak hal kecil, ah, kamu selalu ingin kembali ke masa ini. Membayangkan dirimu yang berseragam merah-putih, rambut panjang terurai acak-acakan, jarang pakai dasi-topi-ikat pinggang. Memang sedikit memalukan di bagian ini, dimana kamu amat tidak tahu mempercantik diri. Setidaknya membaguskan dirimu deh... Hei, bukankah kamu kadang tak mandi pergi sekolah, karena kamu selalu telat bangun! Huh. Kamu tak pernah pakai bedak. Rambutmu selalu kusut, jadi kamu perlu minyak sayur (ampunnnn) untuk meluruskannya. Cuek sangat untuk penampilan luar. Kamu cengeng. Selalu jatuh. Selalu takut. 

Tapi, kamu tetap anak yang baik kok. Kamu disukai banyak orang. Orang tuamu (tentu), guru-gurumu, teman-temanmu, tetanggamu, dan kamu kadang tak sadar itu.

Ah, kamu akan suka sekali membaca part ini. Jangan khawatir, kamu melewatkan masa ini dengan sangat baik. Kamu berprestasi. Kamu diandalkan. Kamu dipercaya untuk menjadi pengisi upacara, kecuali jadi pemimpin upacara. Hahaha... oia, kamu terlalu sibuk belajar. Sudah aku katakan, kamu kadang terlalu cuek dengan sekitarmu. Kamu lebih memilih membaca di perpustakaan ketika teman-temanmu mengobrolkan sesorang cowok yang jadi incaran. Kamu selalu menghindar dari dunia per-love-an. Sampai saat kamu 'ditembak' kakak kelas SMP, kamu hanya bisa menangis karena tidak tahu apa yang harus diperbuat. Kamu mengabaikan yang memujamu, dan hanya memuja angka-angka di rapormu. Ehmm.

Kamu tak usah segan tertawa, tertawalah....karena kamu memang lucu. :D Eh, jangan pikir aku akan menceritakan kebaikanmu saja. Oh, tentu saja ada bagianmu yang sangat jelek juga. hihi Kamu sangat pemalas. Kamu selalu mencari alasan untuk tidak disuruh, dan itu menjengkelkan ibumu, beliau perlu berteriak untuk membangunkanmu yang pura-pura tidur. Kamu juga suka diam-diam minum di bulan puasa, yah beberapa kali sih. Kamu kalau sudah berantem dengan adikmu, hohhhh kamu seperti petinju. Tanganmu terlalu keras untuk ukuran seorang wanita. kakimu juga. -_-" Kamu kadang cerewet, suaramu terlalu pelan, dan jago mengejek. Yah, itulah kamu!

Kamu hidup, tumbuh, dan berkembang. Percaya kan?

Aisyah usia 22,

Masa SMP. Prestasimu semakin oke. Tapi tidak dengan ibadahmu. Banyak hal mulai berubah dari dirimu. Ada juga yang tetap menjadi bagian dirimu, seperti tak ingin pindah, seperti halnya membaca dan malas berdandan. Kamu berjilbab, karena sekolah mewajibkannya, saat pulang ke rumah jilbab terlepas. Kamu tetap pribadi yang baik dan menyenangkan, tapi kamu sedikit gila belajar di masa ini. Kamu terlalu ambisius mengalahkan orang-orang di atasmu. Kamu mulai bergenk, dan bertingkah sedikit lebih centil di pelajaran olahraga. Kamu melewati masa tersulit saat kelas 2 SMP, kamu menyelesaikan satu tahun dengan perjuangan yang berat. Keuangan keluargamu sangat tak baik saat itu, kamu lakukan apa saja yang penting kamu bisa pergi sekolah. Kamu tak ingin bolos. Kamu tak ingin ketinggalan pelajaran. Yang terpenting, kamu tak ingin kalah pada keadaan. Walau pada akhirnya, kamu harus menerima untuk pertama kalinya keluar dari jajaran 3 besar. Kamu terlempar jauh di peringkat 7, hingga kamu tak bisa menahan air matamu tumpah di gerbang sekolah. Kamu terpukul sekali saat itu, yah, sudah aku katakan...kamu pemuja angka di buku biru. Dan kamu, memiliki cinta pertamamu di masa ini. :)

Kamu ambisius, sayang...kamu bangkit di kelas 3 SMP. Kamu hanya ingin membuktikan pada teman yang meremehkanmu, bahwa kamu bisa, dan memang KAMU BISA! Kamu tutup masa ini dengan penuh kebahagiaan. Kamu dua kali peringkat satu dan menyabet juara dua santri berprestasi. Bapakmu-ibumu, mereka merayakannya.

Tapi sayang, kamu memang memeluk dunia ini terlalu erat. Kamu lupakan akhiratmu, kamu bukanlah pribadi yang 'baik' di mata agamamu. Kamu masih jarang shalat, kamu tak berhijab, walau tak pernah pacaran tapi kamu lupakan mengenai mahram...ah, saat itu kamu sedikit tahu dan mengabaikannya. 

Kamu hidup, tumbuh dan berkembang. Yakinilah...

Aisyah usia 22,

Masa SMA. Di sini semuanya berawal. Dan akan sangat-sangat panjang, istirahatlah jika kamu lelah mambacanya. Sayang, dari masa-masa yang kamu lewatkan, di titik inilah terjadi perubahan besar dalam hidupmu. Hal yang tak pernah kamu bayangkan terjadi, kamu meninggalkan kota Jakarta dengan segala mimpi yang pernah kamu tata, dan memasuki sebuah pesantren. Yah, pesantren! Sekuat kamu menolak, sekuat itu pula bapakmu memaksamu...akhirnya kamu pasrah. Dan mulai menjalaninya.

Aku akan sedikit mempersingkat, perubahan pada dirimu seiring waktu menggetarkan hidupmu. Ada yang diam-diam meranggas mimpimu, dan memanam sesuatu yang lain. Kamu mengubah impianmu. kamu mengubah penampilanmu. Kamu mengubah prilakumu. Kamu mengubah tuturmu. Kamu ingin menjadi Aisyah baru, kamu yang dulu terdesak kini mulai bernafas teratur dengan aturanmu sendiri. Kamu menjadi sedikit lebih tenang, kamu mempelajari banyak hal, tentang duniamu-akhiratmu. 

Kamu tetap suka membaca, bahkan kamu menulis juga. Kamu berprestasi dengan pelajaran-pelajaran barumu. Tapi kamu tak lagi gila angka. Kamu bahagia dengan rasa yang tak bisa diucapkan. Walau beberapa kali di masa ini kamu terjebak di lubang kekecewaan yang dalam, toh kamu bisa jua keluar dari sana. Aku akui, kamu kuat di masa ini sayang. Kamu menjadi pribadi yang kamu sendiri tak menyangka bisa seperti itu, kamu...ah, kamu rindu masa ini bukan?

Kamu hidup, tumbuh, dan berkembang. Kuatkan hatimu!

Aisyah usia 22,

Masa Kuliah-sekarang. Apa yang harus aku ceritakan padamu? Kamu terlalu berwarna di masa ini. Kamu lebih dewasa, kamu sedikit tahu berdandan, kamu dikenal banyak orang meski kamu sendiri selalu lupa bersosialisasi. Kamu sedikit lebih berani, tak lagi taku tersesat. Kamu pun kembali sedikit nakal, selalu jengkel pada dosen yang 'narsis' padahal kamu juga suka narsis. Kamu adalah aku hari ini. Masih suka membaca, menulis dan berpuisi. Aku sangat suka membagi kebahagiaan, kamu harus tetap menjadi yah, pencipta kebahagiaan. 

Hari ini, adalah hari terakhir aku ada. Besok aku akan melebur dalam dirimu. Aisyah usia 22. Aku tuliskan catatan ini, agar kamu mengingat aku juga Aisyah yang dulu. Yang selalu dan masih berproses. Kamu akan menjadi wanita dewasa dan aku sekarang adalah remaja akhir. Aku mohon padamu, sambung mimpiku! Hidupkan kembali, nyalakan lagi semua impian yang aku simpan hari ini. 

Berhentilah menjadi aku yang tak baik. yang selalu mengejar dunia tanpa memperdulikan akhirat. Matikan saja sisa-sisa diriku yang buruk. Kamu harus lebih baik dari aku. Harus! Kamu, aku memohon padamu, aku meninggalkan banyak PR untuk dirimu dan kehidupanmu selanjutnya. Maaf.

Kamu hidup, tumbuh, dan berkembang. Yah, pasti!

Akhirnya.... Aisyah usia 22, masih banyak yang ingin aku tuliskan. Tapi kucukupkan catatan ini, aku buat untukmu. Agar kamu bisa bercermin dari proses panjang hidumu. Agar menjadi kompas dalam hidupmu. Menjadi bintang selatan yang menyinari jalanmu. Menjadi tongkat ketika kamu jatuh. Atau menjadi alarm ketika kamu lupa dan abai. Sekali lagi, bacalah, pahamilah, ... sebenarnya aku sangat takut akan diriku yang tak lama lagi melenyap menjadi kenangan. Tapi aku mohon, sambutlah aku dengan keberanianmu. Hadapilah hidupmu, hadapilah mimpimu, hadapilah hingga nafas terakhirmu!

Terima kasih. Semoga Allah memberikan berkah pada angka yang terus bertambah dalam hidup kita. Sekali lagi, 

KAMU HIDUP, TUMBUH, DAN BERKEMBANG! AAMIIN!

Maros, 27 Agustus 2013

Salam, Aisyah usia 21.