Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Wednesday, May 27, 2015

Someone Special As a Blog


"For me, someone special as a blog.  
The place where I talked about everything.  
Someone who knows my happiness and sadness.  
And keep all my story forever.

did you?" 

Thursday, April 23, 2015

Please Remember! :')


I will say...

Nicerest, if you're sleepy.
Misyutu, if you're missing me.
Istirahatlah, if you tired.
*Nothing*, if you're getting angry.
Syafakallah, if you're sick.
Semangat!, if you wanna begin do anything.
It's ok, if you make a mistake.
Ailovyutu, if your heart scream my name.
Allahu yahdik, for the rest of your life.

*Friday, 250415

Saturday, February 14, 2015

:)


"I learned to play on the safe side so I don't get hurt."


Thursday, February 12, 2015

Pahamilah, Ai!


seperti ketulusan alam dng pesonanya :') 


Karena ketulusan adalah mahadaya; cinta.

*
Pahamilah, Ai. Ketulusan bukan suara, bukan bunyi, yang mampu ditangkap indera pendengar kita. Tak perlu dibisiki atau diteriakkan. Tak usah mencari pengakuan. Ketulusan begitu lembut mencari tempatnya, begitu hangat sampai di hati, lalu menyejuk di tiap relungnya. Karena ketulusan adalah mahadaya; cinta.

Jkrt, 130215

Thursday, January 22, 2015

Menunggu Kunang-Kunang (saja)


sumber gambar

Apa yang kamu lakukan?

Menunggu kunang-kunang. Kamu?

Menunggumu menunggu kunang-kunang.


(bukankah percakapan di atas sama saja seperti di bawah ini?)


Apa yang kamu lakukan?

Menunggu seseorang. Kamu?

Menunggumu menunggu seseorang.


(ah, aku pikir tidak. mari bercakap, seperti percakapan pertama saja)


Jkrt, 230115

Tuesday, January 13, 2015

Sunday, January 11, 2015

Maka,



"Jika puncak mencintai adalah melepaskan.
Maafkan aku yang tak ingin sampai di sana."

_aim

Sunday, December 7, 2014

Benarkah Kau Tak Tahu?


 Ketahuilah...

Aku ingin menulis tentang apa saja, di mana saja, kapan saja, semua hal yang aku suka dan tidak. Dengan alasan, aku bukanlah pencerita yang memiliki pendengar setia. Aku yang terlalu malas bicara menjadi lengkap setelah hatiku tak mudah percaya.

Namun, pada bagian tentang dirimulah aku menulis seperti berbicara. Semudah menuliskan biru pada cuaca. Seriang gelak tawa adik bungsuku. Setulus waktu menjemput aku.

Tapi kau tak tahu. Yah, tak tahu.


Jkrt, 011214


Thursday, November 13, 2014

Benarkah Kita Ingin Kembali Ke Masa Lalu?



  "Dunia akan hancur, Ah!"


Namanya Pluto. Aku yang menamakannya, dia terima begitu saja. "Apapun darimu, aku suka." gombalnya kesekian kali yang pula ku(coba) hiraukan berjuta-juta kali. Dia lelaki tampan dengan banyak sangsi dariku. Cerewet. Humoris menjurus narsis. Ada luka garis panjang di pelipisnya, itu keren menurutku. Dia teman, teman kecil yang amat besar di mataku. Dia ada di sini, tak jauh dariku.

*

"Dunia ini bermasalah kan, Plu?" tanyaku berhasil menarik pandangan Pluto. Dia sibuk mengurusi telunjuknya yang kesusupan serbuk kayu saat membuat figura. Aku kesal menunggu jawabannya yang lama. "Jawab dong!"

Plu meringis meniupi telunjuknya. Dia berteriak ketika tiga batu kecil mendarat tepat di kepalanya. "Auw! Auw! Auw!" dia mendatangiku sambil mengusap-usap kepala. "Iya, Iyus. Dunia ini bermasalah, sangat malah. Karena ada seorang perempuan cantik yang hobi melempar batu ke teman tampannya." Dia bersungut memasang wajah galak, aku tergelak. Dia Pluto, aku Merkurius. Sayangnya, dia memanggilku 'Iyus' itu aneh sekali dan aku...menerimanya. Kesepakatan bodoh.

"Aku serius. Selain karena tak ada es krim gratis di dunia ini, juga terlalu banyak manusia yang ingin kembali ke masa lalu. Dunia ini diambang kehancuran."

Semilir angin menerpa wajahku. Pantai sejuk tapi panas. Di bawah lindungan pepohonan aku memandang jauh ke pantai lepas. Ini hal yang serius sekali bagiku. Hanya pada Plu aku ingin membaginya, karena dia dan aku....aneh! Jadi tak ada lagi kerutan-kerutan di dahi saat kami membicarakan suatu perkara, apa saja. 

Aku melanjutkan keluh, "Kamu tahu, Plu, kalimat 'aku ingin kembali ke masa lalu' penuh bertengger di setiap sosial media yang aku punya. Kalau aku ibu hamil, mungkin aku sudah muntah-muntah melihatnya." Plu mendengarkan dengan serius kali ini, aku sedikit lega. "Untuk apa sih kita kembali ke masa lalu? Emang bisa? Trus kalo bisa mereka mau ngapain? Trus-"

"Ehemm, sebenarnya aku juga, aku ingin kembali ke masa lalu dan melihat bagaimana kamu blepotan makan es krim dan hanya mengenakan can-" Tiga butir batu mematahkan ocehan Plu. Ah, aku tertipu, dia belum menjadi Plu yang serius. Dia meringis lagi.

"Plu, lihat batu-batu ini? Aku takkan segan melemparkan semuanya ke kamu!"

"Dunia ini bermasalah, Iyus. Aku sepakat denganmu. Mari kita bicara baik-baik dan biarkan aku duduk di sampingmu." Pluto menempati sisi kosong dan menyender di batang pohon, tepat di sisiku. "Iyus," suara Plu menegas. "Mereka bukan ingin kembali ke masa lalu karena masa lalu itu sendiri."

Aku menegakkan sandaran. Plu serius sekali, aku membatin dan tersenyum kecil. "Tuan Pluto, tolong jelaskan lebih lanjut!" perintahku. Plu memonyongkan mulutnya.

"Begini, Nona Iyus. Hari ini aku mengatakan cinta padamu, tapi kamu menolaknya dan mulai menjauhiku. Kita tak sedekat ini lagi. Kita tak lagi saling bicara. Kamu menghindariku karena kamu risih dengan pernyataan cintaku. Nah, saat itulah aku berpikir, 'Tuhan, kembalikan aku ke masa lalu, dimana aku bisa bermain bersama Iyus lagi, berbincang banyak hal, makan es krim bareng, ketawa bareng, tak apalah dia tak tahu aku mencintainya asalkan dia tetap menjadi temanku.' NAH!" Plu menepuk pundakku dan tertawa kencang. "Hahahahahaha, matamu hampir keluar. Hahahaha..."

"Pluuuuuuuuuuuuuu!!!"

Plu berhenti tertawa. Dia melanjutkan penjelasannya sembari mengusap lengannya yang telah dihujani cubitanku. "Tadi aku hanya ingin ambil nafas, Iyus." aku mendelik, "Okeh, aku lanjutin. Nah, aku ingin kembali ke masa lalu bukan karena masa lalu itu indah. Tapi, karena aku tak bisa menghadapi 'ketidakindahan' yang ada di masa sekarang. Yah, ini soal kesanggupan."

"Maksudmu, sejelek apapun masa sekarang, kalau kita sanggup menghadapinya, kita tidak akan meminta kembali ke masa lalu?" tanyaku.

"Tepat sekali. Sekalipun masa lalu itu sangat indah."

Aku terdiam, mencoba merenungi.

"Itu artinya, hanya orang-orang lemah yang ingin kembali ke masa lalu?"

"Itu manusiawi, Iyus. Seberapa banyak pun orang yang ingin kembali ke masa lalu, itu hanya menjadi hitungan kalimat penenang diri. Takkan ada yang pernah bisa kembali. Jadi kamu tenang saja, dunia tidak akan hancur." Plu berdiri, melangkah menuju pantai.

"Tapi, Plu..." seruku. Plu berbalik. "Analogimu. Aku tak suka. Aku pikir dunia sangat bermasalah sekarang, karena kamu menjadikan kita analogi yang buruk. Kau dengar, Plu?!"

Pantai menggelar ombak. Plu memainkan kakinya di pasir, sementara giginya sibuk mecoba mengeluarkan serbuk kayu yang masih menempel di telunjuknya. Kini aku ada di sampingnya. Aku terlihat semakin kerdil, Plu... dia besar ah, maksudku tinggi sekali. 

"Apalagi yang kamu risaukan, Nona Iyus?"

Aku tersenyum manis pada Plu. Aku rentangkan tangan membiarkan angin pantai memelukku dengan bebas. Sebentar lagi sahabat kami akan datang, senja. Nanti, di jalan pulang, aku akan katakan pada Plu bahwa dunia akan baik-baik saja selama dia selalu ada di sampingku.

*

"Ayo pulang!"

"Plu..."

"Apa?"

"Ehmm,"

"Kenapa? Dunia akan hancur lagi?"

"Iya. Tapi dunia akan baik-baik saja kalau-"

"..."

"-kalau kamu membelikanku es krim. Setiap hari."


Kami berpamitan pada langit, setelah senja pulang lebih dahulu. Plu mengangguk saja, bukan karena takut dunia akan hancur, tapi hari sudah gelap dan ibuku akan mengomelinya jika memulangkanku setelat ini. Rencanaku gagal. Aku tak bisa mengatakannya. Tak mengapa, selama kalian tahu apa yang aku rasa, aku punya keyakinan kalian akan membocorkannya pada Plu. Suatu hari nanti.


Jkrt, 141114

Tuesday, September 23, 2014

-dia yang kupercaya-


"Jangan pergi ke tempat dimana aku tak bisa mengikutimu."
(Lord of The Ring)

*

Aku mengirim pesan pada -dia yang kupercaya-: 

Kak, kenapa aku selalu ingin mengikutinya, maksudku, aku suka dia ada di depanku dan melakukan halhal hebat?

-dia yang kupercaya- membalas pesanku setelah dua hari berlalu: 

Karena dia memiliki apa yang tak kau miliki. 

 Kubalas secepat mungkin:

Apakah ini cinta?

Tepat tujuh hari kemudian, -dia yang kupercaya- membalasnya:

Jika ada hal yang paling kau benci ada padanya, namun kau tetap mengikutinya. Mungkin, iya.

Aku tak melanjutkan percakapan. Aku benci ketika -dia yang kupercaya- lambat membalas smsku, seakan aku tak penting untuk disegerakan. Tapi aku tetap mempercayai apa yang -dia yang kupercaya- katakan. Aku suka nasehatnya. Aku suka.

jkrt, 230914

*Aku ngefans kamu, sudah kukatakan tadi malam.

Friday, August 29, 2014

Ice Cream Time ^^


Adibah n Azka :D
yummyyyyyy :D

Brrrrrrrr :D

Yuhuuuuuu :P

mau? :D

santai kayak di pantai hoho

Pamerr.. :D

ckckckck

Siappppp... merosottt :D

mirip gak?
Lagi :D

Ayun-ayun...

selfie together :D

:D

ikutannn.. :D

*

Dua puluh delapan agustus dua ribu empat belas, nraktir dua bocah ini es krim. Behhhh...harusnya kan yang ulang tahun yang ditraktir. --" Bermain sepuasnya di Taman Bermain Anak. Yowessslah ahaha

Kami sangat bahagia. Saya sangatt bahagia. Jadi anak-anak itu membahagiakan yah.. hehehe Terima kasih Tuhan atas moment ini. >_<


Jkrt, 300814

Sunday, August 10, 2014

Mengantar Senja Di Tanahku


kala langit merona saga

dan memantulkan keindahan

apakah kamu bahagia?

Just close your eyes
The sun is going down
You'll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I will be safe and sound

(Safe and Sound)

*

Jkrt, 110814

 
Dok Pribadi: Senja, 090814 di samping rumah :)

Kau Ada Di mana?


 
aku di Jakata. kau perlu kendaraan untuk
menjemputku. di ibu kota segalanya 
seperti berkejar-kejaran. pun aku berlari.
aku terjatuh. aku terhenti.

kau ada di mana?


Jkrt, 110814

Thursday, August 7, 2014

Menyambut Sunrise Delapan Agustus :)


Berjalanlah, melangkahlah!

Temukan Mentari...

Yang mengintip dari sela pepohonan.

Yang berpijar pelan-pelan.

Biarkan cahaya lembutnya menyinarimu.

Dan menyinari bumi sekalian.

Demi langit biru.

Demi embun pagi.

Dan demi ilalang.

  
Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

*

Hei, Agustus! Tahukah betapa kejamnya saat itu kau menyambutku. Tapi, ah, itu hanya perasaanku saja yang belum dewasa menikmati hidup. Maafkan aku, iya, maafkan kekeliruanku. Biarkan aku menebus salahku, dengan menghargai setiap detak waktu yang kau bawa. Setiap rasa yang ada. Setiap cerita yang kelak tersimpan di kotak kenangan. Aku mencintaimu, Agustus. Mari berbaikan! :)

Perpustakan, Jkrt 080814

Sunday, July 20, 2014

Yang Perlu Kau dan Aku Tengok Kemudian Hari


Tapi apalah arti waktu, waktu hanya suatu ukuran yang tak mampu memisahkan ingatan dan kenangan yang pernah terjadi.

(AA Navis)


*


























































*

Rahasia itu adalah sumber kekuatanku, kehendak yang memampukan aku untuk tidak melekatkan diri pada apapun juga, dan sanggup mengatasi rintangan.

(Rispondimi, hl.75)


Jkrt, 210714