Showing posts with label Prosa. Show all posts
Showing posts with label Prosa. Show all posts

Wednesday, August 12, 2015

Kau Tak Bilang


kau bilang, hal tersulit dari perpisahan
adalah menerima
menerima untuk melepaskan.

kau bilang, hal tersulit dari melepaskan
adalah menerima
menerima untuk merasa kosong.

kau bilang, hal tersulit dari merasa kosong
adalah menerima
menerima orang baru.

kau bilang, hal tersulit dari menerima orang baru
adalah menerima
menerima untuk menyesuaikan.

kau bilang, hal tersulit dari menyesuaikan
adalah menerima
menerima adanya perbedaan.

kau bilang, hal tersulit dari perbedaan
adalah menerima
menerima untuk memahami.

kau bilang, hal tersulit dari memahami
adalah menerima
menerima bahwa kenyataan telah jauh menyimpang dari harapan.

Dan kepalamu menjadi kapal, terombang-ambing lautan pikiran. Kenangan seperti ombak, menghantam-menghempas. Lalu mulai berharap, tak ada yang terlepas (saja).

Kau bilang itu semua, waktu kita telah dekat pada perpisahan. Dan kini, aku ingin kau bilang, telah sampai di tahap penerimaan apa hingga kau bisa tersenyum bahagia?


Ckrg, 120815

Monday, August 10, 2015

KHILAF


KHILAF


Oleh: Aisyah Istiqomah Marsyah


Sejak kulihat siluet ibu berdiri dengan tali tergantung di atasnya, kupikir hidup telah menjelma goa yang gelap tanpa penerangan –di kepala. Malam itu aku berlari keluar dari kamar antara bingung dan ketakutan, kupastikan apa yang kulihat sebelum pikiran terlanjur melumpuhkan. Di ambang pintu aku berdiri, menatap sosok ibu; kepalanya telah masuk dalam lingkaran tali yang disimpul sendiri, kakinya siap menendang kursi yang dipijaki, matanya terpejam melepas bulir-bulir air mata. Aku gemetar hebat, jika saja aku lupa berteriak, di umur sepuluh tahun aku telah menjadi piatu. Jika saja aku punya penyakit jantung, mungkin aku akan membersamai ibu: mati di malam hari.

*

            Tujuh tahun berlalu. Ibu masih ada, menyiapkan sarapan seadanya kala pagi, menungguku pulang di sore hari. Tak pernah ada yang membahas kejadian malam itu, “Ibu khilaf.” Semoga sekali saja ibu khilaf dalam hidupnya, doaku selalu sama saja, yang kupinta tak pernah lebih dari itu. Walau ingin sekali minta pada Tuhan untuk dihilangkan ingatan, setidaknya tak diberikan mimpi buruk setiap malam. Tapi, urung kulakukan. Aku hanya ingin ibu tak khilaf. Agar saat kumemandang jendela kamar, tak ada siluet apapun selain bayang pepohon di halaman belakang juga jemuran yang belum diangkat.

            Di rumah ini, ibu seperti menganggap ayah tak ada dan sebaliknya. Mereka seperti dua orang yang tak saling kenal terjebak dalam satu hunian. Saat masih kecil, kupikir mereka sedang marahan. Tidak ada satu pun kenangan yang bisa kuceritakan tentang kebersamaan kami bertiga. Selalu saja aku dengan ibu, atau aku dengan ayah. Bahkan setelah malam itu, aku seperti tak punya sesiapa. Ibu mengurung diri di kamar, ayah tak tahu rimbanya. Kuhabiskan waktu bersama Teddy –boneka kesayangan, menanyakan banyak hal padanya yang sampai detik ini tak pernah terjawab. Selebihnya, kupasrahkan waktu membentukku.

            “Apakah ibu dan ayah bertengkar?” tanyaku suatu sore. Keberanian itu entah dari mana datangnya –mungkin dibawa hujan tadi siang.

            “Tidak.” jawabnya singkat.

            Mengapa ibu menangis setiap malam? Mengapa ayah jarang pulang? Mengapa kalian tak pernah terlihat bersama? Mengapa bertahun-tahun kita hidup seperti ini? Mengapa malam itu ibu ingin bunuh diri? Mengapa...

            Kutatap sorot mata ibu yang kehilangan gairah hidup, maka kusumpal seribu pertanyaan di kepala yang berdesakan ingin keluar. Aku tak ingin hal buruk terjadi. Malamnya aku meringkuk di kamar menahan tangis, mimpi buruk seperti teman nakal –mendekapku sampai gigil seluruh badan.

*

            Di masa putih abu-abu ini, aku tak jua mengenal cinta. Takkan ada lelaki yang jatuh cinta pada gadis sepertiku, kata teman sebangkuku suatu hari.

            “Aku kenapa?” kutanyakan padanya.

            “Kau terlihat menyeramkan,” jawabnya sambil menunjuk diriku. “lihatlah dirimu di cermin, kau seperti penyihir. Kau tertidur setiap pelajaran dan bangun dengan teriakan ketakutan. Matamu selalu kosong, lelaki tak tertarik yang seperti itu.”

            Pulang sekolah kutatapi cermin, aku melihat gadis biasa saja di sana. Gaya rambut panjang tanpa model, kantung mata yang tebal dengan lingkaran hitam di bawahnya, kulit pucat dan keringat yang tak berhenti berproduksi, kakiku jenjang –lebih kepada kurus. Aku mencoba tersenyum, sambil membayangkan teman lelaki mana yang akan jatuh cinta pada senyumku.

Perlahan wajah ibu menegas, kudapati tatapannya seperti mengucapkan selamat tinggal, dan kakiku yang bergetar menujunya. Aku bersimpuh dan menangis ketakutan. Tanganku yang lemah menggapai-gapai. “Ibu, jangan...” aku memelas. Lalu bumi seperti berputar, menghisap aku dan ibu dalam sebuah pusaran, sedang kami berdua berpelukan sangat erat.

Aku tersentak. Waktu itu, kutinggalkan cermin begitu saja dan pergi mencari ibu. Di dalam kamar, dia duduk di dekat jendela, menatap jauh seakan ada perjalanan panjang sedang di laluinya –khayalnya.

Ingin rasanya berhenti resah, dan tumbuh menjadi seperti gadis seusiaku. Bercerita pada ibu tentang keinginan membeli minyak wangi dan pemoles bibir, tentang siapa lelaki yang mendekatiku –jika ada, atau setidaknya memiliki foto keluarga di dompet. Aku juga ingin dinasihati ayah, kemana seharusnya aku lanjut kuliah, nanti.

Sampai hari ini aku tak pernah mendapat kesempatan melakukan itu semua –mungkin takkan pernah.

*

            Ayah pulang. Seperti biasa, tanpa penyambutan. Dia membuka kulkas dan meneguk air dingin. Menengok isi lemari makan kemudian kamarku, dia tak berkata apa-apa. Mungkin hanya memastikan apakah aku baik-baik saja. Atau entah apa yang ada di pikirannya, aku ingin tahu.

            Tak lama, terdengar keributan dari kamar ibu. Suara ayah dan ibu meninggi, berteriak seperti lolongan penuh cacian.

            “Pergi dari sini, pergi dari hidupku! Aku muak melihatmu, bertahun-tahun aku bersabar menahan rasa perih ini,” untuk pertama kali kudengar mereka bicara, namun bukan ini yang kuharapkan. “jangan pernah datang ke sini lagi. Urus saja keluarga lainmu!”

            “Aku memang ingin pergi.” balas ayah sengit. “Kamu pikir aku bahagia, aku menyesal dijodohkan denganmu?! Kalau bukan karena Dian, aku sudah menceraikanmu sejak dulu.”

            Aku berdiri tak jauh dari kamar ibu. Semua terdengar jelas, membuat kakiku beku. Aku mencari-cari udara untuk bernafas, mengapa begitu sesak? Ibu masih berteriak sambil melemparkan barang, kudengar pecahan, dan benda berjatuhan.

            “Aku akan mengurus surat cerai.” pungkas ayah tegas.

         Sebelum pintu terbuka, aku telah lebih dahulu masuk ke dalam kamar, mengunci diri dan berharap ayah khilaf dengan semua perkataannya.

*

Ayah bahagia dengan keluarga barunya –sejak tujuh tahun yang lalu tepatnya. Sesekali menghubungiku, katanya rindu. Aku pura-pura membalas rindunya, jauh di dalam hati, aku ingin lupa siapa dia.

Ibu banyak berubah, pagi sebelum berangkat sekolah, dia menyisiri rambutku. “Bagaimana kalau kamu mengubah model rambutmu?” tawar ibu, kemudian dia mencium pipiku. Wajahnya sedikit lebih cerah, perceraian mengangkat bebannya. Harusnya aku senang –lama kuimpikan datangnya hari ini, tapi nyatanya tersenyum pun aku tak mampu.

Dan hidupku kini telah menjadi goa: gelap, lembab, dan dingin. Saat aku berteriak, gemanya memekak. Kalau aku menangis, seakan ada ribuan perempuan lain ikut menangis. Pernah aku berharap menjadi penyihir. Lalu kusihir diriku sendiri menjadi semut, terinjak manusia, dan mati dengan cepat.

Apakah boleh melakukan apapun sesuai kehendak tanpa mempedulikan orang lain? Apakah orang tua boleh khilaf sesuka hati mereka? Apakah seorang anak tak berarti apa-apa?” Teddy –bonekaku diam saja.

Suatu malam, kumencoba mendekatkan diri lagi pada Tuhan. Telah kuubah doaku, “Jangan biarkan aku khilaf, Tuhan.” Pintaku berkali-kali. Sebab kurasakan ada dorongan kuat yang jahat setiap melihat pohon di halaman belakang dan rasa mual yang tak tertahankan, kala mendapati orang tuaku bahagia –seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Kepada orang tua, saling menyelamatkanlah..

Jakarta, 12 April 2014
               

Friday, July 3, 2015

Sunday, June 21, 2015

Tentang Orang-Orang Kehilangan dan Merasa Kehilangan


Selamat Jalan, Adik Imha. Surga tempatmu kembali. Aamiin.

"Tak akan pernah sama. Sampai kau merasakan setiap detail, detik-detik kepergian, udara yang kebas, sesak, dan menjelma dirinya: orang-orang kehilangan." (aim)

*

Orang-orang kehilangan, perlu ruang untuk mengekspresikan perasaannya. Sekejap ada menyampaikan luka, sekejap hilang masuk ke dalam dirinya paling diam. Beri ruang yang lapang, sejenak mereka riuhkan lepas itu hampa lagi. Kita tidak akan pernah paham, karena kehilangan adalah cerita seorang.
 
 
Orang-orang kehilangan, akan terus dihantui bayang yang hilang. Boleh jadi hari ini air mata sedu-sedan, besok-besok mampu ditahan. Bisa juga sebaliknya. Atau bahkan tidak keduanya. Apalah yang bisa kita terka, persoalan perasaan selalu menggiurkan untuk diselami, padahal lautan sendiri tak dikenali.


Orang-orang kehilangan, akan menjadi sok tegar padahal tidak, sok kuat mungkin ternyata lebih, tak menentu. Karena di luar mereka, kita hanya pembaca; mengeja kesedihan. Dan tak akan pernah sama. Tunggu perputaran waktu saja, untuk kemudian kita dibaca.


Orang-orang kehilangan, yang kita tahu selalu tentang pengurangan. Dari sepuluh jadi sembilan, dari delapan jadi tiga, dari banyak menjadi sedikit. Yang kita kasihani seputar angka padahal kenangan tak terhingga. Yang kita tidak tahu, ada kelipatan kekuatan untuk bertahan. Seperti satu kuat, untuk menguatkan yang lainnya. Hasilnya mungkin nanti, saat mereka bisa tersenyum kembali.


Perasaan tidak memiliki barometer, atau neraca untuk menimbangnya dan disimpulkan: lebih besar, lebih banyak, lebih sedikit, lebih dalam, dari apa/sesiapa. Tapi sejatinya, tak akan (pernah) sama antara yang kehilangan dan merasa kehilangan. Seperti beda antara merasakan langsung terik matahari dengan terkena biasnya. Tapi satu yang sama, kehilangan adalah hilang. Entah bagaimana lagi menjelaskannya.


*Tulisan dari orang yang merasa kehilangan.
 

Ckrg, 210615
 

Tuesday, June 2, 2015

Ada yang Lebih Tabah Dari Hujan Bulan Juni


source: google

Di bulan Juni, kutemukan jejak Sapardi dari awal pagi hingga malam kini. Orang-orang tersihir, tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, begitu kalimat yang didengungkan. Purna percaya, meski kelak hujan bulan Juni turun sesekali. Tak ada yang disimpannya selain rindu, bunga-bunga melayu di bunuh waktu. Tak tahu.

Apakah benar tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni?

Di bulan selain Juni, hujan pernah begitu setia jatuh merajut sapa langit pada bumi. Musim penghujan, di tiap tahun selalu sama saja, memulai taji di awal-awal November. Saat almanak membuka hari di tahun yang baru, hujan bagai peluru membalas letusan kembang api. Januari. Lepas itu, kata ibuku, tunggu di bulan Februari puncaknya menderas. Lantai rumah mulai meninggi, bapak-bapak pulang dengan sepatu boot baru, payung berupa ukuran menggantung di dinding, jas hujan dibersihkan dari debu, dan masih banyak laku bak menjemput tamu. Selebihnya hujan jatuh sesuka waktu.

Apakah hujan selain bulan Juni begitu terburu-buru?

Tidak tabah? Tidak mampu menyimpan rindu, kepada putik bunga? Kepada apa saja yang dirindukannya? Setahun yang lalu, tepat pada hari ini di jam yang berbeda, telah kutuliskan tentang keinginan mengalahkan hujan bulan Juni. Harus ada yang tabah selain hujan bulan Juni milik Sapardi, meski padanya takzimku tak ada habis-habisnya. Kalau boleh bertemu dengan beliau sekali lagi, akan kukatakan padanya,

"Ada hujan yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, disimpannya rindu dan lebih dari itu kepada putik bunga juga kehidupan yang tak lelahnya memaksa untuk mengaku. Pilu.

Ada hujan yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, turun di musim penghujan berlindung dari kesepian dalam genangan. Turun di musim kemarau, membasahi jalan menguarkan bau debu kenangan.

Ada hujan yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, yang tak mengenal waktu. Orang-orang perlu tahu, agar kelak di bulan-bulan mendatang -selain bulan Juni- mereka sama bijaknya menjamu. Sama tersihirnya. Sama percaya, bahwa ada hujan yang juga tabah seperti hujan bulan Juni bahkan lebih.
"

Hari ini kutuliskan kembali tentang hujan, Juni, dan ketabahan. Agar ada yang mengingat lagi, ratusan hari sebelumnya sebuah pilihan telah diputuskan. Masihkah meyakininya?

Ckrng, 020615/08.20pm


*memelukSapardidalamdoa :')

Sunday, April 5, 2015

Tentang Perempuan yang Membuat Lajur Kata



source: dok pribadi

"Mencintainya harus menjadi langit, biru. Dia akan membagi senyum selengkung sabit, semerah senja, dan --aku tak bisa membayangkan lagi." 

(Gadis Langit, AIM) 


Setelah 'Ibu' satu kata yang hidup serupa tumbuhan hijau di kepalaku adalah 'Langit'. Abu-abu adalah duka. Hitam bertabur kelipkelip cahaya adalah gaun pengantin. Merah adalah raja yang kuat untuk bertahan saat fajar dan senja. Lalu biru, akan sampai dimana biru itu?


Selain 'apa kabar' dua kata yang menjadi favoritku adalah 'suatu saat', --semacam pintu yang kuketuk pelan dan kulit dunia nyata terkelupas, menampakkan penghuni dengan wajah beragam harapan dan menyapaku sopan. Kalau sudah diberi senyuman, mereka mulai mengigaukan halhal aneh. Katanya, aku bisa ke langit, melampaui bulan, mengukur sendiri tepinya (di bagian ini aku tertawa) dan masih banyak lagi. Jika aku menggelengkan kepala -tak percaya- mataku menangkap matahari itu jauh sekali dan sendiri, --seperti biasa. Pintu tertutup. Dunia memakai kembali jubah kebesarannya, pongah. 


Seperti 'Aku benci dingin' tiga kata yang sepadan negatifnya adalah 'Aku benci kamu'. Dengan tanda seru di ujung, seharusnya sudah cukup untuk membuatku berjalan mundur dan seimbang. Bukankah seperti itu, karena merasa tak sanggup... hati mengemas kebalikannya, --keterlaluan bodoh. Bila saja aku pandai menyimpan rahasia, meski di sisinya, tiga kata yang melompat-lompat seperti anak kecil akan tetap diam sebeku es krim di tangan. Tapi, 'aku cinta kamu'; Es krim meleleh; hatiku; hatinya. 


Begitulah, sekata, dua kata, tiga kata atau kekata yang kalau dibuatkan lajur, akan kewalahan nantinya. Hidup yang dilewatkan dengan diam adalah persembunyian, kalau kita menemukan hati yang baik, kita akan mulai berani keluar dan berbicara. Bukan bergunjing. Dari semut apa yang telah menggigit lenganmu sampai perihal peristiwa terluka yang disimpan menahun. Sepasang hati terus menumpahkan kata, --tanpa lajur. Panjang lebar. Penuh debardebar. 


Ah, sepertinya aku terlalu banyak berkata-kata. Selamat siang. :) 


Jkt, 18032015

Wednesday, March 11, 2015

Seperti Badut


Dia marah.
Dia merasa dibohongi. 
Tapi,

Separuh cerita yang tak diceritakan
apakah sebuah kebohongan? 

Dia bingung.
Dia merasa dibodohi.
Seperti badut.


Tuesday, February 17, 2015

Suatu Pagi


sumber gambar: dok pribadi

Pada satu pagi, kamu datang dan menghempaskan badanmu di sofa. "Aku kembali, Na. Suka dan duka adalah dinamika. Aku lelah menghakimi kehidupan." Lalu kamu tertidur, lama.

Di raut wajahmu, telah kubaca tentang nestapa. Setelah kamu bangun dari tidurmu yang lelap, aku tahu kamu akan melenggang melewati pintu itu kembali. Seperti selama ini.

Maka yang bisa kulakukan hanyalah memandangimu, berharap kamu mau berbagi pada seseorang yang tak pernah beranjak pergi. Dari rumah ini dan kamu.

Jkrt, 180215

Saturday, February 14, 2015

Bicara


sumber gambar

"Kalau aku mengucap sepatah kata, mereka akan menyatukannya dengan beberapa patah milikmu, memaksanya menjadi cocok lebih tepatnya. Aku sedikit risih." Dia memasang wajah ketus. Aku berjalan mengiringinya."Aku ingin keluar dari situasi tidak mengenakkan ini," lanjutnya. "Tapi apa yang harus aku lakukan? Diam saja?" tutupnya dengan nada suara melemah.

"Tetaplah bicara. Seperti biasa. Bisa?"

Dia menghela nafas panjang.

Jkrt, 150215

Diam


sumber gambar

Jangan memberi diam pada katakata yang hidup di kepalamu
dan menghempaskannya setelah kau kumpul jadi satu. 
Diam yang panjang serupa pedang, dia bisa mengiris 
hati yang rapuh, belum cukupkah mata menumpah tangis?  


jkrt, 151114

Thursday, February 12, 2015

Pahamilah, Ai!


seperti ketulusan alam dng pesonanya :') 


Karena ketulusan adalah mahadaya; cinta.

*
Pahamilah, Ai. Ketulusan bukan suara, bukan bunyi, yang mampu ditangkap indera pendengar kita. Tak perlu dibisiki atau diteriakkan. Tak usah mencari pengakuan. Ketulusan begitu lembut mencari tempatnya, begitu hangat sampai di hati, lalu menyejuk di tiap relungnya. Karena ketulusan adalah mahadaya; cinta.

Jkrt, 130215

Thursday, January 29, 2015

Penghuni Draft #5


MENANTI DERITA

Jika semua orang berusaha menjauhinya dan berharap tak pernah disapa dalam hidup walau sekali saja, Aliana justru menantinya. Menanti derita: yang baru disebut di mulut, otak dengan cepat merefleksikannya menjadi sangat menakutkan.
Aliana memiliki segalanya. Ini bukan tentang kisah gadis cantik yang berlimpah harta namun kekurangan kasih sayang. Broken home. Atau gadis yang baru saja diputuskan pacarnya kemudian berniat bunuh diri. Bukan, bukan itu. Ini Aliana yang baik hati. Gadis kebanggaan orang tua, guru-guru, juga teman-teman di seantero sekolah. Kecantikannya tak membutakan rasa sosialnya yang tinggi, siap memberikan bahunya pada teman yang silih-berganti datang untuk berkeluh dan berkesah. Aliana adalah alamat kebaikan.
Namun, ketika dia berkata menanti derita, adakah yang salah?
Aliana mengucapkan sesuatu. Lalu memberikan sedikit senyum, sedikit sekali hingga terlihat seperti seringai kecil. Terburu-buru meninggalkan Hadi yang terpaku mendengar sepotong kata dari mulut sahabatnya, “Aku menanti derita…?” ulang Hadi pelan.
Aneh.
Ada apa dengan Aliana?


 *

Yay!!! Cerpen 7 Oktober 2011 --,
Appajiiiiiii mukerja Iissssssss, kenapa pendek sekali ini cerpen, terlalu cebollllll
huhuhuhuhu nda bisaku, ampun dah ah!

Penghuni Draft #4


MELATI

Kiranya dia mengenal aku. Melati. Yang menemaninya tertawa, ketika dia salah memakai sepatu. Atau, si pendengar setia  bisikan jahil tentang Marlyn Monroe yang punya enam jari di kaki kirinya!
Kiranya dia mengenal aku. Melati. Yang mengetuk pintu rumahnya, untuk kali ini. Karena sebelumnya aku selalu nyelonong masuk dan membangunkan dia yang terlelap dalam kemulan selimut. Mengacak-acak rambutnya. Berteriak bak orang gila yang terlepas belenggu. Dia akan tersentak bangun, mendengus, menyeringai kejam, setelah sadar dilihatnya aku berdiri gigit jari bersiap kabur dengan gelak tawa yang menggemakan rumah kosong miliknya.
Kiranya dia mengenal aku. Melati. Perempuan yang selalu berjanji takkan kalah pada air mata. Itupun karena paksaannya. Dia bilang: Melati, air mata boleh keluar untuk dua hal. Pertama, saat mengupas bawang. Kedua, saat aku mengijinkan.
Bagaimana sekarang? Dia yang tak berkata apapun padaku. Aku sudah sangat ingin menangis. Sangat. Banyak sangat, dia harus tahu itu.
Kiranya dia mengenal aku. Melati. Bukankah tiga belas tahun adalah waktu yang cukup lama? Dulu awal jumpa. Dia lima tahun-aku empat tahun. Sekarang saat sesuatu terlupa. Dia delapan belas tahun-aku tujuh belas tahun.
Dan yang menyakitkan adalah: Yang terlupa itu, aku.

*

 Aku, melati yang mewangikan harinya. Dia berkata seperti itu sebelum benar-benar berlagak konyol, mengabaikan panggilanku, acuhkan senyumku, dia seperti orang baru yang sombong dan tak peduli siapa aku yang mati keheranan di hadapannya. Dia pun berlalu.
Dia aneh.

Dulu aku biasa saja dengan segala keanehan yang dimilikinya. Karena ‘aneh’ itu begitu mendamaikan dan
*

Cerpen 19 Agustus 2011, hell yeah -___-
Kalau gak salah saya bikin cerpen ini dengan versi yang berbeda-beda, salah satunya pernah dishare ke FB. Pas banget punya temen FB namanya Kak Melati. Huh yahhhh :D

Penghuni Draft #3


MENGEJA CAHAYA

Kamu sudah berusaha. Hidup-mati. Siang-malam. Sehat-sakit. Kau gadaikan waktu di sebuah ruang persegi yang dingin oleh angin tak alami, bekerja 1x24 jam, dikali 30, dikali 12, dikali 10 lagi. Kamu dan AC di ruanganmu 3600 hari berduet mengerjakan sesuatu yang bagimu lebih penting dari sepiring nasi yang menganggur di sudut meja. Tak dipedulikan. Kamu mau, dimakan. Jika tidak, basi dan terbuang. Selalu seperti itu.
Ditambah satu hari lagi. Tepatnya, sebelas jam berlalu.
Kamu duduk di singgasana-mu yang terasa tak nyaman seperti biasanya. Ada yang aneh. Berkas dihadapanmu; angka-angka menari, aksara muncul-tenggelam, kertas terisi, lalu kosong. Kamu terperanjat, sesaat. Mengucek mata, mengendorkan dasi membiarkan udara mengalir lancar. Kamu merasa sesak. Sesak sekali.
Ada apa?
Kamu stuck pada satu titik di suatu hari. Diam. Memandang seberkas cahaya matahari yang menembus tirai jendela.
Sesuatu muncul dari palung hatimu yang terdalam, seperti ada bangkai kapal yang muncul di permukaan setelah bertahun-tahun lamanya terkapar di dasar laut. Menyentakkan.
Kosong.
Adalah ‘bangkai’ di dalam dirimu, sebuah kekosongan.


*

:( ini juga dibuat pada 15 Oktober 2011 :(
Cerpen ini, sangat filosofis dan kontemplatif rasanya.... jika dilanjutkan. JIKA!
Pfttttt

Penghuni Draft #2


INANIMATE

Bercerita tentangnya sungguh kelu. Apa yang bisa kuceritakan jika aku sendiri tak tahu. Apalagi semua kesukaannya seperti yang ingin kau ketahui. Baiklah! Aku memang adiknya. Tapi masalahnya dia lebih terlihat seperti anak tunggal. Tanpa aku. Membingungkan. Sungguh jangan suruh aku cerita tentang dia.

*

            “Kak, dipanggil sama ibu.”
            Dia menoleh dan kembali menekuri kediamannya. Dia pergi atau tidak bukan urusanku, yang jelas aku sudah menyampaikannya.
            Aku melihat panggilan masuk. Kamu lagi, kamu lagi. Aku menekan tombol ok.
            “Kita sudah sepakat. Kamu cari tahu sendiri.” Tanpa basa-basi aku menyemprot.
            “Bantu aku Nada, pliss…’
            Kamu tuh… Ah, berhentilah  memasang suara memelas layaknya tak makan satu minggu. Pertahananku selalu gamang mendengarnya.
            “Aku sudah pernah coba, lihat hasilnya…nihil. Apa lagi?” aku menyerah.
            Dari seberang sana semangatmu menggebu. “Minta padanya tuk bercerita!”
            Aku tercekat. Apa? Gila! Aku matikan panggilan. Kesinilah dan saksikan sendiri bagaimana dia hidup. Jangan buta sebelum kamu lihat siapa yang kamu cintai. Benda mati.
Telepon genggamku di saku bergetar. I’m Alive milik Celine Dion mengagetkanku. Membaca nama yang tertera seperti sebuah musibah. Kamu. “Apa?”
            “Sorry, bantu aku untuk kali ini saja Nad. Kita akan bicarakan ini di rumahmu. Tunggu aku.”
            Putus.
            Hah, aku belum mengiyakannya. Bagaimana bisa kamu setertarik itu padanya? Lihatlah! Dia melintas seperti bayangan. Aku bergidik ngeri.

            “Apa lagi?”
            “Hobi, makanan kesukaan, film favorit, cita-cita, nomor sepatu, nomor Hp, hal yang paling tidak-”
             “Hentikan!” mukamu kena sasaran timpukan boneka Spongebob milikku. “Lama-lama aku bisa gila. Sekarang kamu keluar dan lihat sendiri bagaimana kakakku. Jika nyalimu besar, tanyakanlah langsung biodatanya.”
            Kamu cemberut. Aku melengos, capek. “Dia benar-benar tertutup. Aku hanya tahu nama dan tanggal lahirnya. Itu saja yang bisa kuberikan.”
            Kamu menatap tak percaya. Tak peduli mau percaya atau tidak, itulah kebenarannya. “Kok bisa?” tanyamu.
            Aku mengangkat bahu. Senyummu berbinar cerah, kerlingan matamu yang nakal menandakan ide gila tengah memenuhi otakmu yang dipenuhi bayangan wajah kakakku. Cinta, cinta. Harus ada yang bisa menafsirkannya lebih baik lagi dari kamu. Cinta sama dengan gila.

*

            Dia memang tampan. Postur tubuhnya tinggi. Dilihat dari arah mana saja, selalu nampak… yah, tampan. Kamu mengucapkannya berulang kali. Jika saja, tampan itu berarti makhluk hidup, tanpa segan aku akan mengakuinya sebagai kakakku. Tidak seperti ini, bagai  memandang benda tak bernyawa. Diam memandang langit. Langit juga diam dipandangnya.
            Aku menarik nafas dalam-dalam. Demi kamu, seharusnya aku merekam moment ini dan memperlihatkannya padamu. Idemu sungguh menakutkan. “Dekatilah dia. Kamu akan menemukan dua keuntungan: kamu akan mempererat persaudaraanmu, tidakkah kamu ingin itu? Dan, otomatis kamu tahu informasi tentang dia yang bisa kamu beri tahu padaku. Bagaimana?”
Aku sedikit tertantang. Harga mahal untuk melakukan ini.
            “Kak,” Aku sampai di sampingnya. Satu kursi kosong menjadi spasi.
         Dia menoleh. Datar. Tidak mempersilahkan duduk, tidak juga mengusirku. Aku mengumpulkan keberanian. Duduk.
            “Lagi lihat langit?” Ah, tentu saja, anak umur tiga tahun juga tahu itu. Aku menyadari kebodohanku sendiri. Aku meliriknya, tak berubah. Tentu saja.
            Detik-detik berlalu. Seperti inikah hidup dalam keheningan?


*

Dan ini, -____- cerpen 5 Juli 2011 Hahhh!
Hellloooooo, ngapain aja gue selama ini, padahal cerpen ini sudah ada endingnya di kepala. Brrr
            

Penghuni Draft #1


MATA BIRU SAHABATKU

“Cepatlah, dia datang!” si mata biru berbisik dengan nada takut yang berlebihan. Perempuan berkucir kuda menoleh dan melototkan matanya.
“Bersikaplah santai, Glen.”
Dengan ketenangan yang tak dibuat-buat, kedua tangan lentik bermain lincah di tombol keyboard, matanya lurus menatap layar computer yang bertebaran angka dan huruf. Perempuan itu tersenyum, licik. Dengan penuh percaya diri dia menekan tombol enter. Tanda copying tertera dengan waktu lima menit. Si mata biru, Glen, menghapus keringat yang mengucur di kening dan lehernya. Lelaki itu tak pernah nerasakan setakut ini, tepatnya sejak kedatangannya ke Indonesia tiga tahun lalu.
“Semua akan berjalan lancar Glen, kau tak perlu belajar mati-matian hingga kepalamu pecah. Soal-soal ada di tangan kita. Apakah kau meragukan persahabatan kita?”
Perempuan itu bersiul kecil. Glen diam, merenungi perkataan Laura.
Inikah arti persahabatan? Glen ragu. Tapi hanya Laura yang tahu betapa tersiksanya dirinya di sekolah menghadapi pelajaran-pelajaran walau mudah tetap saja terasa amat sulit baginya. Sayangnya, keluarga Glen tidak mengerti. Yang mereka tahu hanya menuntut Glen -anak semata wayangnya- berprestasi. Hanya itu.
“Glen,”
“Eh,”
“Ini. Ambillah…”
“Aku takut Laura.”
Laura menggenggam tangan Glen. Tersenyum, “Aku akan lebih takut lagi kalau kamu tidak lulus dan orang tuamu memakanmu mentah-mentah. Kamu tahukan maksudku?”
Glen tergelak, lalu buru-buru menutup mulutnya. Mereka bersalaman, erat. Pintu kantor SMA GARUDA terbuka. Kertas di tangan Glen jatuh seketika.

*

Well, ini cerpen 15 Oktober 2011. 
Seingatku, saat itu aku ingin membuat cerpen untuk remaja bertema persahabatan. Kayak sinetron yah? :( Nyatanya tak pernah selesai. Hanya sampai di situ saja. Fiuhhhh...

Thursday, January 22, 2015

Menunggu Kunang-Kunang (saja)


sumber gambar

Apa yang kamu lakukan?

Menunggu kunang-kunang. Kamu?

Menunggumu menunggu kunang-kunang.


(bukankah percakapan di atas sama saja seperti di bawah ini?)


Apa yang kamu lakukan?

Menunggu seseorang. Kamu?

Menunggumu menunggu seseorang.


(ah, aku pikir tidak. mari bercakap, seperti percakapan pertama saja)


Jkrt, 230115

Saturday, January 10, 2015

Dan Seseorang Seperti Apakah Kamu?


Seseorang membaca tulisanku, menganggap aku perempuan labil yang bila bahagia dan sedih berlebihan. Hari ini menulis penuh kecerewetan esoknya tulisan bagai tubuh penuh luka. Seseorang itu pun menjadi malas untuk membaca tulisanku lagi.

Seseorang membaca tulisanku, juga menemukan hal yang sama, tulisan labil dari seorang perempuan entah siapa. Namun dia malah menganggapnya sesuatu yang unik. Terus membaca, tak peduli betapa kacau tulisanku menggambarkan perasaan; dia menyukainya. Seseorang itu pun terus membaca tulisanku.
Seseorang membaca tulisanku, tetap sama, di matanya seperti tak menentu adanya. Namun jauh di lubuk hatinya, dia sangat menyukainya. Selalu menanti tulisanku, menjadikan inspirasi untuk ikut menulis, dan... lambat laun, dia tak hanya menyukai tulisanku tapi juga aku. Seseorang itu pun tetap membaca tulisanku dan menyukaiku untuk waktu yang tak mungkin kutahu.

Jadi, dari seseorang seperti apakah kamu?

Jkrt, 201214