Monday, December 30, 2013

Lengang



Seseorang pernah berkata, "Kadang (antara dua orang atau lebih) memang harus dipisahkan, agar bisa melihat lebih jelas." Mungkin ada benarnya. Kita memang selalu butuh jarak untuk bisa membaca dengan baik, menghargai pertemuan, dan untuk mengetahui arti rindu juga kehilangan.

Lalu dengan alasan apa kamu berjarak denganku?

(Cahya Sidratulmuntaha Daties)

*

Alasanku adalah untuk menyembuhkan hati. Hati yang kumiliki sedang 'sakit', menyimpan banyak kekotoran. Menyimpan keraguan. Menyimpan ketakutan. Menyimpan kemarahan. Menyimpan duka. Menyimpan luka. Hatiku bagai gudang yang menyimpan barang rusak, sesak. Hatiku sakit parah. Hatiku benar-benar sedang dalam stadium akhir. Sekarat.

Inilah aku dan hatiku sedang memasung jarak: pada segala 'keduniaan' yang sungguh indahnya membutakan. Inilah aku dan hatiku sedang menambat jarak: pada tangan Ar-Rahman yang hangatnya sungguh menentramkan jiwa. Aku datang karena firmanNya, dengan mengingat Allah hati akan tenang. 

"Aku datang, Allah. Aku datang... sembuhkan aku. Tolong aku dari penyakit hati yang merusak diriku. Yang membunuh pikirku. Yang mengeraskan hati. Selamatkan aku..."

Dan kamu, maukah kamu menunggu hatiku sembuh? Semoga kebijaksanaan mengisi lengang. Antara aku dan kamu.


Malam, 31 Desember 2013/00.33

Thursday, December 26, 2013

Sebuah Cinta yang Dilipat


Terbanglah....

Kuberi tahu padamu, sebuah rahasia yang tak layak lagi menjadi rahasia. Lalu, sebutlah sesukamu. Namakanlah sesuai pikirmu. Sebab yang kuceritakan padamu adalah tentang sebuah cinta yang dilipat waktu. Dilipat dalam keadaan pilu serupa mawar yang layu. Merahnya membakar, dirinya sendiri.

Sebuah cinta yang dilipat di atas meja kayu, kujelma ia menjadi burung; yang siap diterbangkan ke laci meja; yang siap dilepas ke tangan mungil anak-anak tetangga; yang siap dihempas ke tempat sampah. Walau pada akhirnya, burung itu akan terus melekat ditanganku. Sungguh mati aku belum siap melepaskan.

Sebuah cinta yang dilipat semau aku. Kini kuberikan padamu. Jadikanlah semau dirimu, karena ini lebih baik. Aku tak melepaskan, hanya memindahkan. Dan ini bukan (lagi) rahasia, tak usahlah merasa istimewa. 

Biasa saja!


Malam dan segala kegelapannya, 26 Desember 2013.

Friday, December 13, 2013

Sepotong-Sepotong



_jika kamu hanya mengambil potongan kecilnya saja, akan ada orang lain yang mengambil potongan besarnya_


Ah, saya lupa kutipan dari mana itu. Tapi saya ingat, dia membahas tentang cinta. Ya ya ya, what else? Saya tidak pintar-pintar amat tentang hal ini. Masih banyak salahnya. Masih banyak kalahnya. #eh Tapi rasanya saya pernah ingin mengambil penuh, tanpa memotong-memotong cinta -yang tak saya kenal- itu. Tapi  benarlah hidup itu ujian tak legal, banyak contekan. >.< Maksud saya, penuh pengalaman orang lain. Mereka 'mengajarkan' saya untuk menepis ego, mengembalikannya kembali dan mencoba bersahaja. Yah,  adalah sepotong saja di sini. Di hatiku. Entah potongan kecil atau besar?

Saya itu aneh. Karena takut kehilangan, saya gila berdoa. Padahal saya pelupa akut, bahwa saya tak memiliki apa-apa. Jadi, apa yang bakalan hilang yah? Ah, lupakan!

Saya hanya sedang senang saja. Senang yang sedikit aneh. :D 

Ah, iya, saya berbentuk potongan apa yah? Ahahaha.

Selepas senja, 13.12.13.

Wednesday, December 11, 2013

Dengan Kata Lain


Dengan kata lain, saya mengganggu. Bila benar, saya tak baik. Pula tak hebat.
Ah, pengganggu mungkin tepat. Bila salah, saya tak juga merasa. Saya hanya
mulai merasa bodoh. Ini tak baik. Saya merasa lelah. Ini juga tak baik. Saya
ingin tak merasakan apa-apa. Tak melakukan apa-apa. Tak memikirkan apa-
apa. Tak lagi terikat apa-apa. Tak-

inginkan siapa-siapa. 

Dengan kata lain, saya mengganggu. Mengganggu takdir.


11.12.13/23.59

Tuesday, December 3, 2013

Hanya Angin Lalu


KALIAN BOLEH PERGI DARI HIDUPKU SEBAGAIMANA SAYA MEMBOLEHKAN KALIAN HADIR DALAM HIDUPKU. SO SIMPLE!

Tuhan Saja



Jika pertolongan manusia itu sulit sekali kamu dapat, 
pergilah ke Tuhanmu Iis. Tuhan takkan menyia-nyiakanmu.

Aku Tahu Kamu (sedang) Berbohong!


Please...
Teman: blablablablablabla (menguraikan alasannya)
Saya: Ah, yah.
Teman: blablablablablabla (menambahkan alasannya)
Saya: Oh begitukah?
Teman: blablabablablabla (memperpanjang alasannya)
Saya: Ehmmm...
Teman: blablablablablabla (memperindah alasannya)
Saya: Okkeh
Teman: blablablablablabla (menutup alasannya)

*

Ahahahaha, tak ada yang lebih sakit kawan, ketika kamu bercakap pada seseorang yang padanya kamu tahu dia sedang berbohong. BER-BO-HONG! Baiklah, jika permohonan tolongku tadi terasa berat, mengapa tak ditolak saja tanpa membuat-buat alasan yang sumpah demi Tuhan aku tahu itu bohong?! tenanglah, aku takkan marah. Karena ketika kita minta tolong pada seseorang, kita harus siap untuk diterima atau ditolak, aku paham itu. Tapi, kalau harus berbohong segala, sungguh menyakitkan. Hei, you're my friend, F-R-I-E-N-D! Bukalah kamus dan baca apa artinya itu...sungguh ini menyakitkan!

Kejujuran yang pahit itu lebih baik dari kebohongan yang manis. 

Yayayaya, rasanya kalimat itu mewakili. Seseorang pernah jujur padaku, dan saat itu rasanya sedih sekali, aku pikir kenapa dia mengatakannya, diam sajalah, bukankah itu lebih baik? Tapi hari ini aku sadar, seseorang itu telah berbuat hal yang benar. Karena rasa sakit dibohongi itu LEBIH menyakitkan daripada mendengar pahitnya sebuah kejujuran. Sungguh, sampai kupikir ingin rasanya aku mengunci mulut temanku dengan teriakan, "Berhentilah! Aku tahu kamu sedang berbohong!!!"

Astaghfirullah.

Iis, seperti inilah rasanya dibohongi. Maknailah! Maknailah! Maknailah! 

Aku hanya penasaran saja, apa temanku masih bisa tersenyum padaku, saat aku mengatakan padanya bahwa aku tahu semua yang dia katakan padaku adalah BOHONG?!!!


Siang yang panas, 04-12-13.



Thursday, November 28, 2013

Jika Lampu Sudah Dipadamkan


Tidak ada yang sempurna di bawah langit biru, Is.Di antara rimbun awan. Di sela padang ilalang. Pula di rintik air matamu yang lekas kering ditiup angin malam.

Jika lampu sudah dipadamkan. Tidur sajalah, Is. Usah risau tentang kegelapan, bukankah kau mencintai sabit, bulan yang tak sempurna itu? Ah, tak sempurna lagi.

Jika lampu sudah dipadamkan. Berhentilah menggaris kehidupan di langit-langit kamar, Is. Hujan di luar adalah jatuh ke atap genting dan meluncur ke tanah, tidak ke hatimu, sekering apapun. Dari tanah itu, hiduplah kehidupan yang tak sempurna.

Jika lampu sudah dipadamkan. Apakah serta kesempurnaan muncul di pelupuk matamu, Is?

*pray for my grandma, syafahallah.

Malam, 23.11.13/22.23

Waktu Yang Tepat Memejamkan Mata



Tembok kamarku berwarna merah muda, sebelumnya biru, namun itu sekitaran 12 tahun yang lalu. Akan kuceritakan satu hal yang lebih penting dari sederet poster Amigos juga Sheila on Seven, favorit masa kecilku.

Di kamarku, di waktu tidur, aku (selalu) masih terjaga. Menerawang memandang pendar lampu yang silau, namun membuatku gerah dan aku suka.

Di kamarku, setelah malam semakin larut, akan ada yang membuka pintu kamar. Matanya awas menyusuri tiap jengkal ruang. Setelah itu, akan ada banyak tepukan. Di tembok, lemari, meja baca, kaki adikku, pipiku, ramai sekali. Lalu aku pun tertidur, karena lampu telah dimatikan. Dan derit pintu tertutup telah kudengar.

Di kamarku, saat aku terbangun di pagi hari, aku tahu tembok kamarku yang merah muda tak semulus semula. Ada banyak bercak panjang bekas darah nyamuk, ada juga di pipiku, di beberapa bagian tubuh adikku, di lemari, dimana-mana dan bertambah tiap waktu. Terulang selalu.

Di kamarku, aku tak tahu saat yang tepat memejamkan mata. Tapi aku tahu waktu yang tepat untuk membuka mata, yaitu pada malam dimana seorang ibu yang diam-diam melindungi anak-anaknya dari gigitan nyamuk. Memecah sepi dengan tepukan. Lalu mencipta tenang dan nyenyak. Sampai waktu menambah usia anaknya kelak.

Di kamarku, aku bertanya-tanya, apakah ada ibu seperti mamaku?

*

Kalau aku ikut ujian
lalu ditanya tentang pahlawan.
Namamu ibu akan kusebut
paling dahulu.
Lantaran aku tahu,
engkau ibu dan aku anakmu.
(Ibu, D Zawawi Imran)


Bukan di kamarku, 21.11.13/22.32

Tulisan Tak Penting Lagi


1.
Tak ada yang mampu membaca hati terdalam
mengapa pula inginmu dirasakan. Tak kau nyatakan.
Kau pikir kau siapa, Is?

2.
Perasaanmu ekstrim. 
Makan es krim sajalah, Is!

3.
Sudah berniat berhenti?
Sudah siap mati, Is?

4.
Lebih penting setelah 'tapi'
daripada sebelum. Tapi, Is...

5.
Kau kacau, Is!
Semoga kamu juga.

*ini apa yah?* -_-

Puisi Musim Gugur #1

DAUN-DAUN MUSIM GUGUR 

:)

Setangkai daun mapple yang telungkup
Bersaing warna dengan kuning senja
Di antara baris-baris pohon yang mulai renta
Angin musim gugur menyapa dengan kecupan dingin
Seperti ini puisi dibacakan, dan mereka berpaling
Meski airmata di pelupuk tak sanggup berdusta
Sore cepat menabur warna
Orang-orang melangkah sedih
Dengan busana yang menyentuh tanah, dihitungnya
hari yang terbuang di kantor-kantor bank
Atau pada meja yang selalu penuh arsip
Mungkin, pekerjaan datang seperti kelahiran bayi
di negara dunia ketiga: tak putus-putus
Mungkin perasaan sudah waktunya digosok kembali
dengan beberapa perjalanan tanpa beban
Suratmu terakhir kali, bisa jadi telah kehilangan huruf
Terletak masai, mirip setangkai daun mapple
yang akhirnya terlempar oleh deru mobil
Semakin banyak saja hutangku padamu:
Rindu yang akhirnya berbunga waktu
Atau dendam
Untuk sekedar menampik keinginan bertemu
Sudahlah --tahun bagai tak sabar menanti metahari
tenggelam. Setelah itu: seolah dimulai lagi penciptaan bumi
Untuk menulis kembali nama-nama di atas daun
Untuk menangkap kembali peristiwa reranting jatuh
di musim gugur...

(Kurnia Effendi)

***

Seperti inikah akhirnya: Rindu yang akhirnya berbunga waktu
Atau dendam 




Wednesday, November 20, 2013

Di Surat Ke-14



Aku dan Tuan Alien

Di surat ke-14,
tokoh Aku menemukan 'kekasih'
yang sedikit mampu -mungkin- mengalihkan
pikirannya dari Tuan Alien yang
tak sedikitpun mengingatnya.

Aku bahagia melihat, sebenarnya membaca,
si Aku yang bahagia. Dan percaya bahwa 
tak ada kesedihan yang benar-benar abadi.

Di surat ke-14,
Si aku benar-benar bahagia
menemukan 'kekasih'
yang sama anehnya dengan dirinya.

Di surat ke-14,
si Aku rupanya tak tahu
bahwa di surat-surat berikutnya
dia akan terluka, lagi.
Dikhianati, lagi.
Sendiri, lagi.

Di surat ke-14,
aku ingin berhenti membaca di sini saja.
Aku tak ingin ikut terluka.
Lalu menangis sendirian 
di kamar yang lengang.


*setelah membaca Novel,
Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya
karya Dewi Kharisma Michellia


Dua Orang Asing Di Akhir November


Apakah aku bahagia? Apa aku baik-baik saja? Apa sarapanku enak? Apa hidupku berjalan lancar? Apa aku sedang merasa bersalah? Apa aku melewatkan sesuatu? Apa aku menyesal? Apa aku sudah baikan?

Apa semenyedihkannya hidupku hingga di beberapa hal aku bertanya pada diriku sendiri? Apa tak ada orang lain yang mau berbasa-basi untukku? Hahaha. Hei, bukankah aku malas berbasa-basi?! Tapi kenapa akhir-akhir ini aku menginginkannya, yah? Uff.

Hidup ini indah. Untuk perempuan rumit sepertiku, hidup menjadi lebih sinetron dari biasanya. Aku akan memikirkan banyak hal -imajinasi liar- dan meratap sendirian jika menyedihkan, lalu tertawa sendirian jika lucu dan membahagiakan. Dimana letak keindahannya? Mungkin di sana, di ke-sen-di-ri-an itu! 

Sepulang mengajar, di perjalanan pulang aku memilih jalan memutar. Jalan panjang yang memberikan banyak kesempatan untukku menemui banyak orang: pejalan kaki, teman, warga, anak-anak SD, penjual, dan orang asing lainnya. Sebelumnya, ada jalan singkat yang kulewati tiap waktu, jalan yang lengang tanpa siapa-siapa. Jalan itu adalah pilihan ketika aku malas bertemu siapa pun, malas membalas sapaan, malas bertanya-menjawab, aku menjadi manusia unsosial yang hanya memikirkan bagaimana aku bisa sampai di rumah dan pulang. Itu saja! 

Oia, di perjalanan panjang tadi, sambil menahan beratnya isi tasku juga batuk luar biasa yang membuatku kelihatan lebih tua, aku membuat satu harapan -yang mungkin terlambat- di akhir November. Jika sebelumnya, di bulan Oktober aku membuat 3 harapan dan hanya 1 yang terwujud -ah sepertinya aku sudah terbiasa tak mendapatkan apa yang aku inginkan- untuk kali ini, cukuplah satu saja. 

*

alangkah indahnya, jika pertemuan asing itu terjadi di sini. :)

Aku berharap, sebelum November benar-benar berakhir, aku bisa bertemu dengan 'orang asing' yah, asing! Orang yang tak aku kenal dan dia tidak mengenalku. Tak peduli dimana kami akan bertemu, di bangku taman, di pinggir danau, di mall, di masjid kampus, di mana pun aku tak peduli. Yang aku inginkan hanyalah dia harus orang asing, makhluk asing -jika ada- pun tak jadi soal.

Kami bertemu. Tanpa ada perkenalan, tanpa menyebut asal, agar kami tetap menjadi asing di sepanjang pertemuan. Lalu, kami bercerita banyak hal. Bukan mengobrol. Tidak ada interaksi dua arah, tidak, dan aku akan memulai lebih dulu tanpa aba-aba. Aku akan menceritakan SEMUA yang ada di kepalaku bahkan rahasia-rahasia yang sudah menahun, tentang rasa lelahku, kegelisahanku, kesedihanku, kebahagiaan, hal-hal kecil yang mengganggu hidupku pula hal-hal besar yang telah merusak hidupku. Orang-orang yang ingin aku temui, harapan-harapan selama hidup, menyebut satu per satu tanpa beban. Aku seperti tumpah, jika aku adalah air. Meluah-luah. Aku akan menangis, di bagian yang paling menyedihkan. Aku akan tertawa, di bagian yang paling lucu tentunya. Aku akan marah dan berteriak layaknya orang gila, jika rasa benci sudah melewati batasnya. Aku akan terdiam sejenak, mengambil nafas, dan menatap orang asing di sampingku yang setia mendengarkan seluruh keluh dan kesah. 

Kami tak membuat batas waktu, karena pertemuan ini akan berakhir jika memang waktunya berakhir. Pertemuan ini tahu, apakah semua sudah tuntas atau belum. Dari pihakku juga orang asing itu. 

Ah, orang asing itu bukan patung, tentu dia akan bereaksi mendengar ceritaku yang penuh emosional, tapi yang bisa dia lakukan hanyalah tersenyum-tertawa-geram-murung, yah sesuai dengan ritme ceritaku. Aku tak mengizinkan dia menepuk pundakku, mengusap air mataku, apalagi berbicara menanggapi persoalan hidupku. Yang orang asing itu boleh lakukan hanya MENDENGAR, hanya itu!

Jika sudah selesai semua yang ingin aku ungkapkan, maka orang asing itu akan memulai ceritanya juga tanpa aba-aba. Dia akan melakukan seperti apa yang telah kulakukan. Kami berganti posisi, kini aku yang menjadi pendengar. Yang menangis-tertawa-marah-benci-geram-sedih- dan menahan diriku untuk menepuk pundaknya, mengusap air matanya, atau yang paling berat adalah menahan mulutku untuk memanggilnya. Orang asing itu menceritakan banyak hal, sepertiku, dia bagai gunung Merapi yang memuntahkan lava. Lalu berhenti setelah merasa dirinya telah kosong, selesai.

Orang asing itu akan menatapku dan aku menatapnya. Kami adalah dua orang asing yang bertemu di akhir November. Kami adalah dua orang asing yang baru saja melepas beban. Dua orang asing yang siap menyambut Desember dengan segala keringanan hati. Aku bersyukur bertemu dengannya, mendengar cerita hidupnya yang ternyata -mungkin- lebih mengenaskan dari ceritaku. Aku pun belajar banyak darinya .Begitu pun dia.

Teng!

Pertemuan harus berakhir. Tak ada yang menghitung seberapa banyak waktu yang kami habiskan di pertemuan itu. Lalu, sedalam apa pun perasaan yang terjadi di antara kami nantinya, (bukankah sesebentar apapun pertemuan selalu melahirkan keterikatan emosi?) aku dan orang asing itu akan berpisah. Kami akan bertolak sesuai kedatangan kami, mungkin aku ke barat, dia ke timur. Aku akan pulang ke rumah dengan hati yang terasa ringan, namun pikiranku penuh cerita hidupnya. Dan orang asing itu juga sama. Kami benar-benar menjadi asing sejak bertemu hingga berpisah. Hingga tak ada ketakutanku, atau dia, cerita-cerita yang kami utarakan terbongkar. Dan tak ada dari kami yang mencoba menoleh, merusak pertemuan asing ini dengan menanyakan nama. Apalagi mencoba menghadirkan 'perasaan asing' yang membuat salah satu dari kami berontak dan memilih jalan yang searah. Itu semua tak (boleh) terjadi. Kami berpisah seperti halnya kami bertemu: asing!

Karena harapanku, hanyalah bertemu orang asing di akhir November. Bukan untuk bersatu. Hanya itu!

*

Mungkinkah harapan ini bisa terwujud? Hahaha, sudah kukatakan, banyak kali aku mendapati harapanku tak dapat kuraih. Aku terbiasa untuk itu, bukan berarti aku pasrah saja dan tak mau memperjuangkannya. Tapi, untuk harapan yang satu ini, aku tak tahu. Aku hanya berharap saja, dan melewati hari-hari di akhir November seperti seharusnya. Harapan ini aneh yah? Tentu saja. Aku juga aneh kok. :)


Siang, 20.11.13/13.08 Wita

NB: Terima kasih adik, An. Untuk celotehmu yang menginspirasi. Tetaplah tersenyum.... ^_^


sumber gambar

Monday, November 18, 2013

Terima Kasih, Waktu!


Akhirnya terjawab. 
Senang. 
Walau luka. 
Tapi, bahagia.


*apa kubilang ini*

Siang. 19/11/13

Hari Dimana Aku Ingin Melupakannya Dan Memilih Menuliskannya


huh!

Di suatu malam, bilakah harus mengukur bahagiaku
tak lepas biar sedetik senyum manis di bibir.
Tapi, malam itu panjang, sekali lagi
malam itu panjang dan menyimpan misteri.

Di suatu malam, aku harus berjuang untuk tetap menjadi sadar
walau malam sudah getir dan satir.
Tapi, malam itu panjang, sekali lagi
malam itu panjang dan siap menjatuhkan.

Aku berkata, ini sudah tarikan nafas yang keberapa?
Aku berkata, ini sudah 'tidak apa-apa' yang keberapa?
Aku berkata, ini sudah 'akan baik-baik saja' yang keberapa?
Aku berkata, ini sudah 'tidurlah' yang keberapa?

Di suatu malam yang panjang
saat kecemburuan menjadikan aku bukan aku.

Mari lupakan!
 

Malam, 14/11/13


Di Sepanjang Jalan Saat Ayah Menggenggam Tanganku


Miss you dad...

Ayah menggandeng tanganku, kami menyusuri jalan di tengah taman. Aku suka kemeja hijau ayah. Aku suka rumput hijau di kiri-kananku. Aku menjadi suka birunya langit. Aku juga suka putihnya awan. Aku mulai suka merah muda bunga kertas. Aku kian suka hitam sepatuku, abu-abu jaketku, pula syal ungu lamaku. Dan itu, aku suka merah pita di kepala bayi mungil. Pun, kereta dorong kuning dengan selimut orange-nya.

"Ayah, apa menurutmu ada yang salah hari ini?" aku memulai tanya. "Tentu ada. Seharusnya kita ke pantai hari ini, tapi aku mengajakmu ke sini." jawab ayah sambil terus berjalan.

"Ayah, aku suka kesalahan hari ini." kataku malu-malu. "Esok kita ke pantai, nak. Kamu akan lebih menyukai kebenaran." genggaman ayah semakin erat. Ah, aku sangat suka coklat kulitmu, Yah!


Malam, 16.11.13/23.11 

Wednesday, November 13, 2013

Keep Holding On


:P


You're not alone, together we stand
I'll be by your side, you know I'll take your hand
When it gets cold and it feels like the end
There's no place to go, you know I won't give in

(Ahh, ahh)
No I won't give in
(Ahh, ahh)


[Chorus]
Keep holding on
Cause you know we'll make it through
We'll make it through
Just stay strong
Cause you know I'm here for you
I'm here for you

There's nothing you can say (Nothing you can say)
Nothing you can do (Nothing you can do)
There's no other way when it comes to the truth
So keep holding on
Cause you know we'll make it through
We'll make it through

So far away, I wish you were here
Before it's too late, this could all disappear
Before the doors close and it comes to an end
With you by my side I will fight and defend

(Ahh, ahh)
I'll fight and defend
(Ahh, ahh)
Yeeah, yeah

[Chorus]
Keep holding on
Cause you know we'll make it through
We'll make it through
Just stay strong
Cause you know I'm here for you
I'm here for you

There's nothing you can say (Nothing you can say)
Nothing you can do (Nothing you can do)
There's no other way when it comes to the truth
So keep holding on
Cause you know we'll make it through
We'll make it through

Hear me when I say, when I say I believe
Nothing's gonna change, nothing's gonna change destiny
Whatever's meant to be will work out perfectly

Yeah, yeah, yeah, yeah-h-h-h

La da da da (yeah)
La da da da
La da da da da da da da da da


(KEEP HOLDING ON- AVRIL LAVIGNE)

***
So sweet, I swear... :)


The Reason

is you


I'm not a perfect person
There's many things I wish I didn't do
But I continue learning
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know

I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you

I'm sorry that I hurt you
It's something I must live with everyday
And all the pain I put you through
I wish that I could take it all away
And be the one who catches all your tears
That's why I need you to hear

I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you

And the reason is you
And the reason is you
And the reason is you

I'm not a perfect person
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know

I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you


(HOOSBASTANK-THE REASON)


***

So sad, I swear... :(


I l o v e U


judulnya ini pale...


La La
La la la la
la la
la la la...

I like your smile
I like your vibe
I like your style
But that's not why I love you

And I, I like the way
You're such a star
But that's not why I love you

Hey, do you feel, do you feel me?
Do you feel what I feel too?
Do you need, do you need me?
Do you need me?

You're so beautiful
But that's not why I love you
I'm not sure you know
That the reason I love you
Is you being you, just you
Yeah, the reason I love you
Is all that we've been through
And that's why I love you

I like the way you misbehave
When we get wasted
But that's not why I love you
And how you keep your cool
When I am complicated
But that's not why I love you

Hey, do you feel, do you feel me?
Do you feel what I feel too?
Do you need, do you need me?
Do you need me?

You're so beautiful
But that's not why I love you
And I'm not sure you know
That the reason I love you
Is you being you, just you
Yeah, the reason I love you
Is all that we've been through
And that's why I love you

Even though we didn't make it through
I am always here for you, you


(I LOVE YOU-AVRIL LAVIGNE)


***

easy listening, I swear... :)


Monday, November 11, 2013

Bye-Bye Teen: Welcome Twenty,Putri!


Adik Puput n Me

Kepada adik Puput,

Pernah kuberitahu Fika di akhir Teen-nya, bahwa dulu, saya juga pernah takut sekali membayangkan 'berkepala dua'. Meninggalkan teen dan beranjak menuju tua, menua. Huh. Saya dan Nisa berteriak-teriak di pospel, "Haaaah, nda moka kepala dua! Nda mokaaaa!"

Apa yang sebenarnya saya takutkan dulu? Karena bagi saya usia dua puluhan itu menyeramkan, seperti satu tambah satu, saya merasa masalah akan berlipat. Bertambah dan terus bertambah. Banyak hal akan berubah. Saya tak bisa lagi bertingkah yang aneh-aneh, segalanya harus terlihat teratur, salah sedikit akan ada yang menegur, "Ingat umur!"

Ehmmm, pikiran-pikiran yang sesat itu, Put! Sejujurnya, saat itu saya hanya tak ingin beranjak dari kenyamanan menjadi seorang remaja. Selalu ingin enak-enakan. Semau gue. Dan bertingkah konyol di tempat dan situasi yang tak peduli entah dimana. Saya merasa belum siap menerima tanggung jawab besar yang dibawa oleh waktu. Itulah mengapa saya dulu teriak-teriak tak jelas. Memalukan! -_-

Memang benar Put, siapa bisa mengalahkan laju waktu? Ini bukan soal tua atau tidak tua. Bertambahnya usia itu kepastian. Teriakan ketakutan sepanjang apapun takkan mengubah apa yang sudah ditakdirkan. Yang harus kita lakukan adalah menghadapinya, sebagaimana usia-usia sebelumnya. Namun, itu belum cukup. Perjalanan usia sesungguhnya adalah proses kita untuk membentuk diri, tahun ini akan menentukan tahun-tahun selanjutnya, selalu seperti itu Put. Oleh itu, perjalanan ini, adalah perjalanan yang takkan usai dengan padamnya api di lilin atau pecahan telur di kepala. Apalagi sekedar selamat yang bertebaran  di wall FB. Perjalanan ini harus dimulai dari 'azzam'mu, tekadmu, harapanmu, cita-citamu, doa-doamu, ingin menjadi apa kelak perjalanan hidupmu. Itu semua yang harus kamu hadirkan. 

Nyalakan semangat hidupmu, Put. Terangilah jalanmu sendiri dan temukan tujuanmu. Kamu boleh lelah, tapi tidak untuk menyerah. Sepanjang apapun perjalanan hidup, pasti ada akhirnya. Kamulah yang boleh menentukan akhirnya, karena ini hidupmu!

*

Put, jadilah Putri yang baru, bukan berarti berubah kayak Power Ranger hehehe. Ah, kamu pasti tahu kan maksud saya? Kamu sudah menyadari kan bagaimana Putri sebelumnya, seperti yang tertulis di catatanmu Sisa-Sisa Teen, ah, saya suka sekali. Kamu harus ingat itu Put, jadikan tulisan itu sebagai alarm. Apalah artinya cobaan-cobaan hidup yang kita hadapi selama ini, jika berlalu saja tanpa menjadi pelajaran. Ah, kita adalah manusia pembelajar, yang tak boleh merugi, menjadi itu-itu saja tanpa perubahan yang lebih baik.

Put, saya senang bisa kenal adik Puput yang ceria, ramai, dan selalu heboh dalam bercerita. Menjadi tempat penghilang kesedihan dan kebosanan. Hehehe. Sebelum waktu menarik kita saling menjauh, semoga dikebersamaan saat ini kita bisa mengukir kenangan yang indah dan sangatttttt indah. Bersama Miftah, Fika, Adibah, dan teman-temanmu yang lainnya. Bukankah kita sudah melewati suka-duka yang sama di Markaz KOB? :D 

Selamat berkepala dua adik Puputtttttt.... ^_^

*

SEBELAS-SEBELAS

Pada hari ini,
harapan-harapaNmu butuh Ridho-Nya
dan Aaminku selalu ada di sana.


Maros, 11 November 2013/19.23



Sunday, November 10, 2013

Jangan Memusuhi Wanita-wanita Ini!



wanita-wanita ini adalah wanita ini

Ada. 

Jika bukan di sisimu saat ini, di sekitarmu, atau mungkin saja di kehidupan nanti. Kamu akan menemui wanita-wanita yang hidup dalam kata-kata. Kebanyakan dari wanita-wanita ini sedikit bicara, ah sekalipun tidak, beberapa memang terlihat cerewet, tapi takkan kamu dapati dirinya dalam -keributan aneh itu- ocehannnya.

Wanita-wanita ini, separuh hatimu akan mengasihani mereka. Bagaimana tidak? Ketika wanita lain dapat mengungkapkan seluruh perasaannya dengan blak-blakan. Wanita-wanita ini, mereka justru lari dalam dunianya, menulis-menulis-menulis dan selalu begitu. Mereka takkan menelponmu dan berkata, "Aku jatuh cinta!" Sekali-kali tidak, bahkan ketika perasaan cintanya menguat sampai memenuhi pikiran, wanita-wanita ini lebih memilih menumpahkannya dalam kata, menyamarkanmu dengan inisial: menjelma alfabet, benda-benda yang disukainya, tentu yang menggambarkan tentangmu. Pula, saat mereka marah, bahagia, terluka, sedih, cemburu, dan segenap perasaan yang paling jujur menjelma anak-anak kata -semisal puisi, cerpen, prosa, dll-

Wanita-wanita ini, sungguh membingungkan kamu bukan? Bukankah mereka punya mulut, tapi mengapa mereka tidak bicara saja? Mengapa kamu harus bersusah membacanya di semua tulisannya, ah, ternyata dia begini-begitu sedang merasa ini-itu, kamu akan lelah karena pikiranmu bekerja lebih banyak. Tahukah kamu? Wanita-wanita ini juga lelah, mungkin lebih, mereka juga ingin mengungkapkan perasaannya dengan bebas. Sebebas saat presentase di perkuliahan, sebebas menyanggah dalam forum perdebatan, sebebas menyapa selamat pagi. Tapi, kenyataannya, wanita-wanita ini berbeda. Sekuat apapun mereka ingin frontal bicara, sepertinya takdir menarik ke jalan yang lebih sunyi, menenggelamkan mereka dalam luapan kata.

Beberapa dari wanita ini, sesungguhnya sudah banyak berbicara padamu. Yah, memang selama ini mereka diam di hadapanmu, selalu memainkan emoticon senyum dan tawa saja di ruang pesanmu. Namun, tengoklah tulisan-tulisannya, mereka berbicara padamu cerewet sekali. Jika kata-katanya disuarakan, kamu butuh penyumbat telinga sepertinya. Sayangnya, sekali-kali itu tak terjadi, maksudku, itu sebuah keajaiban jika terjadi.

Apakah mereka bersembunyi? Entahlah, ini adalah bagian yang tak dapat mereka jelaskan secara eksplisit. Bukankah ketika kita haus yang kita cari adalah minuman? Kiranya seperti itulah gambaran yang sedikit membingungkan tentang mereka. Haruskah segalanya berakhir di sebuah tulisan? Bagaimana bisa? Yah sekali lagi, mereka pun selalu bertanya-tanya. Tapi kamu tahu apa jawaban yang didapatkannya? Tidak ada. 

Dan mereka, tak sungguh-sugguh ingin tahu dari jawaban 'mengapa', mereka lebih membutuhkan penguatan, semisal -Menulislah, aku akan terus membacamu!-

*

Wanita-wanita ini, apakah kamu mendapati mereka di kehidupanmu?

Kamu. Ah, kalian. 
Jangan buat mereka berhenti menulis, meski kamu tak ingin menjadi alasannya untuk menulis.
Jangan memarahi mereka yang menurutmu tak jujur atau malah terlalu jujur. 
Jangan buat mereka bersalah, atas apa yang tak bisa mereka katakan.
Jangan salahkan mereka, jika kejujurannya berbeda.
Jangan salahkan mereka, jika menemukan dirimu dalam tulisannya.
Jangan lelah membacanya, jika kamu percaya padanya.
Ah, untuk banyak hal, jangan memusuhi wanita-wanita ini!

Sekalipun akhirnya kamu tak pernah memahami wanita-wanita ini, biarkanlah mereka tetap dalam jalannya, apalagi yang mereka miliki selain keinginan untuk terus jujur merangkai kata dan membesarkan hatinya sendiri. Yah, wanita-wanita ini, mereka harus sadar bahwa mereka tak sendiri. 


Maros, 11 November 2013/15.31

*refleksi blogwalking dan menemukan banyak wanita seperti 'wanita-wanita ini' :D



Tuesday, November 5, 2013

Tak Terjawab


Pada lagu, yang aku dengar tanpa seksama,
bertanyalah pada angin, ujarnya.

Mengapa bukan tanah?


Siang di kantor, 06.11.13/12.08


Personal Conversation



O Allah, You are The Almighty
The most Merciful...
O Allah, help me for I am weak...
O Allah, help me for I am stupid...

Sunday, November 3, 2013

Sajak Kamu Adalah: Siapa?



Siapa kamu?

Kamu adalah, orang yang mendapat pengecualian dari radarku.
Kamu adalah, orang yang ingin aku ketahui lebih banyak lagi dari sebagian apa yang aku ketahui sekarang.
Kamu adalah, orang yang padanya kutitip rasa hormat serta rasa kagum yang mendalam.
Kamu adalah, orang yang akan kukejar ragam tanya dan kudesak untuk menjawab.
Kamu adalah, orang yang menjelma ombak dalam laut hatiku.
Kamu adalah, orang yang aku pikir telah kugenggam namun itu adalah harapan.
Kamu adalah, orang yang membuatku berpikir kamu memang seharusnya ada di muka bumi ini.
Kamu adalah, orang yang ingin aku ajak dalam tawa dan tangisku.
Kamu adalah, orang yang padanya aku diajak dalam suka dan duka.
Kamu adalah, orang yang harus tahu alasanku tersenyum juga tertawa.
Kamu adalah, orang yang harus percaya tiap kataku.
Kamu adalah, orang yang ingin aku tak pernah meragu.
Kamu adalah, orang yang akan menguatkanku dengan tulus katamu.
Kamu adalah, orang yang ingin aku redamkan amarahnya dengan kesabaranku.
Kamu adalah, orang yang padanya ingin kuintip masa lalumu dan mempelajarinya.
Kamu adalah, orang yang menggugahku untuk melihat masa depanmu dan melihat siapa di sisimu kelak?
Kamu adalah, orang yang ingin aku minta pada Tuhanku.

tapi

Kamu adalah, siapa kamu?


Malam ini, 03 November 2013/20.04

Jika Istrimu Seorang Guru SD


ibu guluuuuuu :)


Apa yang ada dibenakmu jika pada waktunya nanti jodohmu adalah seorang guru?bukan guru SMA atau SMP,melainkan guru SD. Setiap hari tepat pukul 7 pagi, istrimu ini harus sudah berada di SD tempatnya mengajar. Mendidik anak didiknya tanpa pandang status sosial, entah dia anak pejabat, dokter, dosen, tukang sayur, sopir bus akan tetap dipandang sama. Jangan salahkan jika rumahmu nantinya akan penuh dengan anak- anak yang silih berganti membawa tas dan buku untuk belajar berhitung atau membaca. Riuh akan suara anak- anak yang memiliki semangat untuk maju. Mungkin ini akan berdampak pada waktu istirahatmu yang terganggu.

Jika kamu mengharapkan seorang istri yang menjanjikan materi sepenuhnya, jangan kau cari pada sosok guru SD ini. Ia jauh dari segala gemerlap materi dunia, ia sederhana dengan cinta yang dimilikinya. Cinta akan anak didiknya, cinta dengan pekerjaan yang ia geluti dan yang paling utama adalah cinta dengan keluarganya. Ia tak akan pernah melalaikan tugasnya sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anak- anaknya. Setiap pagi ialah yang akan bangun pertama kali menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Memasak menu makan siang walaupun raga telah lelah pasca mengajar,mengajarkan les tambahan untuk anak didiknya dan ia tidak akan melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.

Setiap ibu adalah guru, dan ia tidak lupa akan perannya menjadi madrasatul ula bagi buah hatinya. Kau akan melihat bagaiamana ia mendampingi anak-anakmu tertatih membaca Al-Qur’an dan alphabet, bagaiamana ia dengan sabar mengajarkan berhitung dan menulis, bagaimana bunyi doa- doa sehari-hari yang tergolong sederhana dan lain sebagainya.Walaupun sebagai wanita karier, seorang guru SD memiliki waktu yang cukup banyak untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia mempunyai waktu untuk memperhatikan bagaimana buah hatinya tumbuh dan berkembang.

Kau tak usah heran ketika dia seolah mengenal setiap orang yang dijumpainya, atau ketika tiba- tiba ada seorang anak yang mendekat dan mencium tangannya dengan malu- malu.Itulah resiko menjadi guru, sebagai panutan dan tuntunan bagi anak didiknya. Ketika dia mulai mengeluh dengan pekerjaannya, ketika sebagian dari siswanya belum bisa memahami pelajaran seperti yang ia harapkan, ia hanya ingin kamu kuatkan dengan senyuman atau genggaman yang menghangatkan. Asal kau tahu, mendidik anak orang lain itu tidak semudah mendidik anak sendiri, itu jauh lebih sulit dari yang Kau bayangkan.

Tulisan ini karya http://destina-des.tumblr.com/ yang diikutkan dalam project #ceritajika milik kak masgun. :)


***

Sebagai seorang guru SD (juga), saya kira ini mewakili. 
 

Bad Dream



Someone told me
That your heart is not for me
Do you know who is she?
She is me

*blank again*

Thursday, October 31, 2013

Bongkar Diary!


Kekuatan kata itu hebat dan... lucu! Pernahkah kamu merasakan jatuh cinta yang sangat hanya dengan membaca tulisan seseorang? Saya pernah. Dan sesungguhnya yang masih saya pertanyakan adalah... 

"Apakah saya mencintai orang itu karena kata-katanya? Atau saya mencintai kata-katanya dan bukan dia? Apakah tulisannya menjadi bagus di mata saya karena saya mencintainya? Atau karena saya mencintai tulisannya dan dia terlihat bagus di mata saya?" 

Oh yah, mencintai bukan kata yang tepat. Ganti dengan menyukai atau mengagumi saja. hahaha Adakah jawabannya? Sayang sekali, tak ada!

Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Oke, saya hanya ingin berbaik hati sedikit dengan memperlihatkan hasil dari bongkar-bongkar diary tadi sore. Bukan hal yang penting memang, tapi saya hanya ingin menunjukkan pada diri saya betapa kata-kata itu punya magis, setidaknya apa yang pernah saya tulis bisa menjadi penghibur di kala lara. Kayak obat galau gitu. Karena dengan melihat tanggal dibuatnya, isinya, saya bisa terpingkal-pingkal meski sedang galau berat. Tsssaaahhh...Lupakan! -_-

Cekidotttt....kapan lagi baca isi diarynya orang toh, dipersilahkan lagi. hohoho


1. Galau karena merasa dijauhin sama teman-teman... :'(

5 tahun yang lalu


 2. Menjelang Ujian Akhir Nasional, berharap peringkat 1 dan berhasil! :D

antara optimis ato gila rangkingka kapang -_-
 

3. Menghitung hari berakhirnya UAN, mencari kekuatan sendiri...ckckck

cieee hari keempat nih yeee


4. Curcol gaje, betapa deg-degannya setelah berpuisi di depan ibu/bapak DPR,
pimpinan pesantren, ustadz/ah, warga dan santri sekalian wkwkwk

kapok!


5. Ini saat menjelang 'sweet seventeen', dirundung takut... jiaahh

berdoa di mulai!


6. Masih menjelang 17-an, alay banget tulisan saya ternyata... -_-"
alayyyyyyy -_-


7. Masih keu-keuh pengen jadi yang pertama. Olala banget sih dirimu is... -_-

terkabul!


8. Cieee... ini pas mikirin Yongky. Satu kata: LEBAY!

nggak gitu2 amat kali, Is!


 9. Doa ketika teman-teman tak dipercaya sama 'mereka'. 
Walaupun kurang akrab, tapi sebenarnya saya peduli sama sekelasku. fiuhhh.

tuluska gang... :')


10. Terakhir, ternyata 2 tahun yang lalu saya pengen banget jadi Menteri toh? ckckck
hahaha lucu juga. Tapi sepertinya tidak untuk sekarang, klo menjadi penulis...tentu masih!

kurang besar tulisannya, Is. -_-

***

Yah itulah yang terjadi dari tahun ke tahun. Saya selalu ingin menuliskan apa yang saya rasakan, yang terjadi, dan yang saya hadapi. Hidup sungguh sulit dijalani sendiri tanpa teman cerita, dan menulis adalah alternatif sementara untuk mencegah penggilaan dini. *apa kubilang ini* 

Membaca beberapa tulisan di atas membuat saya kembali berfikir, "Hei! Kau pernah merasakan situasi dimana kamu yakin bukan? Dan apa yang kamu yakini bisa kamu raih. So, mulailah untuk seperti itu kembali. Jangan menyerah! Terus berserah!" Inilah yang saya bilang obat galau. Karena sesungguhnya saya sedang dalam masa sulit untuk percaya, bahkan pada mimpi-mimpi saya yang mengendap di dasar keraguan. 

Tapi, hari ini bongkar-bongkar diary berhasil mengembalikan semangat saya. Jika saja, tahun demi tahun saya melewatkan semuanya tanpa menulis, masa depanku akan terus 'sakit', sepertinya. Finally, inilah kekuatan kata. 

Ayooooo, 
tulis kisahmu dan hiduplah! Salam.



Malam menjelang November, 31.10.13/20.35


Apakah Warna Hujan?


tetap mencintai langit yang cengeng :D

Seseorang bertanya padaku, "Apakah warna hujan?"
Ah, warna hujan yah?

Pagi. Siang. Malam

Hujan tak berhenti menampakkan diri.
Sebanyak apapun aku mengamati, sebanyak itu aku tak mengerti.

Dia akan datang lagi, nanti. 
Membawa pertanyaan yang sama.
Maaf, aku tak punya jawaban.
Tapi aku akan memberikannya payung,
sebab aku benci melihatnya basah dan...biru!


"Ah, apakah warna hujan biru?"


Malam tanpa ide, 31.10.13/20.05

***

November, jangan galak-galak yah... :)


Monday, October 28, 2013

Sepasang Janji


Sepasang, begitu mudahkah menjadikannya realita?

Kita adalah sepasang teman yang terikat perjanjian hati,
takkan saya ingkari. Sampai kamu memintaku pergi.

Dan perjanjian akan lenyap dalam senyap.



Malam Sumpah Pemuda, 28.10.13/20.55


Uncategorized!


Is!

Cinta monyet? Hei, guys I'm not a monkey! 

Okelah, untuk pertama kalinya saya ingin bercerita tentang cinta di masa sekolahku. Yang sangat amat jarang terjadi. Selama 12 tahun masa wajib sekolah, hanya satu yang pernah hadir dan saya akui sebagai 'The Man Who Cant be Moved' dari hati saya.

Sejak mengenakan seragam sekolah, saya jarang suka sama seseorang. Saya lebih suka belajar dari pada memikirkan hal konyol -anggapan dulu- yang hanya merusak konsentrasi belajar. Tapi, lelaki itu, dia mematahkan prinsip kekekalan saya. Hahaha. Dia hebat, saya akui itu.

Saat itu saya kelas 2 SMP. Karena terlalu banyak murid, saya mendapatkan jatah kelas siang hari. Ini menjengkelkan sebenarnya. Hari pertama masuk, saya memilih bangku paling depan -selalu- dan saya masih seperti Iis yang dulu. Pendiam. Untung saja beberapa teman adalah teman SD, juga teman saat kelas satu, perkenalan pun tidak terlalu sulit.

Oia, lelaki itu. Dia di ujung kelas, memilih bangku di sudut dan tenggelam dalam kesibukannya sendiri dan terkadang dengan teman sebangkunya yang ribut. Semua berawal ketika saya mengamati isi kelas, membaca suasana dan tak sengaja menatap matanya yang (seperti) sedang memandangi saya. Deg! Okelah, saya bukan orang yang cepat ge-er, saya pun menganggap hal itu kebetulan saja.

Perjalanan waktu ternyata membuat kisah ini menjadi semakin seru. Sepasang mata di sudut kelas sudah berkali-kali saya tangkap kedapatan sedang menatap saya. Ah, dia curang, dia bebas sekali membaca saya-gerakan saya karena dia dibelakang dan saya di depan. Sedang saya? Huh, harus menahan rasa ingin tahu yang begitu hebat. Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia masih menatap saya? Apakah dia tertawa atau tersenyum atau murung seperti biasa? Saya tak pernah mendapat jawaban karena setahun berlalu saya selalu di depan dan dia di belakang.

Tentang dia, teman SMP saya yang baik. Sedikit pendiam, walau terkadang cerewet juga. Tulisannya rapih. Pintar. Kami biasa bertemu di Musholla, di saat teman-teman yang lain lebih meramaikan warung jajan daripada shalat ashar. Dia tinggi, putih, sudah pasti menjadi incaran cewek-cewek lain. Oia, dia selalu memakai topi. Dan yang masih saya ingat, matanya bening. Hahaha. 

Apa yang membuat saya jatuh hati padanya?

Ada hal konyol yang dia lakukan selama setahun kami menjadi teman sekelas. Setiap pulang sekolah, dia yang bertempat tinggal lebih jauh dari saya, selalu menunggu saya di pertigaan. Di sana, dia dan teman-temannya nongkrong menunggu angkot. Tapi, dia tidak akan pergi sebelum saya lewat. Yah, itulah yang dia kerjakan selama dia menyukai saya. Ketika saya lewat di hadapannya, dia akan memanggil saya, "Is!" Lalu saya menoleh sambil terus berjalan. Dia hanya diam-saya pun diam. Menatap saya sampai menghilang. Terkadang, saya tidak menoleh sedikit pun. Sesekali, saya memilih mengambil jalan lain untuk menghindar. Saya takut saya bisa jatuh atau terpeleset lantaran keki yang tak ketulungan.

Itu konyol yang menyenangkan!

***

Saya menyukainya? 

Iya. Itu sudah jelas. Namun tak ada yang tahu. Meski kabar dia menyukai saya begitu santernya, saya tetap bisu. Perasaan itu, saya menyimpannya sangat dalam. Tidak ada yang bisa membacanya, saya pikir. Pernah beberapa kali, teman saya berkata, "Iis, terima dia dong! Dia suka banget tau sama elu." Saya timpali bujukan mereka dengan tawa. Andai mereka tahu bisikan hati saya, "Apa yang mesti diterima? Ngomong aja gak pernah."

Hahaha, yah... believe or not, saya dan dia tak pernah bicara, bercakap, selama setahun berteman. Begini, saya adalah tipe orang yang tidak akan berbicara pada cowok yang saya tahu bahwa dia suka dengan saya. Saya benci koor-an "Cieee" jika saya tertangkap basah mengeluarkan kata, meski hanya sepatah. Huh. Itu menyebalkan sekali.

Sampai naik ke kelas 3, saya tidak yakin apakah pernah bicara dengannya lebih dari 5 menit. Semenit pun tidak, seingatku. Ckckck


***

Sejak kelas 3 SMP sampai saya lulus SMA di pesantren, saya tidak pernah menyukai seorang pun selain dia. Ini keren, bukan? Saya pikir saya akan bertemu dengan sepasang mata bening itu lagi di kemudian hari, harapan saya muluk banget, juga konyol. Saya berharap dia mencari saya, masih menyukai saya, dan ingin menatap saya lagi. Saya hidup dalam hayalan, kasihan. Hahaha, ada yang mesti ditertawakan. Dia seharusnya tahu bahwa saya sudah takluk dengan matanya. Matematika sudah kalah menempati singgasana di kepala saya. Sepasang mata miliknya adalah pemenangnya.

Lagi, perjalanan waktu itu seperti membuat skenario semakin semakin seru lagi.

Kami bertemu di dunia maya, facebook tentunya. Ada kenyataan yang saya terima seperti menerima surat duka. Yah, kalian bisa menebaknya. Tak ada sedikit jejak pun yang menggambarkan bahwa dia mencari saya, 'berusaha' menemukan saya. Dia sudah 'menatap banyak perempuan' sepertinya. Dia banyak, banyak berubah. Saya tidak mengenalnya, ah, jangan-jangan saya memang tidak pernah mengenalnya dengan baik?

Dalam beberapa kesempatan dia mencoba mendekati saya, mencoba membangun 'kedekatan' yang asing sekali, saya merasa tak nyaman. Mungkin karena harapan saya yang pupus? atau karena sejak dulu saya tak suka 'hubungan' apapun? Entahlah. Yang jelas saya menghindar dan menjauh, jauh sekali. Walau sesekali, dia menyapa saya dan saya menyapanya.

***

Apakah saya masih menyukainya?

Saya suka matanya yang bening. Dan tak ada lagi perasaan 'lain' yang bisa saya jelaskan secara rinci. Saya suka sekali kisah ini. Cerita ini. Saya merasa saya wanita normal, Lol, yang pernah menyukai lelaki. Punya cinta monyet. Pernah patah hati. Pernah galau. Pernah deg-degan. Dan segala-gala yang orang-orang tak pernah tahu, sekarang saya utarakan.

Yah, demikianlah kisah 'cinta' yang tak pernah sampai padanya. Selamat! Kalian yang membaca ini, lebih dahulu tahu dari si pemilik sepasang mata yang kini tengah menatap wanita lain. Oh God, kasihan sekali, dia melewatkan saya! 

Hahahahaha

Malam sumpah Pemuda, 28.10.13/20.48








Kalah!


Laa Taghdab, ibu guru...

Apakah kalian membenci saya?

...adalah kalimat yang ingin saya lontarkan ke murid-murid kelas 1 SMP. Kenapa? Apa yang membuat kalian sebegitunya tidak mendengar? Hari ini, saya sedikit menyesal telah bertindak bodoh dengan keluar dari kelas dalam keadaan marah. Yah, Marah!

Jadi, cerita itu bermula ketika saya sedang mengajar. Jam pertama di hari senin. Entahlah, ada apa dengan mereka, murid-murid itu? Mereka selalu saja bercerita, mengobrol, bercanda, pokoknya mereka seolah-lah menunjukkan bahwa merekalah yang berkuasa. -_-

Berkali-kali saya menegur, namun sebanyak itu pula mereka tertawa. Di menit-menit pertama saya mencoba untuk bersabar, karena saya tahu, masih ada yang ingin belajar sungguh-sungguh dan tentunya mau mendengarkan saya. Tapi, kemarahan saya tak lagi terbendung, Akb*r, murid yang sangat jelas tidak menyukai pelajaran ini berkata kasar kepada saya (untuk kesekian kalinya). Tumpas sudah! 

Saya menghempaskan diri di bangku, membereskan buku dan memasukkannya dengan sangat emosi. Bibir saya bergetar, dada saya terasa ingin meledakkan semua perasaan jengkel, tapi saya tidak menangis meski mata ini mau menumpahkan airnya. Tidak.

Mereka semua terdiam. Tanpa melihatnya, saya tahu mereka semua kaget melihat saya yang seperti ini. Bukankah selama ini guru mereka selalu tersenyum dan tak pernah marah? Tidak, nak. Hari ini gurumu sangat marah. Dan kalian harus tahu itu

"Yah sudah kalau kalian tidak mau belajar. Silahkan main-main saja.Semua sudah pintar kan?"

Setelah mengucapkan kalimat itu dengan lirihnya. Tanpa menatap satupun mata mereka, saya melenggang pergi. Waktu mengajar saya masih tersisa 15 menit, namun saya mengalihkannya dengan pergi ke sebuah kursi kosong dan menenangkan diri di sana. 

Saya tidak menangis. Saya diam saja. Namun pikiran saya bekerja lebih keras dari biasanya.

Apa yang telah saya lakukan? Apa yang baru saja terjadi? Mengapa mereka membuat saya marah? Mengapa saya tidak bisa menahan amarah? Apa yang harus saya lakukan? Bukankah menjadi guru adalah selalu menyenangkan untuk saya? Mengapa sekarang tidak?

Saya tidak menangis. Meski angin menyapu genangan di mata saya begitu lembutnya. Alhamdulillah, saya tidak menangis di hadapan siapapun bahkan pada diri saya sendiri.

***

Baiklah, 15 menit perenungan itu membuahkan hasil. And these are...

1. Saya akan meminta maaf dan memberi maaf.
2. Saya akan bertanya kepada mereka, apa yang mereka inginkan? Mungkin dengan membuat daftar atau semacam curhat kertas. Atau apalah!
3. Saya akan banyak belajar. Mempelajari ilmu mengajar. Membaca buku lebih banyak lagi.
4. Mengembangkan metode belajar, mungkin mereka bosan. Ah, pasti mereka bosan. -_-
5. Mendoakan mereka tiap sudah shalat.
6. Mencoba untuk lebih sabar, sabar, dan sabarrrrrr...


*Saya kalah oleh diri saya sendiri. Bukan pada apapun selain itu.