Sunday, September 15, 2013

SPICA



'Kau' = ?




"...aku ingin, terbang dan menari. Jauh tinggi, ke tempat kau berada."

Aku membayangkan ibu 5 meter di depanku sedang menyanyikan lagu 'Bintang Kecil' bersama anak perempuannya yang menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama. Tangan mereka terkait. Bersisian dan berjalan seperti sepasang sahabat yang baru pulang sekolah, bercanda dan tertawa.

Aku membayangkan sang anak bertanya, dan aku perlu menjaga jarak agar percakapan kecil mereka tak tertanggu. "Bu, 'kau' dalam lagu itu siapa?" katanya penasaran.

Aku membayangkan ibu itu tersenyum, memandang langit takzim, aku mengikut menarik pandangan dan ikut bertanya-tanya. Yah, siapa 'kau' itu, bu? Saking penasarannya aku mempercepat langkah, tepat 3 meter di belakang mereka.

"Jawabannya bisa siapa saja nak. 'kau' bisa jadi itu impianmu, tempat yang ingin sekali kamu datangi, atau mungkin Ayah yang sedang menunggu kita di atas sana-" ibu itu menunjuk langit dengan tangannya yang bebas. "Tuhan. Yah, KAU bisa juga berarti pencipta bintang-bintang itu." lanjut ibu meyakinkan.

Aku membayangkan sang anak mengangguk, walau masih membutuhkan sedikit tambahan untuk mengerti. Dan, ibu itu membacanya.

"Kalau kamu sudah besar, tanyalah hatimu nak, pada apa kamu dengan senang hati ingin terbang kemudian menari sebebas-bebasnya? Pergi jauh meninggalkan sesuatu untuk berada pada 'apa'? Dengan kata lain, 'kau' sudah seharusnya adalah hal yang paling istimewa yang menjadi alasan kamu melakukan itu semua."

Titik. Sempurna kebingungan sang anak. Aku ingin membayangkan lagi, ibu yang tertawa menggoda anak perempuan kecilnya. Tapi sampailah kami pada pertigaan. Aku tahu, mereka akan lurus berjalan ke depan sedang aku pastilah berbelok pulang.

Kami berpisah. Sebenarnya, tak ada percakapan kecil di antara mereka. Aku hanya membayangkannya saja. Seperti ada opera di kepalaku sendiri, dan membuatku tak kesepian di jalan pulang ke rumah.

Sedikit lagi aku sampai di rumah. Kuputuskan untuk memperlambat langkah, aku sudah besar-dewasa, bukankah saat yang tepat aku bertanya pada hatiku?

"Apakah jawabannya adalah cita-citaku? Apakah sebuah tempat? Makkah? Prague? Atau... mungkinkah 'kau' adalah seseorang?"

Tanpa sadar aku sudah di depan pintu. Malam masih saja malam. Ada bintang. Ada bulan. Ada kelelahan yang tiba-tiba melubangkan hatiku. Aku menghela nafas, berat. Aku belum menemukan jawabannya.

"Aku pulang, kesunyian..." ucapku sambil membuka pintu. Aku membayangkan lagi ibu dan anak perempuannya bersenandung di kamar tidur berwarna hijau teduh. Kemudian tertidur. Lelap.

"Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak
menghias angkasa. Aku ingin terbang dan menari. Jauh tinggi ke tempat KAU berada."


*terinspirasi dari tulisannya Masgun.



Malam, 09 10 13/00.25

*sumber gambar

No comments:

Post a Comment