Thursday, April 16, 2015

Jadi, Diam dan Dengarkanlah! :)



Mama saya adalah salah seorang pencerita ulung, sangat menyenangkan mendengar ceritanya. Setiap ada kesempatan mengobrol, mama pasti memiliki bahan apa saja untuk diceritakan, tentang kehidupan kebanyakan. Kadang ngobrol tentang berita terhangat di TV, mulai dari politik, kasus kriminal yang kian hari semakin membuat merinding saking jahatnya, atau sekedar berita artis yang selalu ramai dibicarakan.

Namun, ada satu hal yang saya perhatikan darinya ketika kami sedang mengobrol, yaitu mama tanpa sadar mengulang-ulang cerita yang pernah dia ceritakan sebelumnya. Bukan hanya sekali-dua kali, tapi berkali-kali. Bahkan, gerak tangan, intonasi, mimik wajah, jalan cerita semuanya sama dan saya hafal betul jadinya. 

Salah satu cerita yang paling sering diulang adalah, cerita tentang kakak saya Andi, hilang saat kami sekeluarga jalan-jalan ke Jakarta Fair. Mungkin itu adalah moment terburuk yang beliau rasakan, bagaimana takutnya seorang ibu kehilangan anaknya. Saat itu kami masih kecil-kecil, dan beliau selalu bilang di akhir cerita, "Mama gak bisa bayangin kalau waktu itu mama gak ketemu sama Andi, bagaimana nasibnya sekarang. Jadi gembel kali." Yah, menakutkan. Sangat malah.

Biar bagaimana pun, tetap saja, kalau mama sedang mengulang ceritanya lagi (tanpa sadar seakan-akan inilah pertama kalinya dia bercerita) ingin rasanya menyeletuk, "Udah pernah mama cerita ini. jangan diulang-ulang terus dong." Tapi, saya -mungkin saudara yang lain juga memilih untuk diam saja, membiarkan mama meneruskan ceritanya. Tidak menyela, memotong, atau melontarkan kata-kata yang sempat dipikirkan di kepala. Saya mendengarkan dengan seksama, seolah-olah inilah kali pertama saya mendengarnya. 

Kenapa? Karena saya ingin menghargai mama, sebagai orang tua yang sedang berbicara. Sebagai orang dewasa yang perlu dihormati. Juga sebagai salah satu tanda, bahwa ada kalanya kita perlu menahan ego untuk terjalinnya kebersamaan. Ini memang terdengar sepele, tapi coba bayangkan jika kita langsung menyela begitu saja, bukan hanya pada orang tua saja, saudara, teman sebaya, atau sesiapa pun. Tentulah menyakiti hatinya, atau sekurang-kurangnya, orang yang sedang bercerita jadi tak lagi berani untuk bercerita. Diam dan merasa kecewa.

Realitas kebanyakan, orang-orang tak sabar mendengar dan langsung memotong begitu saja. Seperti pemenang menuntaskan pembicaraan, "Sudah tahu." atau "Sudah pernah dicerita kali." dan masih banyak lagi. Tanpa memedulikan, pada kalimat yang mana kita menyakiti hati mereka. Bila ingin memberitahu, tunggulah sampai di akhir cerita, dan katakan dengan baik-baik. As simple as smiling each other, semestinya. :)

Jadi, diam dan dengarkanlah!

Bila kita menjumpai situasi seperti ini, maka turunkanlah ego, sejenak saja kita dengarkan apa yang lawan bicara katakan. Bisa saja, pengulangan yang terjadi disebabkan betapa berkesannya moment itu, hingga tanpa sadar dia selalu ingin membicarakannya. Entah itu sebuah kebahagiaan atau justru kesedihan. Mari terus belajar untuk saling menghargai sesama. :')


Jakarta, 170415

4 comments:

  1. Huaa ngena bgt! :"(
    Terima kasih bnyak kak Iis, sudah mngingatkan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali kasih Kikin, kita sama-sama belajar yah. :)

      Delete
  2. Bener bnget. Sangat membosankan klo bicara sma org sperti itu, kecuali klo guru yg cerita berulang2 seperti itu, saya gk pernah bosan mndengarnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi tetep, jangan langsung dipotong begitu saja. Kalau sdh selesai, kasih tau deh klo dia itu barus aja mengulang cerita yang sama. :D Yah dibawa enjoy saja :)

      Trm ksh sdh berkunjung :)

      Delete