Wednesday, March 28, 2012

Marsyah Keempat

Bismillahirrahmaanirrahiim.


Tanpa melihat jam saya tahu dimana keberadaan waktu sekarang, ehm...tepat jam satu malam. Kenapa bisa? Karena ini adalah kali kedua saya mendengar suara tiang yang dipukul, menjelma bebas menjadi bel bagi manusia malam seperti saya. Dimulai dari jam 12, Sang Satpam akan memukulnya berulang-ulang tiap pergantian jam. Hehe, jadi kala malam tanpa jam saya tetap sadar waktu.

#

Saya tidak sedang galau, lalu membuat note ini. Tidak, saya baik-baik saja kok. Hanya saja, saya sedang lapar sangat. Pada dasarnya saya omnivora, pemakan segalanya, kecuali; pete, jengkol, terong, ikan asin, oncom, hati daging, kambing yang berbau, ayam mati kemarin, ikan tewas karena potas, bebek yang tertabrak motor bebek, juga daging burung bekas tabrakan dengan pesawat. Masih banyak lagi. :))

Sesungguhnya, satu yang menyebabkan saya sekarat lapar. Yaitu: Tahu. Bukan saya tidak suka, tapi perut saya seperti memiliki dendam kesumat sehingga menolak kehadiran makanan satu ini. So, bukan niat saya pilih-pilih kasiaaaan...

Lupakan di atas, cukup mengingat satu hal; belajarlah berdamai pada semua jenis makanan ketika lapar. Jika tidak, masalamah pada ketenangan. Merengut; LAPAR! (suara hati)

#

Yap, pengalihan isu lapar ke topik lain.

Si Preman Rumah

Yang di atas, namanya Muhammad Abdullah Azzam. Adik saya, pas banget lahir setelah saya, kalau tidak hilang sudah point kebanggaan melawan dia. "Gue kakak-Lo tuh adik!"  (^_^)v

Males juga sih bahas ini anak, masalahnya yang diinget cuma masa-masa 'peperangan' juga 'pemboikotan massal' selebihnya 'pergulatan kecil-kecilan' haha, ampun dah.

Mama ngidam apa sih punya anak kayak gitu?

Kalo kesel udah di puncak, yah pertanyaaan di atas jadi peluru. Nggak tahu kenapa, adik saya yang satu ini ngeselinnya minta ampun. Punya hoby kok bikin nangis kakak sama adiknya setiap hari. Bawel pula, mengalahkan ibu penjual jamu yang sering teriak-teriak di depan rumah.

Yang namanya berantem, sudah semua tanding sama dia. Kalah-menang, selalu berujung tangisan, karena cuman itu yang bisa bikin kelar. Ibaratnya, visi dia hidup adalah mengeluarkan air mata saudara sebanyak-banyaknya. Ckckck

#

Sebenarnya saya mau nulis yang baik-baik, tapi, aduh gimana yah? Berat banget...hehehe

#

Azzam, akibat lidah Jakarta, akhirnya dipanggil Ajam. Biasa diplesetkan 'Kojam' kadang juga 'Kejam' seperti sifatnya. 
Lucunya nih anak, bersikap macam preman kampung cuma di rumah doang, kalo di luar main sama teman-temannya usut punya usut nggak jauh beda dengan anak bawang. Taringnya disimpan sampai masuk pintu rumah. Pembalasan dendam, mungkin.

Kata mama, efek minoritas laki-laki di rumahlah (4 cowok VS 8 perempuan) yang menularkan kebawelan pada cowok satu ini. Gengsinya yang tinggi, memaksa dia untuk terus melawan ribuan peluru kata dari cewek2 yang tiada habisnya. Ah, saya agak tersinggung untuk yang satu ini. :(( Tapi, iya juga sih.

#

Selain ngeselin, bawel, Ajam juga penakut. Sebagai seorang lelaki bagaimana bisa dia orang yang paling pertama lari kalo ada hal-hal aneh. Mau cabut gigi ajah di puskesmas harus diajarkan segala tetek-bengeknya, sampai cara masuk ke ruang dokter. "Nanti masuknya bagaimana mak, Ajam ngomong apa, kartunya ditaruh dimana, siapa yang dikasih, blablabla." (geleng2 kepala)

Oia, mau tau binatang yang paling dia takuti? Bukan singa apalagi ular. Tapi, ULAT. Taringnya tumpul kalo sudah berhadapan dengan ulat. Takut plus jijiknya minta ampun. Lumayan juga sih, kalo lagi bete yah teriakin ajah si Ajam, "Awas...ulat di baju lu!" Sontak dia keleper-keleper ketakutan sambil teriak "Mana, dimana, mana, ambilin dong!!!" Haha, macam Ayu Ting2.

#

Apalagi yah, banyak banget deh jeleknya tuh anak. Busyet, kok dari tadi ngomongin yang jeleknya terus yah, astaghfirullah...jelek-jelek gitu si Ajam kan adik saya. *mulai deh

Dia sekarang kelas 3 SMK, punya hobi utak-atik barang elektronik, pintar bongkar gagal mengembalikan. Kurang-lebih gitu. Sekarang berkecimpung di dunia listrik karena jurusan yang diambilnya Instalasi Listrik. Kulitnya cukup putih klo nongkrong sama teman2nya, tapi kalo di rumah harus diakui dia paling hitam. Pengikut bapak satu-satunya. Hha, hati-hati kesetrum Jam, bisa-bisa tambah.....*sensor*

Tapi harus saya akui dia jago membuat sesuatu dari tanah liat. Berapa kali karyanya menimbulkan decak kagum orang rumah, pernah kejadian salah satu miniatur miliknya jatuh dan rusak. Demi kebaikan bersama, atas ide mama juga sih, kami sepakat mengatakan itu salah kucing. Menyelamatkan adik saya yang ketakutan kena marah, wong Ajam suka banget sama tuh karyanya yang patah-patah. Hehe.

#

Sebenarnya, walau riwayat berantem kami paling banyak, tapi kami pernah dalam satu perjuangan. Yah, saat harus sekolah di pesantren. Memang benar ungkapan, di saat mendesak kita akan saling bahu-membahu untuk bertahan meski berstatus saling benci sekalipun. Itulah yang terjadi. Semua keluarga ada di Jakarta, hanya ada saya dan dia di tempat asing. Anak rantau. Kalo butuh apa-apa, kami saling mencari. Saling menanyakan keadaan, saling bertanya keuangan, saling bertanya keinginan juga saling menyimpan kerinduan.

Kali pertama kami menanggalkan keegoisan, "Eh masih ada uang lu gak?" atau "Nih, uang buat lu." kalimat2 yang sebelumnya haram diucapkan. 

Kadang di asrama, saya mikir Ajam sehat gak yah, kelaparan apa tidak, sudah punya teman atau belum, juga kekhawatiran lain yang sebelumnya mana pernah saya rasakan. Aneh tapi nyata. Tapi begitulah faktanya, ikatan darah tidak serta-merta terputus hanya karena kejengkelan sedikit ataupun kebencian banyak. Saudara yah saudara. Dekat saling ngeledek, jauh saling merindu. Harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itulah saya sekarang. 

#


Saya berharap sih dia dapat menggapai semua cita-citanya, setinggi-tingginya, setinggi badan dia yang alamak seperti tiang listrik. Padahal dulu sebelum pindah dari Jakarta kami saling membandingkan tinggi, sayangnya kemenangan 5 cm milik saya berakhir setelah melihat foto di atas. Cowok kok enak banget yah pertumbuhannya, menjulang ke atas. Saya...*Ups sensor lagi.

#

Satu hal saya lupa, Ajam tidak memakai 'Marsyah' di belakang namanya. Hanya dia seorang. Bukan karena dia anak pungut seperti ejekan masa kecil, tapi mama kasian klo nama panjangnya ditambahkan lagi dengan 'Marsyah', bisa-bisa saat Ujian Nasional habis waktu lantaran dia kecapean menghitamkan kolum nama. hehehe

#

Sorry Jam, kalo tentang lo lebih banyak jeleknya dari pada bagusnya. Kakak lu satu ini hanya mencoba untuk jujur, wkwkwkw *Juskid :p

Oia, jangan sakit yang aneh-aneh lagi yah. Kasian banget dengernya, semoga tidak terulang. Take care, bro!

#

Muhammad Abdullah Azzam: Diambil dari nama tokoh utama Penggerak jihad dan Pergerakan Islam di Afganistan. Pemberian dari kakek.



No comments:

Post a Comment