Thursday, May 1, 2014

Tangisan Tersembunyi





TANGISAN TERSEMBUNYI



                  Hiks, hiks, hiks…
            Naura tersentak, “Arghhh…” Keringat membanjiri tubuhnya yang terbungkus seragam sekolah lengkap. Teriakannya berhenti, pelan terdengar nafasnya yang memburu, kedua bola mata perempuan itu liar mencari sumber tangisan yang baru saja dia dengar. Menoleh sembarang lalu menekuk lututnya yang bergetar hebat.
        Tenang Naura, tangisan itu hanya mimpi. Tapi mengapa, mengapa tangisan itu selalu mendatangiku…?

            Naura merintih, keremangan cahaya kamar menyamarkan gurat lelah di wajah pias miliknya. Tangisan itu hadir dalam hidupnya sejak dua bulan lalu, dimana pun dia berada tangisan itu seakan-akan membuntutinya tak peduli betapa ingin dirinya tidur dalam ketenangan atau sejenak menutup mata. Banyak perubahan terjadi seiring kehadiran tangisan yang entah dari mana asalnya. Rasa sakit bertambah lantaran hanya dia yang mendengarnya, julukan pembohong pun dicapkan padanya. Tak ada yang peduli, tidak juga ayahnya yang datang dan pergi tanpa sapa. Sepi.
            Naura mengusap dahi, perlahan menarik selimut sebatas leher dan membiarkan kakinya yang masih memakai sepatu terjulur pasrah. Ibu… Naura berbisik pada dirinya sendiri, kemudian mencoba kembali tidur. Matanya terpejam.
Naura masih terjaga.

*

            Ketika keluar dari kantor kepala sekolah matanya bertemu dengan mata Naura yang memelas, menunggunya sejak tadi.
            “Bisakah kamu tak mempermalukan ayah.” Ucap Haris dingin.  
“Maaf. Saya tak bermaksud untuk bolos Yah, tangis itu-”
            “Tidak ada tangis-tangisan Naura. Hentikanlah imajinasimu! Ayah lelah mendengar ocehanmu tentang suara tangis aneh itu.” Naura ingin mengucapkan sesuatu, namun tertahan desisan sang ayah. “Aku terlalu sibuk untuk datang lagi esok, kamu telah mengganggu pekerjaan ayah.” Haris melewati Naura yang menggigil dingin, sayup-sayup suara tangis itu datang lagi. Naura berlari tanpa tujuan.

*

            “Mengapa kalian menjauhiku?”
Dian, Renata, dan Sandy saling melirik, di hadapan mereka berdiri Naura dengan tatapan tajam. “Kami tak pernah menjauhimu Naura, justru kamu yang menutup diri dari lingkungan sekitarmu.” Kata Dian. Renata mengangguk setuju.
“Kami tahu kamu merasa kehilangan dengan kepergian ibumu, tapi dua bulan telah berlalu Ra, kamu malah semakin aneh.” Sandy menambahkan.
“Jangan bawa-bawa ibuku! Bilang saja bahwa kalian tak ingin berteman lagi denganku. Aku pikir kalian sahabat sejati, tapi tak kusangka kalian hanyalah sekelompok penjilat yang mendepakku begitu saja. Aku benci kalian.”
Naura mendengar kembali tangis itu, entahlah kepada siapa dia dapat membagi rasa takutnya jika keempat teman yang dipercayainya justru meninggalkan dirinya sendiri.

*

            Sudah tiga hari ini Naura kurang istirahat, matanya sayu dikelilingi warna hitam, tubuhnya juga terasa lemas. Tak ada daya.
           
Hiks, hiks, hiks…
            “TIDAAAAK…” Naura tersentak, matanya yang baru saja terpejam membelalak ngeri.
            “Ada apa Naura?” Tanya Ibu Yasmine.
“Suara tangisan itu datang lagi bu…” Lirihnya.
            Ibu Yasmine mengangkat bahu, seolah berkata ‘tak ada tangisan, tak ada suara’
       “Oh, ternyata putri tidur kita terbangun karena tangisan lagi… hahaha. ” Timpal teman lelakinya. Tawa-tawa pecah.
            Naura mematung, tak tahu dengan cara apalagi dia menjelaskan tentang tangisan pilu yang didengarnya. “Tangisan itu, tidakkah kalian dengar. Hanum, suara itu sangat jelas seharusnya kau dapat mendengarnya!” desak Naura. Hanum teman sebangkunya menggeleng lemah.
            “Tidak ada suara apapun Naura.” Kata Ibu Yasmine cemas.
          “Jangan bohong bu. Anda pasti mendengar suara itu kan?  Kalian semua diamlah, tolong dengarkan baik-baik seseorang sedang menangis, tangisan yang sangat menyayat hati, tidak ada tangisan yang lebih memilukan… ah, kalian harus mendengarnya.” Kelas menjadi gaduh, Naura semakin histeria.  Ibu Yasmine dibantu teman yang lain mencoba menenangkannya. “Tidak bu, aku tidak bermimpi atau menghayal. Suara tangis itu benar-benar ada dan sangat jelas bu, aku mohon, teman-teman bantulah aku mencari asal suara itu. AKU MOHON!”
Jendela kelas dipenuhi mata-mata yang mengintip pertunjukkan aneh gadis cantik yang berlari kesana-kemari, memeriksa semua laci meja, tas-tas, juga lemari buku. Apalagi kalau bukan untuk mencari sumber tangis itu.
Naura sudah gila… Bisik-bisik pun didengungkan juga ungkapan belas kasihan dari segelintir siswa yang ketakutan melihat teman mereka layaknya orang kesurupan. Kasihan, cantik-cantik kok nggak waras…
Pertunjukkan Naura belum selesai, tak lama…

Hiks, hiks, hiks, ibu…
Kali ini tangisan pilu yang sering dibicarakan Naura memang terdengar jelas di sana, semua yang hadir mendengarnya tapi suara itu tidak tersembunyi seperti apa yang dicari Naura melainkan keluar dari mulutnya sendiri.
Dia menangis sejadi-jadinya, tangisan itu teramat memilukan bagi para penonton yang mendengarnya tidak terkecuali Haris, Sang Ayah yang baru saja datang setelah mendapat panggilan dari Kepala Sekolah. Haris selama ini tak percaya dengan keluhan guru-guru mengenai keadaan Naura yang berprilaku ‘aneh’. Memang sejak dua bulan lalu selepas kematian Fiona istrinya yang merupakan ibu Naura, Haris bermasa bodoh dengan keadaan Naura. Dia terlalu egois hingga yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana melupakan kepedihan itu dan lari dari kenyataan. Dia lupa bahwa Noura sang buah hati juga terluka dan perlu perhatiannya.
“Maafkan Ayah, nak..” Kenang Haris sambil berjalan mendekati Noura yang bersimpuh di lantai.
Noura berkata dalam tangisnya, “Ayah dengar kan tangisan itu? Ayah dengar kan…” Haris memeluk Noura dengan erat. Iya anakku, ayah mendengarnya. Tangisan itu adalah tangismu, kau menyimpan dukamu sendiri.
“Jangan menangis lagi, nak. Ayah sayang padamu.”
“A.. a.. ayah tidak marah padaku? Ayah tidak membenciku kan? Kau tak pernah menyapaku seperti dulu, kau selalu pergi meninggalkanku. Aku takut tangisan itu selalu memenuhi kepalaku.”


“Tidak Naura, ayah mencintaimu. Ayah menyesal telah mengabaikanmu. Izinkan ayah membayar  semua ini…”
Haris tertikam sesal. Bagaimana bisa dia melupakan Naura yang juga terluka kehilangan ibu yang sangat dicintainya, lihatlah yang terjadi sekarang gadis kecilnya tertawa dan menangis sendiri. Haris ikut mengurai air mata kepedihan.
“Hahaha, kalian dengar kan tangisan itu? Kalian semua sekarang percaya padaku, aku tak berbohong… tangisan itu, tangisan yang sangat memilukan. Hiks, hiks, hiks…”
Semua mata digenangi air.
Tapi hanya tangisan Nauralah yang dapat memilin sesal di hati-hati mereka.
Ibu…

***

Cerpen 4 tahun silam, wkwkwk alayy ronggg :D

2 comments: