Saturday, May 19, 2012

Speechless

Bismillahhirrahmaanirrahiim.

Kaki Waktu, karya kak Reni Purnama

Prasasti Sol

Dia percaya pada jarum, tasi, semir, serta kotak yang setia menggantung di leher. Bersahabat pada matahari, hujan, dan malam. Bercengkrama dengan peluh. Berkemul dengan deru dan debu. Bergulat dengan waktu. Yah, dia percaya.



“Mbung! Berhentilah tersenyum, urus dulu perut kita.”

Lelaki yang menginjak remaja itu terus berjalan, tak memperdulikan seseorang yang tertinggal jauh di belakang. Ia tersenyum atas perintah temannya untuk berhenti tersenyum. Lucu. Adakah larangan bagi orang yang kelaparan untuk tersenyum?

“Woi, gue udah nggak kuat lagi nih. Laper!” Ucap lelaki bertubuh gempal setelah berhasil men-sejajarkan langkahnya dengan Mbung. Nafasnya tersengal. Kotak yang tergantung di lehernya naik turun mengikuti ritme nafasnya.

Mbung melirik sekilas, ia tak meragukannya. “Abang punya uang buat beli makanan?” ucapnya sambil terus berjalan.

Tidak ada jawaban. Hanya ada gelengan lemah tak bersemangat.

“Kalau begitu, yang perlu kita lakukan adalah terus berjalan dan berusaha untuk mendapatkan pelanggan, bang. Dan satu lagi…” ia berhenti kemudian berbalik ke arah lelaki tambun yang kini kembali tertinggal. “mengeluh tidak akan pernah membuat kita kenyang, kawan.”

Mbrot, lelaki itu terdiam. Perlahan senyum mengembang menggantikan wajah masamnya. Ia memandang punggung Mbung yang basah oleh keringat. Punggung yang seharusnya memangku tas sekolah seperti remaja lainnya. Bukan punggung yang bercokol di atasnya beribu macam tanggungan. Mulai dari ayahnya yang terbaring tak berdaya karna stroke, ibu yang menjadi kuli cuci, juga beberapa adiknya yang tertatih mengenyam pendidikan. Dialah tulang punggung keluarga. Yah, anak muda itu.

Mbung, mbung, tetaplah tersenyum. Lelaki itu berbisik diantara gemuruh teriakan ‘sol sepatu’ dari Mbung yang terus berjalan dengan senyuman.



“Kawan, lu udah gila yah?” Mbrot heran melihat kelakuan Mbung yang menggali tanah, kemudian memasukkan sepatu mereka yang sudah hancur dan tidak layak pakai ke dalamnya. Lalu menguburnya.
            
Seperti biasa, Mbung menanggapi dengan senyum. Ia mengangkat sebongkah batu kemudian menindih gundukan tanah di hadapannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebuah paku. Mbrot penasaran dengan apa yang akan diperbuat teman ajaibnya. Ternyata, dengan paku itu Mbung menggoreskan nama mereka di atas batu. Mbung-Mbrot. Dan di atasnya tertulis besar-besar. PRASASTI SOL.

Selesai.

Ia mengelap peluh yang menggantung di hidungnya. Lalu menepuk-nepuk kedua tangannya. Sisa-sisa tanah berguguran dan sebagian lagi terbang dibawa angin yang berhembus.

Mereka saling pandang. Mbung tertawa melihat kerutan-kerutan yang nampak di dahi teman sekaligus kakak baginya. Tanpa diminta ia menjelaskan arti dari perbuatannya.

“Kalau selama ini prasasti adalah saksi dari sejarah yang berlangsung di zamannya. Maka sejak ujung paku menggores batu, inilah saksi kita bang. Bahwa kita pernah hidup dalam sebuah kemiskinan. Dan kita baru saja menguburnya.

Kita tak kan terjebak di dalamnya, apalagi menyerah. Kita masih boleh dan harus bermimpi. Suatu saat, kita akan menggapainya. Meski harus bertarung dengan tahun sekalipun. Parasti sol. Inilah prasasti kita.”

Ajaib!

Semangat itu. Senyum itu. Tuhan…

Mbrot malu. Usianya yang jauh di atas Mbung, tidak sedikitpun mencerminkan kedewasaan. Tidak pernah bermimpi dan tak sanggup memikirkannya. Yang diyakininya adalah: apa yang dimakan hari ini dan besok bisa makan atau nggak. Hanya itu.

Kekagumannya bertambah. Pada Mbung. Anak muda yang tersesat. Ia menamainya seperti itu. Jalanan bukan tempat yang baik untuk anak seistimewa dirinya. Meski Mbung sendiri berpikiran lain, ketika sekolah tak dapat menerimanya dikarenakan uang, maka ia tak berputus-asa dan jatuh terpuruk. Ia tinggal memindahkan sekolah itu ke jalanan. Dan, tanpa uang. Justru menghasilkan uang. Itulah jawaban Mbung. Ajaib bukan?

Mbung, Mbung.


“Bang! Bang! Kok bengong?”

Mbrot tersentak. Panggilan Mbung mengagetkannya. “Iya, kenapa?”

“Kok malah bengong? Ngiter lagi, yuk!” ajaknya.

Mbrot tersenyum. Matahari berada tepat di atas kepala, panas, panas sekali. Tapi, lihatlah pemuda itu! Ia berjalan tanpa alas kaki, tanpa penutup kepala, yang paling penting ialah: tanpa beban. Dengan lantang ia melangkah, teriakannya memecah lelah. Menggetarkan jiwa yang terbuai dunia.

Ia teringat ucapan Mbung.

“Sebab duka itu hanya persoalan kata, bang. Gantilah huruf ‘d’ dengan huruf ‘s’, apa yang terjadi? Ini hanya soal cara pandang kita saja.”

Sekali lagi, ajaib!

Mbrot tak ingin membuang-buang waktu. Ia memutuskan, tuk berlari mengejar Mbung yang masih melaju membelah siang. Dia tak ingin tertinggal jauh lagi.

Sedikit lagi.

Perih. Seperti membakar kulitnya.

Nikmati Mbrot! Lihat ke depan.

Tak lama,

Kau kan mengejarnya.

Yah.

Dapat.

Langkah mereka sejajar. Kemudian saling bertukar pandang dan berbalas senyum. Dan berteriak: Sol sepatu! Sol sepatu!

Hahahaha…

Tawa pun menggema. Menciptakan harmoni. Tentang mimpi. Asa. Dan cita. Tuhan melihatnya.

7 Oktober 2011

NOTE LOVE


sumber gambar

Air mancur di taman. Jam empat sore.


Jam dua belas tepat.
Aku menerimanya. Begitulah pesan yang ditinggalkannya di secarik kertas. Begitu singkat. Memang seperti itulah kaidah memo yang pernah dipelajari. Isi ringkas dan biasanya ditulis dari atasan kepada bawahan.

Atasan-bawahan.

Dia atasan dan aku bawahan. Uh, menggelikan. Ada gerangan apa dia menyuruhku ke sana. Kenapa tak langsung saja saat di sini (kantor) tadi, bukankah berapa kali kami bertemu. Di lift, di lorong, di depan pintu kamar mandi yang berhadapan, di ruangannya –saat menyerahkan file penting- di mana-manalah. Aku saja ingat bros mawar merah yang tersemat di kerah jasnya bagian kiri. Kenapa harus di tempat itu?


Sekarang jam dua lewat sepuluh menit.
Aku masih memandangi secarik kertas darinya. Tulisan rapi dengan tinta hitam yang tebal dan jelas. Dia menggambarkan dirinya di kertas ini. Tanpa cacat. Aneh, tulisannya saja dapat mengintervensi kesendirianku. Dia pintar sekali. Pantas saja dia menjadi atasan. Dan sekali lagi, aku menjadi bawahan.
Sepuluh menit lagi berlalu. Inginnya aku menyudahi penantian untuk jam empat nanti. Mengapa dia memilih jam empat. Mengapa bukan jam satu saja, satu jam dari waktu dia meninggalkan secarik kertas di mejaku. Itu akan menjadi mudah bagiku. Tak seperti ini, harus menunggu empat jam, kupakai saja untuk menduga-duga. Apa yang dia inginkan?

Jam setengah tiga.
Dia mencoba mempermainkanku. Hipotesa awal. Yah, bisa saja. Kenapa tidak? Dia marah padaku karena sikap sebagai bawahan yang tak pantas aku lakukan di hadapannya. Masuk tanpa ketuk pintu, membanting map, dan tak mendengar perintahnya. Dia memang tak marah. Justru itulah yang membuatku marah. Kenapa dia tidak memarahiku atau langsung saja pecat aku, bukankah dia memegang hak itu? Kenapa baru sekarang? Permainan licik.


Setengah jam berlalu. Jam tiga lewat lima detik.
Hahaha, dia pikir permainan ini akan dimenangkannya. Cukup sudah aku kalah saat dia menjadi atasan dan aku bawahan. Tidak kali ini. Ah, aku tak sebodoh yang dia kira. Mau saja disuruh-suruh menunggu empat jam, lalu datang mengikuti kemauannya seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Apalagi ditambah kenyataan nanti, dia hanya ingin memberikanku tugas sepele. ‘Ini tugasmu, cepat selesaikan! Hanya itu. Tidak. Tidak akan! Dimana harga diri ini aku taruh?


Jam empat kurang lima menit.
Kutengok langit. Biru bercampur kelabu. Alam mendukungku. Hipotesa tetap menjadi hipotesa. Tak usah lagi aku bertanya-tanya, menduga-duga, juga menebak-nebak. Dia harus merasakannya. Kekalahan ini. Aku mengendorkan dasi. Memejamkan mata. Samar kudengar hujan yang mulai jatuh ke bumi. Rintik. Lalu, deras. Telah aku putuskan, aku takkan datang.


Jam empat lewat tiga puluh menit.
Huahh, aku tertidur. Hmm, sudah lewat tiga puluh menit rupanya. Damai sekali rasanya tidurku kali ini. Setelah hampir sebulan lebih tidur di kantor dengan perasaan gelisah. Beginikah indahnya jadi pemenang? Apakah dia masih di sana? Ah, tak mungkin. Lewat satu menit saja dia akan pergi. Disiplin. Hargailah waktu, berarti engkau menghargai hidupmu. Katanya sebulan yang lalu, pertama kali dirinya jadi ‘bos’ dan pertama kali aku telat –dengan sengaja- menjadi bawahan. Uf!


Jam lima kurang lima belas menit.
Dimas, Liana kenapa? Pertanyaan kamu mengusikku. Emangnya kenapa? Aku balik tanya dengan malas. Kamu terheran-heran menjawabnya. Kok, istri mengundurkan diri malah nggak tahu. Apa?! Apa aku tak salah dengar? Kamu mengangguk. Kalimat terakhirmu bagai tamparan keras yang pernah aku rasakan. Tidak mungkin. Kenapa? Mengapa? Ada apa? Kamu malah mengangkat bahu.
Ah, aku harus menemuinya. Aku tahu dia ada di mana sekarang. Dan, aku lari sekencang-kencangnya, meninggalkanmu sendiri yang bertanya-tanya. Kenapa? Mengapa? Ada apa?


Jam lima lewat sepuluh menit.
Dia masih di sana. Di bangku taman dekat air mancur. Rambutnya, wajahnya, seluruh badannya basah. Tangannya melipat menahan dingin. Matanya lekat di air mancur yang jatuh bertingkat. Aku mendekat.
Dia menoleh. Wajahnya pucat. Bibirnya yang membiru masih saja mau tersenyum menyambutku. Kenapa tak pergi? Getaran dari suaraku tak bisa kusembunyikan. Kamu pasti datang. Ujarnya sambil bergeser sedikit memberikan aku tempat.


Jam lima lewat lima belas menit.
Aku dan dia hanya diam membisu. Aku membuka jas dan memakaikannya ke tubuhnya yang mulai mengering. Dia mengucapkan terima kasih. Aku perih mendengarnya. Aku putuskan untuk bersuara. Aku tak tahan lagi.
Kenapa, Liana? Kata itu baru saja akan meluncur. Tapi, dia mendahuluinya.

Jam lima lewat enam belas menit.
Aku sudah mengundurkan diri. Aku mau kamu pulang. Aku minta maaf. Aku hanya ingin semua kembali seperti dulu lagi. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Keluarga lebih berharga dibandingkan jabatan itu yang hanya memisahkan kita. Menciptakan jarak yang membuat kita jauh. Semakin jauh. Aku kangen kamu. Sekali lagi, aku minta maaf.

Jam lima lewat dua puluh satu menit.
Lima menit. Dia hanya membutuhkan waktu secepat itu untuk mengatakan semuanya. Itu berarti, dia sudah mempersiapkannya dengan matang bukan. Dan aku yang bodoh ini, menghancurkan segalanya dengan membiarkannya menunggu selama satu jam enam belas menit di bawah guyuran hujan serta ‘rasa dendam’ku yang tak beralasan. Oh, memalukan sekali.

Lihatlah. Bagaimana bisa rasa iri yang begitu besar membutakan mataku. Hanya karena aku sebagai suami harus menjadi bawahan. Dan, dia. Liana, istriku menjadi atasan. Kenapa aku tak bisa menerima kenyataan. Malah memupuk rasa iri itu, menjelma menjadi marah, lalu benci.
Childish. Kekanak-kanakan. Itukah jiwa seorang pemimpin? Untuk memimpin diri dan keluarganya saja tak becus, bermimpi ingin menjadi atasan. Aku mengutuk diriku sendiri. Aku benar-benar dibutakan jabatan.

Jam enam kurang empat menit.
Aku tak mampu untuk membendungnya. Air mata ini. Hujan dalam hatiku. Dia menghapusnya. Menggenggam tanganku. Dingin. Lalu, hangat. Aku merasakannya. Ketulusan. Saat dia tersenyum untukku, belenggu-belenggu yang mengekang hatiku satu persatu lepas. Tubuhku terasa ringan dan… bebas. Yang tertinggal hanya ada ruang kosong yang menanti kembali tuannya.
Dia. Cinta. Liana. Istriku.


Jam enam tepat.
Aku dan dia meninggalkan taman itu. Juga air mancur yang bergemericik merdu. Aku menyadari kekeliruanku. Liana memaafkannya, meski dia bilang tak ada yang harus dimaafkan. Baginya, hanya ada yang harus diterima oleh kami berdua. Aku suami. Dia istri. Tak ada atasan. Tak perlu bawahan.
Aku sadar. Aku rindu padanya.

Apakah kamu masih bertanya-tanya?

Lewat satu detik,
Aku menyadari satu hal lagi. Bros mawar merah yang tersemat di kerah jasnya bukan di bagian kiri. Tapi di kanan. Uff!

*

Cerpen 2010 -_______- pintarku ca' bulis beginian -______-

Catatan (luar) Biasa

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seseorang pernah bilang: Betapa luar biasanya diri kita, karena siapapun diri kita, seperti apapun kehidupan yang telah kita lewati, kita adalah kita. Tak ada yang bisa menyamainya, meski kembaran sekalipun. Kita itu hanya satu. Tak ada yang lain.


Yah, kurang lebih seperti itu yang saya tangkap. Sangat mengena. Karena terkadang, saya (mungkin juga kamu) mendambakan menjadi orang lain, yang ini-itu, bisa begini-begitu, tanpa pernah melihat dan mengeja ‘siapa saya sebenarnya’?

Saya wanita luar biasa.

Seharusnya kalimat pamungkas itu datang lebih awal, mengetuk kepala saya yang error lantaran sibuk mengutuk diri ‘Saya bukan siapa-siapa. Saya bisa apa?’
Tapi tak apalah,  itu berarti ada lagi alasan untuk hadirnya pepatah ‘Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali’
Meski sebenarnya, saya lebih suka dengan -lebih baik tidak terlambat daripada terlambat- mengingatkan saya pada ucapan penjaga sekolah yang bosan mencatat nama saya (Si anak baru) di daftar Black List. Miss later.

Bagaimana saya bisa tahu, saya wanita luar biasa? Bacalah!

Pernahkah kamu bertahan berjam-jam membaca di perpustakaan dari awal buka hingga tutup kembali? Saya pernah. Pernahkah kamu menguasai Tenses sedangkan umurmu baru sekitar delapan tahun? Saya pernah. Pernahkah kamu ingin/sedang bermain, tiba-tiba bapakmu menyuruhmu ambil buku terus belajar? Saya pernah. Pernahkah kamu tetap nekat pergi ke sekolah, padahal kamu tak memegang uang sepeser pun ditambah banyak tagihan ini-itu menanti dan tanganmu terancam dipukul selang? Saya pernah. Pernahkah kamu menjual PR-mu demi mendapatkan uang jajan? Saya pernah. Pernahkah kamu menulis puisi berlembar-lembar hingga menjadi sebuah buku, lalu menyiramnya dengan air karena ibumu membacanya? Ah, saya pernah.

Meski terdengar aneh…

Pernahkah kamu?
Adalah pertanyaan terbaik yang dapat mengungkap siapa saya/kamu sesungguhnya. Pertanyaan yang menyadarkan saya, ada banyak ‘sesuatu’ yang telah saya lalui dan belum tentu orang lain pernah merasakannya. Pertanyaan yang memperlihatkan pada diri saya, bahwa saya berbeda. Pertanyaan yang membius saya untuk berdiam sejenak dan berpikir lantas berteriak: Saya melakukannyaaaaaaaa!

Pernahkah kamu?
Pertanyaan ajaib yang mengubah kata ‘biasa’ menjadi ‘luar biasa’, mungkin pertanyaan yang saya sebutkan tadi sepele bagi kamu, bisa jadi ada hal-hal yang lebih besar pernah kamu kerjakan dibanding sekedar menjual PR demi uang jajan.
Itulah maksud saya, kita memiliki pertanyaan dengan jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan jalan hidup kita masing-masing. Kita luar biasa dengan gambaran dan jalan yang berbeda.

Lemparkanlah pada saya sebuah pertanyaan: Pernahkah kamu menempuh perjalanan 2 Km tanpa alas kaki, naik-turun gunung, menyeberangi sungai demi menimba ilmu? Atau, pernahkah kamu memanjat pohon kelapa di umur tujuh tahun? Atau mungkin, pernahkah kamu menangis berjam-jam karena putus cinta? Jawaban saya adalah: tidak pernah!

Tapi, belum tentu denganmu, (mungkin) dengan bangga kamu berkata: Saya pernaaaah! (salut) Empat jempol saya kasih, :)

***

Baiklah, sampai di sini saya sadar, saya baru saja bertingkah seperti Orang-Yang-Sok-Paling-Tahu, tapi memang benar, inilah yang saya ketahui dan saya mau kalian juga tahu. Bahwa kita spesial. Kita berbeda. Kita hanya satu. Kita bukan dia. Kita bukan mereka. Kita adalah kita. Kita luar biasa. Kita sangat luarrr biasaaa.

Ditunggu pertanyaannya. Pernahkah kamu? Dan lihat jawabannya.


(Mau percaya atau tidak, mentari tetap bersinar)

DUA IBU


sumber gambar

Ada anak memiliki ibu, dia menangis. Ada anak tak memiliki ibu, dia menangis. Bagaimana jika dia memiliki dua ibu? Dua wanita yang mencintainya tanpa peduli darimana dia berasal. Dari rahim mana dia terlelap sembilan bulan. Atau, siapa dia.

*

“Firyal, apakah ibu terlihat cantik?” Hanum memoleskan sesuatu di pipinya. Lalu, tersenyum.
“Tanpa bedak pun ibu selalu terlihat cantik.” Ujar Firyal tegas. Menggenggam tangan sang ibu dengan erat seolah-olah tak ingin dia lepaskan atau terlepaskan. “Karena hati putihmu memancarkan kecantikan yang sesungguhnya.”

Bayangan Firyal yang mengecup kening sang ibu terpantul, indah. Dua insan. Dua senyum. Dua cerita yang masih terus berlanjut.

“Harus ada yang aku katakan padamu, nak…” Hanum menatap sendu cermin, menghitung gurat-gurat di wajahnya. Dirinya menua bersama rahasia yang tersembunyi dua puluh lima tahun lamanya.

Firyal mengeratkan genggamannya.

“Ada seorang wanita yang mencintaimu lebih dari apapun, selain aku.” Hanum diam sejenak lalu melihat reaksi Firyal yang penuh tanda tanya. “Wanita yang menyusuimu dua tahun lamanya. Merawatmu penuh kasih sayang sebelum aku mengambilmu dari sisinya.  Namanya, Melati. Apakah kau mengingatnya?”

Ada apa ini? Tangan Firyal mengendur. Getaran kecil merambat pelan membuatnya heran dan… takut.

“Apa yang ibu bicarakan?” kata Firyal seringan mungkin.

“Ibumu. Ibu sedang membicarakan ibumu yang lain.” Genggaman terlepas. Firyal menatap sang ibu.

Ibu yang lain? Aku tak mengerti.”

Hanum melanjutkan ceritanya, “Iya anakku, Melati adalah ibumu. Ibu yang telah mendonorkan satu ginjalnya untukmu. Yang berjalan puluhan kilo hanya untuk menatapmu dari balik pagar rumah ini. Dia mencintaimu tanpa ego untuk memilikimu. Karena dia mengerti bahwa masa depanmu adalah yang utama. Selanjutnya, akulah ibumu.”

Ibu…”

Tes! Entah siapa yang dimaksud Firyal dengan ‘ibu’ hingga air matanya jatuh. Dia terlihat bingung dan menjauh meninggalkan Hanum sendiri.


Ibu yang lain? Apa maksud ibu, tidak! Aku anaknya, Firyal Faiqh Brata. Tak mungkin ada dua ibu. Tak mungkin.


Firyal melempar kerikil kecil ke danau, tempat dia menenangkan  perasaannya yang  tak menentu. Seperti saat ini.

Melati…”

Satu jam berlalu… dan hanya ada satu nama memenuhi pikirannya. Melati. Jika wanita itu mencintaiku lebih dari apapun, mengapa dia justru meninggalkanku? Firyal bertanya-tanya. Lelah menyendiri tanpa jawaban, dia bangkit dan bergegas menuju satu tempat untuk menemui seseorang.

Ibu.

*

“Mengapa ibu merahasiakannya?” Tanya Firyal dingin. “Seperempat abad aku menghormatimu, engkaulah wanita yang paling aku cintai. Kenapa ibu tega melakukan ini padaku?”

Hanum tahu kebohongannya akan berakhir seperti ini, dia sudah menduganya. Namun rasa takut kehilangan akan anak kesayangannya lebih besar menghantui hidupnya. Brata, sang suami pun berpesan di akhir hidupnya untuk bersegera mengungkap rahasia tentang Firyal. Hanum baru bisa melaksanakannya sekarang, perlu waktu 12 tahun mengumpulkan keberanian.

“Firyal…”

“Aku ingin menemuinya.” Pungkas Firyal.

Hanum mengangguk,  pilu.


Berjam-jam  mobil silver itu menyusuri perumahan kumuh di ujung kota. Kaki-kaki kecil lincah bermain genangan air dan berhamburan saat ban mobil menggilas tempat bermain mereka. Tawa-tawa pecah dan saling mengejek muka mereka yang belepotan tanah.

Apakah aku pernah menjadi bagian dari kehidupan ini? Kakiku juga pernah menjejak tanah kotor ini. Melati, ibu…


Hanum memandang Firyal, “Maafkan ibu…” bisikannya ditelan deru mesin mobil juga teriakan bocah Gang Lestari.

Pak sopir baru saja selesai bertanya pada seseorang lalu beralih kepada Hanum yang mengangguk yakin. Mobil pun meluncur dan berhenti di depan rumah kumuh, entahlah apa gubuk reot itu patut disebut sebagai rumah. Hanum  merasakan pedih kala matanya menangkap sorot kesedihan di mata sang anak.

Hanum turun diikuti Firyal yang terlihat sedikit canggung. “Apakah ini…?” Tanyanya. Hanum mengangguk pelan, mereka berdua pun menguatkan hati menerima apapun yang akan terjadi setelah ini.

*

Detik-detik beku bersama kesunyian. Hanum. Firyal. Dan… Melati. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka, hanya ada tiga pasang mata yang saling melirik. Mata-mata yang tergenang keharuan hingga tak ada kata yang dapat mewakilinya.

“Ibu…” suara Firyal bergetar. Hanum dan Melati menoleh bersamaan, ketika pandangan jatuh pada Mata Firyal yang beruraian air mata,  tangis pun tak dapat lagi disembunyikan. Firyal berhambur memeluk Melati, wanita yang usianya tak jauh berbeda dengan Hanum. Namun tak ada kesejahteraan yang dapat menutupi penderitaan hidup yang tergambar jelas di tulang berbalut kulit miliknya.

“Anakku, anakku, anakku…” Tumpah sudah kerinduan Melati pada anak lelaki yang sangat ia cintai. Tubuh mereka bertautan penuh getar-getar kasih sayang. “Kau sangat tampan, betapa tingginya dirimu, kau terlihat sehat, matamu… jangan menangis nak, biarkan aku mengeja dirimu. Kau masih sangat kecil ketika,…”

Melati tak sanggup melanjutkannya. Tangannya terus membelai rambut hitam anak yang lama tak dijumpa.

“Mengapa, mengapa bu?”

“Maafkan aku,” Melati meminta persetujuan Hanum tuk bercerita. Anggukan didapatnya. “Sebelumnya, jangan pernah kau menyalahkan Hanum anakku. Ibumu tak bersalah. Akulah yang memaksanya untuk mengambilmu dariku, aku yang memutuskan semuanya untuk melepasmu dari kehidupanku yang kau lihat sendiri. Tidak ada yang dapat menjanjikan kehidupan terbaik untukmu di sini.”

Firyal menggeleng kencang, “Tidak bu, tidak, jangan katakan itu padaku. Engkau telah mengandungku, melahirkanku, atas dasar apa aku lari dari pengabdian anak kepada ibunya. Tidak, bu. Aku berhutang nyawa padamu.”

Melati diam. Dia belum tahu, batinnya.

Kalimat panjang Firyal membuat ledakan tangisan dari mulut Melati. Hanum tak mengerti apa yang terjadi. Berkali-kali Melati meminta maaf atas kebohongannya selama ini. Melati memiliki rahasia.

Rahasia…?

“Ada apa Melati, mengapa kau terlihat begitu tersiksa?” ujar Hanum. Firyal menatap sang ibu, rahasia apalagi yang disembunyikan darinya? Pikirannya begitu rumit.

Cerita itu mengalir, rahasia Melati yang sangat mengejutkan di antara isak dan parau suaranya. Cerita belum bertitik, namun Firyal tak sanggup lagi mendengarnya. Dia berlari sekuat tenaga meninggalkan gubuk tua bersama dua wanita yang menyimpan rahasia tentang dirinya. Melati dan Hanum.

Ibu…

*

Haruskah aku membenci mereka? Ibu yang selama 25 tahun membesarkanku penuh cinta, memberikanku kehidupan dan masa depan yang baik.

 Juga, Ibu yang lain yang merawatku selama dua tahun dan rela berbagi ginjal denganku. Tapi cerita hidupku belum usai. Wanita yang aku kira adalah ibu kandungku justru mengaku bukan ibuku. Bukan ibu kandungku! Dia hanya menemukanku di tempat sampah dengan ilitan tali pusar berlumur darah.

Hah, haruskah aku tertawa? Menertawai kisah malang diriku yang tak tahu dari mana aku berasal.

Hahaha, Firyal… engkau tak hanya memiliki dua ibu. Tapi, tiga. TIGA IBU! Atau mungkin ketika kau menemukan  ibu ketigamu bisa saja bertambah menjadi empat, lima, enam, atau ibu yang lain.

Firyal jatuh tersungkur di genangan coklat yang ditinggalkan bocah-bocah tadi. Dia tertawa dalam tangis. Aku punya dua ibu, tidak, melainkan tiga ibu. Haruskah aku senang atas itu? Kepada siapa bakti ini kuletakkkan? Dimana letak syurga yang harus kukecup?


Ibu…

***


Hmmm, duh, sinetron banget gak sih? :D

Bukan Salah Malam



sumber gambar

Dalam sunyi malam ganggang menari...*

Tubuhnya dihempaskan ke dalam lorong panjang nan curam, tercabik-cabik. Tiba-tiba, belum terasa dasar menyentuh kulit, tubuhnya ditarik paksa oleh tangan tak terlihat membawa kembali ke atas. Pun, tercabik-cabik.

Aaaah…!

Dia tersentak, bangun. Nafas tersenggal, memburu bulir-bulir keringat yang mengalir bebas. Tidak ada lorong, hitam, juga cengkraman tak terlihat. Dia mengeja keadaan dengan helaan nafas yang penuh ketakutan.
Kesadarannya pulih. Membangun kekuatan tuk mencapai jendela, menyibak tirai merah, terpaku menatap luar.

Aku benci malam.

*

Sekar perlu polesan bedak lagi agar lingkaran hitam di bawah matanya tertutupi sempurna. Cermin terlalu jujur untuk menampilkan betapa perempuan itu semakin berbeda.

Wajah nan tirus dengan kantung mata tebal menggelayut, tubuh kurus-kuyu, juga binar mata habis dihisap letih, yang tersisa hanyalah sorot kekecewaan dan kemarahan.

Kecewa pada hidup, marah pada malam. Dialah Sekar.

*

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu...*

“Kau perlu istirahat.” Kali kelima Sekar mendengar nasihat dari delapan teman kerjanya yang ada.

Dia mengangguk. Bukan membenarkan, agar mereka terpuaskan lalu pergi. Aku hanya perlu sendiri. Lalu, kembali menekuni laporan-laporan ‘tak penting’ yang sengaja di bacanya. Semua tugasnya telah selesai sejak tadi, dia hanya perlu kesibukan untuk benar-benar waktu yang ditunggunya habis, menjemput pagi.

“Mengapa harus malam?” tanya Sekar terjawab senyuman. “Karena malam adalah selimut terbaik.”

Sekar meremas kertas di genggamannya. Andai bisa, dia juga akan meremas malam yang sangat dibencinya.

Selimut terbaik, hah? Bukan! Kau tak lebih dari selimut jahananam. Aku benci, aku benci!

Kemarahan Sekar datang lagi, sorot matanya menembus kaca, kabut, dan menusuk-nusuk jantung malam yang berdegup dalam kegelapan. Sekar terjaga. Tak mempersilahkan kedua matanya yang buka-tutup mengikuti kodratnya.

Kepada bintang, bulan, kunang-kunang, juga makhluk lain yang berkonspirasi menghidupkan suasana malam, dia tikam dengan tatapan sinis melalui seluruh daya yang tersisa.


*

Langkahnya gontai.

Dia ingin cepat sampai pada ranjangnya yang empuk. Membenamkan kepala di bawah bantal, memeluk guling, menendang-nendang angin yang berhembus di bawah kakinya. Melanjutkan tidur setelah menepuk seekor nyamuk yang berdengung di telinga, seakan mengejek rambutnya yang kusut masai.

Sedikit lagi, tapi dia terlanjur ambruk dengan setengah badan di dalam setengahnya lagi tertinggal di teras rumah.
Sekar tak tahan lagi, setelah tiga hari menahan kantuk dan terus berdiri pada pembenaran dia takkan kalah lagi pada malam.

Dia menantang malam tanpa seduhan kopi bergelas-gelas, tontonan komedi di layar kaca, apalagi sebatang korek yang mengganjal kelopak matanya.

Dia tantang dengan senjata luka yang tertancap kejam di hatinya. Malam adalah musuh, semusuh-musuhnya.

Tapi pagi ini, Sekar menangis sambil memukul-mukul tubuhnya. Burung yang hinggap di dahan pohon terbang, enggan mendengar rintihan penuh sedu dan gugu. Sekar benci harus mengaku kalah. Terus menangis dan mencaci sampai habis seluruh kekuatan yang dia miliki. Tanpa sadar, tertidur dengan air mata yang meleleh di sudut matanya.


*

 Karena malam adalah selimut terbaik.

Jawaban  puitis menggerakkan langkahnya tuk terus maju membelah malam, menemuinya. Seseorang yang memperkenalkan tentang senyum, tawa, kebahagiaan yang bisa di raih tanpa setumpuk lembaran uang atau kilauan emas yang diagung-agungkan teman sejawatnya, apalagi rupa menawan.

Menjejakkan kaki begitu ringan, dia percaya malam akan menyelimuti secuil galaunya yang timbul-tenggelam.

Ketika langkahnya mencapai tujuan. Seseorang yang ditemuinya nampak bak cahaya di antara gelap. Sekar semakin percaya: malam adalah selimut terbaik.

Sekar ingin tertawa sekeras-kerasnya. Menunjukkan pada teman kecilnya dulu, Sekar yang sekarang bukan ‘nenek sihir’ yang harus dijauhi layaknya pengidap penyakit menular. Dia memiliki seseorang yang menganggapnya  sebagai ‘putri cantik’ perlu untuk dijaga dan disayang.

 Ah, andai saja pangeranku tidak memilih malam. Dunia pun akan menyaksikan kebahagiaan kami.

 Tangan terbentang lebar, Sekar jatuh dalam pelukannya. Pelukan malam.


*

Karena malam adalah selimut terbaik.

Sekar masih percaya. Sekalipun si pemilik  jawaban itu terus bersembunyi dalam gelapnya.
“Aku harus pergi.” Tunggu, Sekar bersimpuh menahan laju kaki yang terus melangkah. Dia terseret. “Aku mohon, bertanggung jawablah…”

Sekar tak melepaskan pegangannya. Terseret di aspal, sampai panas menjalar di perutnya yang membuncit. Dia menyerah. Kaki itu bebas berlari meninggalkannya. Menghilang di telan malam.

*

 Karena malam adalah selimut terbaik.

Dia percaya meski tak sepenuhnya. Malam akan membekukan nyeri di tangan kanannya yang pelan mengetuk pintu, juga hati dua orang yang teramat terluka karena bunga harapan yang disiram penuh kasih sayang layu sebelum berkembang.

“Jika datang untuk mencoreng muka bapak-ibumu, sebaiknya kamu tak pernah datang atau lebih baik lagi jika kamu tak pernah ada.”

Sekar menelan bola api kemarahan itu bulat-bulat. Aku pantas mendapatkan ini. Dia keluar dari rumah berpagar bambu yang dua puluh satu tahun ditempatinya. Seiring langkahnya puluhan pasang mata mengintip dari kegelapan malam, hitam padat mengaburkan seringai jijik melepas ‘sampah masyarakat’ yang ditakutkan menulari kampung mereka.

“Dasar lonte!” angin malam mengantarkan bisikan itu ke telinga Sekar yang berjalan tanpa berpaling sedikit pun.

*

Karena malam adalah selimut terbaik.

Sedikit sekali yang tersisa untuk dirinya percaya. Tapi, takdir menentukan malam inilah saatnya. Sekar mengejan di antara genangan ketubannya yang pecah. Berjuang sekuat tenaga menggadaikan nafasnya demi nafas baru yang sedianya menatap dunia tuk pertama kali.

Malam terlalu gelap untuk menangkap kerut kematian di wajahnya yang pasi. Tangannya bergetar meraba tali yang melilit si bayi mungil tak bersuara. Sambil menggigit keras bibir bawahnya, dia memutus tali itu dengan kukunya.
Rasa sakit, perih, nyeri, tak sebanding dengan naruni keibuannya yang menghentak seluruh tubuhnya tuk tetap bertahan.

Sekar mendekap buah hatinya begitu erat. Dia ingin melihat wajah, senyum, juga bola mata sang anak. Tapi, tidak ada suara. Tangisan, mana tangisanmu anakku? Sekar memukul-mukul tubuh sang anak. Sunyi.
Tangisan itu pun pecah. Bukan, bukan tangisan dari mulut si bayi melainkan Sekar yang sadar di dekapannya hanyalah seonggok daging tanpa jiwa. Dia memeluknya penuh kasih sayang, menciuminya penuh cinta, rantaian air mata di pipinya terasa hangat.

Sungguh kontras dengan hatinya yang membeku, sebeku udara malam ini.

*


Karena malam adalah selimut terbaik.

Sekar telah sepenuhnya tak percaya. Terkikis oleh waktu. Dia membenci malam juga sekutunya yang membiarkan dirinya berjalan menuju kehancuran. Menyaksikan dalam kebisuan bara derita yang diinjak perempuan itu bertahun-tahun lamanya.

Malam yang dengan congkak berpesta penuh cahaya, sementara dia sendiri menghitung hari yang telah dilaluinya penuh kegelapan.

Sekar membenci malam.

*

Sekar terjaga dari 'tidur panjang'. Perjalanan hidupnya yang membenci malam, berakhir di titik nadir. Dia tahu, dia tak sedang membenci malam seperti yang dirasakannya selama ini atau mungkin  benar dia memang membencinya, tapi 'malam' yang lain.       

Dia benci noda hitam hidupnya. Dia benci kekelaman hatinya. Dia benci kepekatan dustanya. Dia benci gulita yang diciptakannya sendiri.

Sesungguhnya, dia membenci dirinya sendiri.

Dengan kerendahan hati, dia datang mengetuk malam. Dan malam membuka tabir yang menutupi sebuah lukisan wajah berkanvas awan. Sekar tersenyum.

Malam adalah dirinya.

 Mulai kelam
 belum buntu malam
 kami masih terjaga…*



Di bumi Arafah, Di bawah langit bermata satu, 7-7-2011


* Puisi-puisi dikutip dari kumpulan puisi karya Chairil Anwar.
** Cerpen ini diterbitkan dalam antologi cerpen "Karena Aku Tercipta Istimewa" penerbit Medika.

Letter To Remember

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Taryanti Octaviani

Untuk sahabat yang selalu membuatku tersenyum…


Itu kamu, Tar.
Yang datang membawa keceriaan di tengah sumpeknya kelas kecil berisikan bocah-bocah tengil bin lincah. Teman-teman kita. Anak pindahan yang penuh percaya diri. Mengisi bangku kosong lajur tiga, lengkap sudah meja kita. Aku: (dulu) si pemalu, St. Faidzah Amalia: (dulu dan sekarang) si cantik dan baik hati, dan kamu, Taryanti: (selamanya) si ceria nan lucu.

Mengapa?
Haruskah aku bertanya pada Tuhan mengapa kita dipertemukan di SD 01, duduk sebangku terus hingga kelas enam, berteman, beranjak pada tingkat ‘sahabat’, saling mengunjungi rumah hingga keluargaku hanya mengingat kamu sebagai teman SD-ku, bertemu di SMP ONSIT meski beda kelas (komunikasi masih lancar, sampai lelaki yang disukai kita sama-sama tahuJ), bersua kembali di SMA MADOE (52) bersama-sama sibuk mengurus sekolah alih-alih mencoba mandiri tanpa bantuan orang lain diselingi bincang-bincang tentang masa depan di KWK (kita akan bersama kembali di UI, ingatkah kamu?), pergi dan pulang sekolah selalu bersama (aku terlalu takut untuk pergi sendiri) hingga malam terakhir aku datang ke rumahmu untuk pamit meninggalkan sekolah, meninggalkan Jakarta, dan yang berat adalah….meninggalkan kamu, sahabatku.

Tidak, Tar….
Aku takkan bertanya ‘mengapa’ karena semua kenangan itu adalah jawaban yang berbisik padaku, “Inilah takdir, maukah kamu percaya?”


Yah, aku percaya! Sangat!
Percaya bahwa kebersamaan kita adalah pelengkap cerita masa kecil yang memang dan harus dikenang.

Belajar bersama, kumpul-kumpul di rumah Ratna, di kejar Asep (mengejeknya si gendut) sampai harus ngumpet di kolong meja, jadi bahan ledekan Paklik (kamu tahu itu kan ‘Lativi tombol dua’) membuat gantungan dompet: kamu ‘Red’ aku ‘Blue’, bermain benteng, latihan senam poco-poco, pergi berenang dan kamu mendorongku ke kolam untuk anak-anak: aku tak bisa berenang, Tar) banyak sekali kepingan mozaik yang jika tersusun aku bisa gila karena menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan.
Kita punya PR untuk menyatukan mozaik-mozaik itu dan menjadikannya utuh, ketika kita berjumpa dan duduk di samping rumahmu yang segar oleh tiupan angin sore, lagi.

Aku menunggu hari itu.

Ah, sudahkah kita bersyukur atas pertemuan bertahun-tahun silam maupun perpisahan empat tahun yang lalu? Kita patut melakukan itu. Aku baru saja melakukannya, setelah membaca tulisanmu, tentunya. (Terima kasih kembali, namaku masih ada dalam ingatanmu)

Tar, semoga kamu sedang tertawa seperti biasanya  jangan sepertiku. karena sampai disini aku berubah jadi melankoli amatiran dan membasahi keyboard dengan air mata. PayahL


Tar, ini adalah lembaran kedua untuk menulis tentang kamu…
Hari ini, jam ini, detik ini, aku hanya ingin menulis tentang kamu, dan bagaimana kamu mewarnai separuh perjalanan hidupku.

Ketika ada kesempatan kembali ke Jakarta, sejak dari bandara aku selalu terbayang satu rumah yang amat-sangat ingin aku kunjungi. Yaitu, rumahmu. Aku tak pernah melupakan rute menuju rumahmu yang bertahun-tahun lamanya aku lewati, tak jadi masalah Sarang Bango banyak berubah. Seperti kita, bukan lagi anak kecil berkucir dua yang mengoleksi bermacam-macam bando dan jepitan. Kita akan menyapa usia kepala ‘2’ dengan tampilan baru, pemikiran baru, masalah baru, yang pasti sebuah kehidupan baru. Lalu, dihadapkan banyak pilihan yang menentukan kehidupan kita selanjutnya. Aku berdoa yang terbaik untukmu.

Aku memilih untuk menjadi seorang penulis, bukan dokter sebagaimana cita-cita awal nan dadakan ketika guru bertanya. Dan biar kutebak, kamu sedang berjalan menuju puncak ‘teaterawan’, betulkah itu? Di SMA, aku tak habis pikir kamu memilih ekskul Teater, melihatmu berakting suatu kebanggaan memiliki teman seperti artis (hehehe)
Suatu saat nanti, maukah kamu memainkan sebuah drama dengan naskah buatanku? Aku akan mempersiapkannya, sebaik-baiknya demi kamu. Aku tunggu jawabannya.


Tar,
Bagaimana aku mengakhiri tulisan ini jika menekan tuts dan merangkai kisah kita adalah kebahagiaan yang menyejukkan. Mengingat kamu, mengingat persahabatan kita, mengingat sepeda tua kita, mengingat saat tertawa, saat menangis, saat marahan, saat baikan, saat tersipu malu, saat…. saat aku memohon pada Sang Pemilik Waktu agar memori ini jangan terhapus, jangan terkikis, tersamarkan, dan yang lebih menakutkan lagi jika harus terlupa dan menghilang dari ruang ingatan kita yang setiap hari penuh dengan memori baru. Jangan, aku tak mau itu.
Aku selalu berdoa pada-Nya, bantulah aku dengan doamu juga. Sampai saat dimana waktu yang memisahkan kita berbaik hati untuk menyatukan kita kembali, bukan untuk mengulang kisah lalu (karena yang lalu akan selamanya seperti itu) tapi untuk mengukir cerita baru, tentang kamu dan aku. Tentang, kita.


Di ruang kertas terakhir ini, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untukmu Taryanti, sahabatku yang menjadi pelangi di dalam hidupku. Atas kesediannya berbagi tawa, menghapus air-mata, mengukir cita, juga kesempatan untuk tahu bahwa aku orang beruntung yang memiliki seorang ‘sahabat’ sepertimu.
Semoga tulisan ini dapat menggantikan sementara semua ucapan yang ingin aku utarakan padamu, juga seluruh rinduku padamu. Suatu saat nanti, sampai tak ada lagi jarak. Aku dan kamu di hadapan sawah yang menghijau. Terbentang. Yah, bicara tentang  apa saja asalkan bukan gosip kacangan, bagaimana kalau tentang masa depan, kesibukan, impian, kisah saat SD, SMP, atau siapa ‘dia’ yang ada di sampingmu dalam foto profil (hahaha)?

Ehm, Punya ide lain?

 Makassar, 30 Juli 2011

* selamat menjalankan bulan suci ramadhan, semoga bulan ini adalah bulan terbaik dari sekian banyak ramadhan yang telah kamu lalui....(amiin)

Bernama Piety Class

Bissmillahirrahmaanirrahiim.

Piety Class, saat kelas 1 SMA.
Ketika alam belum menyeleksi, membekukan kenangan selaksa mengunci raga kita pada selembar kertas. Tetap saja, bernama kenangan. Senang menjadi bagian dari kalian. Lupakan tentang hitam, apatah putih, sebab tahun-tahun berjalan...kita mengukir pelangi. Berwarna-warni. Uhibbukum fillah...


Friday, May 18, 2012

Nockturne

Bismillahirrahmaanirrahiim



Adalah manusia malam yang berkemul dalam pekat hitam. Memburai awan mencari bulan. Menemukan sinar di lipatan sajadah tua, ayat-ayat menerbangkannya. Damainya menggema; memanggil kunang-kunang. Sejuta kali menjemput pagi, berbahasa manusia.

Malam ini,

manusia malam bercengkrama, pada jendela-jendela yang terbuka. Membisu pada hati. Nockturne.

Thursday, May 17, 2012

Filantropi

Bismillahirrahmaanirrahiim.


Mengapa aku memaku mata pada mata, lalu datanglah; diskusi, debat, teguran, desakan, pertanyaan, pujian, cerita, tangis, tawa, suka, lara, bahagia, derita,

Sajak-sajak kelopak membuka, mawar menancapkan durinya pada bola-bola liar yang mengaliri darah segar.

Mengapa aku mengunci mata pada mata, lalu menasbih; diskusi, debat, teguran, desakan, pertanyaan, pujian, cerita, tangis, tawa, suka, lara, bahagia, derita,

Sajak-sajak kantung mata melabuh air mata, melati mewangi menjelma pelukan suci.

:Mata serupa jendela hati

Aku memaku dan mengunci.

Tuesday, May 15, 2012

Mari Menuai

Bismillahirrahmaanirrahiim


Di penghujung April, saya menyambut Bidadari Mei dengan satu tulisan berjudul "Menulis: Biarlah Tetap Pada Jalurnya" sebagai note lomba di Pesantren Penulis. And then, I got it. Hehe, maksud saya, Alhamdulillah saya keluar menjadi pemenang (^_^b). Nah, hari ini tepat pertengahan bulan, 'bibit' yang saya tanam tumbuh dan siap tuai.

So, this is it . . .

Paket buku hadiah pemenang lomba menulis Keshalehan Jalan Pena. Kira2 buku apa yah?


Inilah isinya. Yang di tengah kelihatan lezat. Tinggal tunggu waktu saya akan melahapnya. :P





Ketiga buku di atas adalah karya kak Dwi Suwiknyo, SEI.,M. SI, pendiri Pesantren Penulis.
Sudah banyak buku yang beliau terbitkan. Dan tentunya, tulisan yang berorientasi pada dakwah.
Kalo mau kenalan yah silahkan di add saja FBnya. :))


Oia ini rincian 3 buku di atas:


1. Pengantar Akuntansi Syariah

Aduh, agak berat juga yah. Tapi tak apalah, buku yang sia-sia adalah buku yang tak dibaca.

Buku ini didesain bagi proses pembelajaran akuntansi syariah 
di kalangan akademisi perguruan tinggi maupun juga praktisi 
yang membutuhkannya sebagai alat evaluasi.


2. Menulis Tradisi Intelektual Muslim

Tak sabar ingin baca nih...Yummyyyyyy :))
Buku ini ditulis borongan oleh kawan-kawan penulis lainnya, seperti; 
Iva Avianty, Edo Segarat, Triani Retno, dkk.
Sangat menarik untuk dibaca sebagai suplemen dalam menulis. Terutama saya. hehe.


3. 3 Kunci Lepas Subsidi

Ayolah kawula muda, lekaslah menjadi mandiri. Jangan terus jadi anak mami...hehe

Buku ini adalah buku seri keuangan remaja. Sang penulis memaparkan bagaimana
langkah-langkah menjadi pribadi mandiri yang mampu memenej keuangan. Tanpa
harus mengandalkan subsidi dari orang tua.


###

Yah, kurang-lebih hanya itu yang bisa saya share untuk malam ini. 
Bagi yang berminat baca, hubungi saya. Silahkan ambil nomor urut di kasir terdekat. wkwkw
Namun, akan lebih baik jika anda membelinya. Sedikit lebih terhormat. (Wualah, suombong deh.)


"SAHABAT BAIK BAGIKU ADALAH SESEORANG YANG MENGHADIAHIKU BUKU YANG BELUM PERNAH KUBACA"
(Abraham Lincoln)


Alhamdulillah ala kulli hal. Asykuru ilallah.


Saturday, May 12, 2012

If I'm In Love

Bismillahirrahmaanirrahiim.


Saya jatuh cinta.


Akhir-akhir ini saya selalu memikirkannya. Tiap detik mungkin. Segala indikasi kena penyakit C-I-N-T-A (menurut buku) ada pada diri saya. Bersemu pink pipi saya, bunga-bunga berjatuhan, terputar lah suara Celine Dion dengan When I'm Falling in Love yang menyemarakkan panggung asmara.
 
Saya tidak tahu definisi cinta, jika memang perasaan itu bisa dijabarkan oleh kata-kata. Tapi percaya atau tidak perasaan ini teramat baru saya rasakan, lalu harus saya beri nama apa jikalau bukan, "Cinta. Yah ini cinta!"

#

3 Jam berpikir.

#

 I'm not the expert about love.

Oh, sebenarnya saya belum yakin. Bisa saja bukan, lalu saya salah memberikan nama. Saya tidak mau terburu-buru. Jadi, maaf...saya tarik kembali tulisan saya.

Saya (mungkin) jatuh cinta.


#Don't be surprisse. Just imagine if I'm in love. Haha, silly me!!!!!!! :))


Monday, May 7, 2012

Chapter #1 : Dialog

Bismillahirrahmaanirrahiim.

#1

Ibu    : Nak, pengemis itu tak percaya ibu tidak punya uang sepeser pun.
Anak : Kenapa, bu?
Ibu    : Hanya karena baju yang ibu pakai terlihat bagus.

#2

Anak : Bu, Pak Guru tak percaya kalau aku nunggak SPP 2 bulan.
Ibu    : Kok, bisa?
Anak : Katanya, wajahku tidak seperti orang miskin.

#3

Ibu    : Nak, apa yang harus kita lakukan?
Anak : Apa yang ibu lakukan, aku akan melakukannya juga.
Ibu  : Tidak, cukuplah kamu aminkan. Ibu hanya ingin berdoa, padamkan amarah oleh kesyukuran.

#4

Ibu    : [menunduk] berdoa [dalam hati]
Anak : [menatap ibu] amiin [dalam hati]